Bahagianya punya temen-temen seperti mereka. Selalu peduli.
Setidaknya membaca yang sudah dengan susah payah kita narasikan. Walaupun
mungkin saja belum tersampaikan dengan baik. maafkan :(
Kebetulan teman-teman saya ini punya aktivitas, pekerjaan
dan latar belakang pendidikan yang berbeda satu sama lain. Namun pada
hakikatnya kita semua punya satu kesamaan. Apa itu? Cinta. Cinta pada siapa?
Yang pasti, cinta suci untuk bumi. Ini dia rekam komentar mereka tentang postingan
saya kemaren. Cekidot!
Tambah ciek
lai la,,kurangi pemakaian plastik alias diet kantong plastik,,klo dsiko
supermarket ndk ado maagiah kantong lai do,,urg baok tas blnjo sorg atw pke
kardus la. (Nah. karena ini pake bahasa minang maka akan
saya translate-kan untuk teman-teman yang lain). Vioni berkata, “Tambah satu
lagi la..kurangi pemakaian plastik alias diet kantong plastik. Kalau disini (di
Jepang maksudnya karena Vioni sedang melanjutkan pendidikannya di negeri sakura
in), supermarket tidak lagi menyediakan kantong plastik. Setiap orang membawa
tas sendiri ketika berbelanja atau dengan menggunakan kardus”.
Della Syahni (Della masih sempat baca dan komentari tulisan saya saat sibuk bolak balik Indonesia - Arab Saudi)
Tambah duo
lai yang ringan dan yang barek la. Yang ringan mencabut semua colokan yang
tidak digunakan. Yang barek diet kertas. Apalagi di kantor pemerintahan la. Tilla
mungkin bisa usul di kantor untuk segera pindah ke digital semua jenis memo dan
surat kantor hehe.. Nah, ini juga akan dengan senang hati saya terjemahkan.
Della berkata, “Tambah dua lagi, yang ringan dan yang berat la. yang ringan,
dengan mencabut semua colokan yang tidak digunakan..(yang lain sudah dalam
bahasa Indonesia. Haha).
Ardi Kidd (Ardi saat ini sedang
melanjutkan kuliah arsitekturnya di Florida, Amerika Serikat)
Ardi
berkata:
Cakepp, ayo
diterusin kak kampanyenya.
Di Bandung kita punya Forum Hijau Bandung (FHB) yang isinya komunitas-komunitas hijau seperti Bikers, Berkebun, Walhi, Institusi Hijau, ada juga unit kegiatan mahasiswa hijau seperti U-Green ITB, semuanya gabung disini buat nyebarin pola hidup hijau. Ada banyak cara sederhana untuk mengurangi dampak pemanasan global, efisiensi energi, dan menjaga keseimbangan alam, 50 kebiasaan yang bisa dibentuk dari diri pribadi ada di link ini.
Soal pemanfaatan sumber daya alam sebagai sumber energi terbaharukan masih jadi masalah di Indonesia, yang paling memungkinkan di Indonesia dengan manfaatin energi kinetis air, angin atau tenaga solar. Ada teknologi menarik di Belanda, mereka memanfaatin gerakan ombak air, gerakan ombak ini menggerakkan panel yang terapung diatasnya, energi kinetis yang dihasilkan kemudian dikonversi menjadi energi listrik. Kebetulan salah satu mahasiswa ITB pernah bikin alat sederhananya dan berhasil. Masih banyak lagi yang lain seperti windmill, solar panel, dll. Tapi ada 'main-main' keknya sehingga teknologi tadi belum masuk ke Indonesia sedangkan Professor di Indonesia pada belajar disana. Harga mesin-mesin tersebut super mahal, tapi Indonesia g mau produksi. Ada negara lain yang mengkontrol energi di Indonesia, karena kalau kita mandiri energi, ada negara2 yang bakal down.
