Jumat, April 19

Jika ini pilihanmu, berbahagialah untukku

Diposting oleh Orestilla di 08.44.00

Kisah yang akan kuceritakan mungkin bukan kisah yang menarik bagi banyak orang, tetapi terlalu berharga untuk kubuang dan kulupakan. Berharap cerita yang akan kubagi bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang sedang membaca tulisan ini.
Teruntuk seseorang yang dulu pernah mengisi relung hatiku..
Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah ada sampai saat ini. Meskipun kita memulainya dengan cara yang berbeda. Berbeda karena pertama kali aku bertemu denganmu yang kurasakan bukanlah cinta tetapi benci. Walaupun sekarang pada akhirnya kusadari bahwa terdapat perbedaan yang sangat tipis antara cinta dan benci.
Kejadian ini berlangsung di tahun 2003, sembilan tahun yang lalu. Saat kita masih berseragam abu-abu. Masa pencarian jati diri, begitu kita menyebutnya. Ditempatkan di kelas yang sama denganmu, tak berarti membuatku jatuh cinta sedari awal. Bagiku yang saat itu belum pernah sama sekali mengenal yang namanya cinta, pertemanan menjadi pilihan terbaik. Dimata gadis remaja sepertiku, dirimu adalah sosok teman yang bisa diandalkan untuk berbagi banyak ilmu dan pelajaran. Pengalaman hidupmu yang lebih banyak, membuatku berpikir betapa beruntungnya aku memiliki teman sepertimu. Bersama rekan sekelas lainnya, seringkali kita berdiskusi tentang banyak hal terutama pelajaran-pelajaran di sekolah. Menyenangkan walaupun hanya untuk beberapa bulan saja. Mengapa? Karena ada segelintir orang yang merasa terganggu dengan kedekatan kita, meskipun hanya dalam hubungan pertemanan biasa. Harga diriku sebagai perempuan terusik dan kuputuskan untuk tidak lagi dekat denganmu, sama sekali tidak.  Bahkan hanya untuk menegurmu ketika kita berpapasan di kelas. Kurasa hal itu pulalah yang akhirnya membuatmu sedikit demi sedikit mulai menjauh dariku dan tidak lagi menganggapku sebagai teman. Namun, tanpamu hari-hariku tetap berlalu dengan sangat baik karena ada begitu banyak sahabat disekelilingku. Ketidakadaanmu tak memberi banyak pengaruh bagiku saat itu.  
Tuhan berkata lain. Lewat sebuah kejadian kecil, aku dan kamu memulai lagi pertemanan itu. Terkadang sungguh lucu ketika mengingatnya kembali. Betapa ego remaja kita memberi begitu banyak warna. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah pengakuanmu setelah itu. Hanya berselang beberapa bulan saja kamu memintaku untuk menjadikanmu sebagai teman dekat. Sungguh kejadian yang tak akan pernah kulupakan. Dengan banyak pertimbangan, kuterima permintaanmu. Walau hati tak sepenuhnya mengerti, bagaimana mungkin seseorang yang dulu kubenci dan membenciku bisa memiliki rasa sayang itu dihatinya? Dan yang tak kalah herannya, mengapa perasaan seperti itu juga tumbuh dihatiku? Mungkin inilah yang namanya cinta. Kita tak pernah tau kapan ia datang, pada siapa dan bagaimana caranya menghampiri sisi-sisi kehidupan. 15 Mei 2005. Hari yang sangat membahagiakan, untukku, untukmu dan untuk kita.
Perjalanan waktu menghadiahkan banyak pelajaran, baik itu lewat kebahagiaan, tangisan, luka dan airmata. Namun ketika perjalanan itu kulewati bersamamu, kesakitan  menjadi indah dengan sendirinya. Cinta memang mengindahkan segala yang ada. Terlalu berlebihan mungkin, tapi akan ada banyak yang mendukungku, berada tepat dibelakangku ketika kulemparkan pernyataan seperti itu. Kusadari bahwa tanpamu aku tak akan memiliki banyak kekuatan untuk bertahan. Bagiku, dirimu tak hanya tempat untuk berbagi bahagia tapi juga sandaran ketika kesedihan menikamku, ketika duka menghampiri. Begitupun sebaliknya kamu. Bahagiaku bertambah tatkala aku tak hanya menjadi perempuan yang kamu temui dengan tawa, tetapi juga saat matamu berlinang airmata. Walaupun tak sering hal itu kamu perlihatkan didepanku. Karena dirimu selalu berusaha untuk menjadi lebih tegar dan lebih kuat untukku.
Masa-masa sekolah menjadi masa yang paling indah. Setidaknya untuk kita berdua. Waktu berlalu begitu cepat, satu bulan, dua bulan, dan seterusnya. Untuk kemudian, masa depan yang yang sesungguhnya telah menanti di depan. Satu tahun bersamamu bertepatan dengan perjuangan berat kita untuk memperoleh kelulusan dengan nilai terbaik. Belajar bersama, saling berbagi ilmu dan informasi, ah betapa menyenangkannya melakukan itu semua bersamamu. Dan harapan kitapun dijamah Tuhan. Kelulusan itu kita raih dengan nilai yang sangat memuaskan.