Masih inget kejadian sukoi yang jatuh di Gunung Salak tahun kemarin? kebetulan aku ikut jadi relawan disana, kali pertama naik gunung. Kenapa waktu sukoinya jatuh transmitternya g berfungsi? biasanya kalau pesawatnya jatuh maka transmitternya akan nyala sehingga lokasi jatuhnya pesawat bisa diketahui. Ternyata sinyal di gunung salak sudah di cover oleh Amerika supaya g ada yang bisa membuat rekam wilayah, why? cerita temenku, disana ada sumber panas bumi terbesar di Indonesia, siapa yang kelola? ya Amerika tadi, sumber panas bumi ini jadi sumber pembangkit listrik dan listriknya di jual kembali ke Indonesia. Selain energi kita dicuri, adanya eksplorasi panas bumi tadi berdampak pada pengurangan debit air tanah, yang kasihan masyarakat setempat.
Itu baru satu kasus, masih banyak lagi yang lain seperti Freeport, dan temen-temennya. Jadi berbicara soal hijau bukan hanya soal energi dan alam tapi juga soal moral/attitude dan kesadaran.
Halahh, selalu jadinya komentar kepanjangan gini. Maaf maaf.
Itu dia tiga komentar yang kemaren masuk ke akun
facebook saya. Dan saya yakin, masih banyak teman-teman kita yang peduli di
luar sana. Salam bumi!
Di Bandung kita punya Forum Hijau Bandung (FHB) yang isinya komunitas-komunitas hijau seperti Bikers, Berkebun, Walhi, Institusi Hijau, ada juga unit kegiatan mahasiswa hijau seperti U-Green ITB, semuanya gabung disini buat nyebarin pola hidup hijau. Ada banyak cara sederhana untuk mengurangi dampak pemanasan global, efisiensi energi, dan menjaga keseimbangan alam, 50 kebiasaan yang bisa dibentuk dari diri pribadi ada di link ini.
Soal pemanfaatan sumber daya alam sebagai sumber energi terbaharukan masih jadi masalah di Indonesia, yang paling memungkinkan di Indonesia dengan manfaatin energi kinetis air, angin atau tenaga solar. Ada teknologi menarik di Belanda, mereka memanfaatin gerakan ombak air, gerakan ombak ini menggerakkan panel yang terapung diatasnya, energi kinetis yang dihasilkan kemudian dikonversi menjadi energi listrik. Kebetulan salah satu mahasiswa ITB pernah bikin alat sederhananya dan berhasil. Masih banyak lagi yang lain seperti windmill, solar panel, dll. Tapi ada 'main-main' keknya sehingga teknologi tadi belum masuk ke Indonesia sedangkan Professor di Indonesia pada belajar disana. Harga mesin-mesin tersebut super mahal, tapi Indonesia g mau produksi. Ada negara lain yang mengkontrol energi di Indonesia, karena kalau kita mandiri energi, ada negara2 yang bakal down.
Masih inget kejadian sukoi yang jatuh di Gunung Salak tahun kemarin? kebetulan aku ikut jadi relawan disana, kali pertama naik gunung. Kenapa waktu sukoinya jatuh transmitternya g berfungsi? biasanya kalau pesawatnya jatuh maka transmitternya akan nyala sehingga lokasi jatuhnya pesawat bisa diketahui. Ternyata sinyal di gunung salak sudah di cover oleh Amerika supaya g ada yang bisa membuat rekam wilayah, why? cerita temenku, disana ada sumber panas bumi terbesar di Indonesia, siapa yang kelola? ya Amerika tadi, sumber panas bumi ini jadi sumber pembangkit listrik dan listriknya di jual kembali ke Indonesia. Selain energi kita dicuri, adanya eksplorasi panas bumi tadi berdampak pada pengurangan debit air tanah, yang kasihan masyarakat setempat.
Itu baru satu kasus, masih banyak lagi yang lain seperti Freeport, dan temen-temennya. Jadi berbicara soal hijau bukan hanya soal energi dan alam tapi juga soal moral/attitude dan kesadaran.
Halahh, selalu jadinya komentar kepanjangan gini. Maaf maaf.
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan dikomentari. Kritikan pedas pun tetap saya terima sebagai ajang pembelajaran kedepannya. Terimakasih :)