Dengan segala usaha dan jerih payah mengikuti banyak tes, akhirnya aku diterima di sebuah Sekolah Tinggi Pemerintahan yang jaraknya jauh dari tanah kelahiranku. Aku tahu ini juga jalan yang sedang dipilihkan Tuhan untukku. Bahagia? Tentu saja. Tak banyak yang memiliki kesempatan seperti yang sudah ada digenggamanku. Tak ingin sedikitpun kulewatkan kesempatan yang telah dititipkan Tuhan untukku. Namun ada satu hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Perpisahan.Ya. Berpisah denganmu untuk waktu dan jarak yang terbentang ribuan kilometer. Mampukah kita? Kuyakinkan hati untuk bertahan tapi tidak denganmu. Kamu memilih untuk mundur dan melepasku melangkah keduniaku yang baru. Hatiku tercekat saat dirimu memintaku untuk melupakan semua yang telah kita lewati. Namun apa daya yang ku punya? Tak ada yang bisa kulakukan selain melepasmu dengan ikhlas walaupun itu semua tak mudah bagiku. Mencoba berdamai dengan keadaan, mencoba meyakinkan hati dan perasaan bahwasanya cinta yang kupunya tulus untukmu. Cinta yang tak hanya bahagia ketika bersama tetapi juga saat ragamu tak lagi jadi milikku. Maka melangkahlah aku ke kehidupanku yang baru. Bersama lingkungan dan orang-orang yang tidak kukenal sama sekali. Tapi kupastikan pada diriku sendiri bahwa ini semua hanya masalah waktu. Tak butuh waktu yang lama untukku menjadikan mereka semua keluarga. Memang sulit menjalani hidup jauh dari orang-orang yang kita sayang dan menyayangi kita. Namun apapun rintangannya, semua kujalani dengan kesabaran dan keihkhlasan. Lalu dengan semua kebahagiaan baru yang kuperoleh disana, lupakah aku denganmu? Tidak. Sama sekali tidak. Walaupun kamu bukan lagi seseorang yang menempatkanku dihatimu seperti dulu, aku masih mencintaimu, menempatkanmu disudut hatiku yang paling dalam. Menjaga segalanya tetap seperti dulu. Tapi bukan lagi untukmu, kulakukan hanya untuk diriku sendiri.
Namun sepertinya dirimupun terlalu lelah menjalani hari-hari tanpaku. Kamu memintaku kembali. Meyakinkanku lagi bahwa apapun yang telah kamu putuskan dulu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terbesar yang pernah kamu lakukan untuk kita. Betapa lunglainya hatiku karenamu. Betapa sia-sianya tenaga yang kukerahkan untuk membangun banyak pertahanan agar bisa terlihat kuat di mata semua orang yang ku kenal. Namun, dengan begitu banyaknya cinta yang kupunya, kuterima lagi permintaanmu untuk yang kedua kalinya. Aku mencoba meyakinkan lagi hatiku untuk merengkuh kembali kebahagiaan yang dulu pernah kita miliki. Dan dimulailah hubungan jarak jauh itu. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar dan bukan sesuatu yang mudah untuk menjalani sebuah hubungan yang terpisahkan oleh jarak. Betapa sakitnya menahan sebuah kerinduan. Betapa berharganya waktu ketika aku memiliki kesempatan untuk pulang, bertemu denganmu. Betapa beratnya perjuangan yang kita lalui untuk meyakinkan semua orang bahwa kita benar-benar bahagia dengan segala yang kita miliki. Betapa bangganya aku padamu, yang dengan banyak pengorbanan, kesabaran dan kesetiaan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Walaupun aku tahu, tak banyak yang bisa kulakukan untukmu saat itu. Namun, dengan semua kekurangan yang kupunya, aku semakin berusaha untuk membahagiakanmu. Dalam setiap sujud, ku selalu berdoa untukmu, untuk keabadian cinta kita. Memohon pada-Nya agar selalu menjaga apa yang telah kita perjuangkan selama ini. Meminta agar Dia selalu menjaga hatimu untukku dan hatiku untukmu.
Waktu berlalu, tahun demi tahun berjalan dan akhirnya tiga tahun itupun mampu kita jalani dengan sangat baik. Walaupun ada begitu banyak kesedihan dan airmata. Tapi ujian itu telah kita selesaikan dengan nilai terbaik, lagi. Aku kembali ke kampung halamanku, berkumpul dengan keluarga dan tentunya tak lagi harus menjalani hubungan jarak jauh denganmu. Aku benar-benar bahagia. Membayangkan bahwa jarak tak akan menjadi alasan bagi kita untuk memendam kerinduan dan kesedihan. Kebahagiaan pun menjadi milik kita lagi. Kali ini walaupun harus terpisahkan jarak beberapa puluh kilometer, kita tak menganggapnya sebagai rintangan besar seperti dulu Hidup di dua kota yang berlainan, dengan kesibukan kita masing-masing, selalu tersedia waktu untuk bertemu denganmu sesering yang kita bisa. Meskipun harus menunggu akhir minggu untuk berada didekatmu, aku benar-benar  bahagia.
Namun Tuhan akhirnya menguji ketulusanku. Setelah hampir tujuh tahun menjalani hidup bersamamu, aku pun tahu bahwa dihatimu telah ada perempuan lain. Perempuan yang dengan cintanya membuatmu berpaling dan mengesampingkan perasaanku, melupakan keberadaanku. Kucoba untuk berpikir sebaik yang aku bisa. Menyalahkan keadaan pada diri sendiri, kurangkah perhatianku untukmu? Terlalu lelahkah kamu untuk meneruskan perjuangan kita hingga akhirnya nanti? Begitu burukkah sikap-sikapku yang tak sesuai dengan prinsip hidupmu? Tapi sampai detik ini tak satupun kutemui jawaban itu. Kamu hanya menjawab semua pertanyaanku dengan diam. Betapa semua ini membuatku hancur dan berantakan. Asa yang telah kugantungkan setinggi mungkin tiba-tiba lenyap dalam sekejab mata. Kamu yang kujadikan sandaran agar ku selalu kuat untuk tetap berdiri menantang dunia, pergi dan tak pernah sedikitpun menoleh ke belakang untuk melihat kerapuhanku. Waktu seakan menghentikan duniaku. Betapa kejamnya dirimu. Ingin rasanya aku menatap jauh ke dalam matamu dan bertanya, ada apa dengan semua ini? Tetapi jangankan bertanya seperti itu, bertemu denganku pun kamu tak lagi mau. Bagimu aku hanyalah seonggok daging tak berperasaan yang dengan mudahnya kamu tinggalkan saat dirimu menemukan seseorang yang lebih baik. Seseorang yang dengan banyak kelebihan akan memberikanmu kebahagiaan dan ketenangan yang tak mampu kupersembahkan lagi untukmu.
Begitu pentingkah arti kesempurnaan untukmu? Begitu burukkah aku dimatamu? Apakah waktu yang kita habiskan selama tujuh tahun ini benar-benar tak memiliki arti sama sekali? Benar-benar tidak pantas lagi untuk kita pertahankan? Teringat ketika pertama kali aku memutuskan untuk menerimamu hadir dalam hidupku. Teringat bagaimana saat itu aku berjanji akan menjaga cinta yang kita punya, saat aku berusaha menerima segala kekuranganmu, menjadikannya tiada dengan menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan kelebihan yang ku punya. Teringat bagaimana susahnya kita untuk selalu bersama walaupun harus selalu dengan berlinang airmata. Teringat bagaimana bahagianya ketika aku melihatmu tertawa saat kita menghabiskan banyak waktu mengitari kota. Teringat bagaimana lelahnya aku menjaga semua kepercayaan yang kamu titipkan padaku saat aku jauh darimu. Aku selalu berharap kamu juga akan melakukan hal yang sama untukku. Namun, sekarang yang kurasakan tak lebih dari sebuah kehampaan. Ada ruang kosong yang menganga dalam hatiku. Aku jatuh dan terpuruk. Aku telah kehilangan sesuatu yang terlalu berarti untukku. Aku kehilanganmu.
Namun kupercaya bahwa inilah jalan yang telah Tuhan pilihkan lagi untukku, untuk kita. Sakit memang. Bahkan aku tak sanggup lagi memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kesedihanku. Aku berharap akan menjadi satu-satunya perempuan yang kamu sakiti. Jangan pernah biarkan ada perempuan lain yang mengeluarkan banyak airmata untukmu. Bagaimanapun akhirnya kini, aku bersyukur bisa memberikan segala yang kupunya. Cinta, ketulusan dan kesetiaan. Mungkin semua ini tidak pernah cukup untukmu. Namun aku telah menyelesaikannya dengan sangat baik. Aku mencintaimu dengan ketulusan, walaupun itu berarti aku harus rela melepaskanmu bersamanya. Memang tidak akan semudah yang kubayangkan tapi aku sungguh-sungguh bahagia ketika dirimu berbahagia di sana.
Satu hal yang masih kupercaya, bahwa Tuhan akan mempertemukanku kembali denganmu jika memang dirimulah laki-laki yang telah dipersiapkan-Nya untukku, jika memang aku lah tulang rusukmu. Aku akan mencoba menerimanya dengan lapang dada, berbesar hati dan memompa semua kesabaran yang ada di dalam diriku. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kupetik dari kesakitan ini. Aku berjanji akan menjadi perempuan tangguh dan kuat, yang mampu berdiri tegak diatas kakiku sendiri, yang tidak lagi mengandalkanmu sebagai sandaranku. Aku berjanji akan melanjutkan hidupku dengan lebih baik lagi. Aku berjanji akan tetap tersenyum dan berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangiku. Aku berjanji akan menyimpan semua kenangan yang kita punya jauh didasar hatiku yang paling dalam. Aku berjanji akan belajar sekuat yang aku bisa untuk melupakanmu. Memang tak akan mudah menghapus semuanya, tapi bila meninggalkanku adalah takdir yang telah tertulis untukmu, akan kujadikan kenangan itu hal terindah yang pernah ada. Namun berjanjilah satu hal untukku, jika ini memang pilihanmu, berbahagialah selalu untukku. Terimakasih atas segalanya. Terimakasih karena telah datang dalam hidupku.

6 komentar:

Unknown mengatakan...

;( netes-netes nih aer mata

Orestilla mengatakan...

berharap cerita tak hanya menjadi kisah sampah..belajarlah bersamanya. Ketika yang lain mampu menjauhkan dari kebodohan seperti itu, aku bahagia :)

Mahardika mengatakan...

"Namun berjanjilah satu hal untukku, jika ini
memang pilihanmu, berbahagialah selalu untukku.
Terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena
telah datang dalam hidupku." Bagian terakhir ini terlalu "jleb" buat gue. Oke, tahan galaunya. :) nice.

Unni riska mengatakan...

Mungkin kata yg bisa mewakili, cinta tak harus memiliki.
Kisah kita nyaris sama

kunjungi balik ya www.anak
bawangimut.blogspot

Unni riska mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Orestilla mengatakan...

Gayuh: Iya. Sengaja mencari rangkaian narasi yang tak akan membuat cerita ini mati di hati. Terimakasih sudah berkunjung :)

Riska: Yang lebih baik tentu sudah disiapkan oleh Tuhan dear :)

Posting Komentar

Silahkan dikomentari. Kritikan pedas pun tetap saya terima sebagai ajang pembelajaran kedepannya. Terimakasih :)

Jumat, April 19

Jika ini pilihanmu, berbahagialah untukku

Diposting oleh Orestilla di 08.44.00

Kisah yang akan kuceritakan mungkin bukan kisah yang menarik bagi banyak orang, tetapi terlalu berharga untuk kubuang dan kulupakan. Berharap cerita yang akan kubagi bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang sedang membaca tulisan ini.
Teruntuk seseorang yang dulu pernah mengisi relung hatiku..
Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah ada sampai saat ini. Meskipun kita memulainya dengan cara yang berbeda. Berbeda karena pertama kali aku bertemu denganmu yang kurasakan bukanlah cinta tetapi benci. Walaupun sekarang pada akhirnya kusadari bahwa terdapat perbedaan yang sangat tipis antara cinta dan benci.
Kejadian ini berlangsung di tahun 2003, sembilan tahun yang lalu. Saat kita masih berseragam abu-abu. Masa pencarian jati diri, begitu kita menyebutnya. Ditempatkan di kelas yang sama denganmu, tak berarti membuatku jatuh cinta sedari awal. Bagiku yang saat itu belum pernah sama sekali mengenal yang namanya cinta, pertemanan menjadi pilihan terbaik. Dimata gadis remaja sepertiku, dirimu adalah sosok teman yang bisa diandalkan untuk berbagi banyak ilmu dan pelajaran. Pengalaman hidupmu yang lebih banyak, membuatku berpikir betapa beruntungnya aku memiliki teman sepertimu. Bersama rekan sekelas lainnya, seringkali kita berdiskusi tentang banyak hal terutama pelajaran-pelajaran di sekolah. Menyenangkan walaupun hanya untuk beberapa bulan saja. Mengapa? Karena ada segelintir orang yang merasa terganggu dengan kedekatan kita, meskipun hanya dalam hubungan pertemanan biasa. Harga diriku sebagai perempuan terusik dan kuputuskan untuk tidak lagi dekat denganmu, sama sekali tidak.  Bahkan hanya untuk menegurmu ketika kita berpapasan di kelas. Kurasa hal itu pulalah yang akhirnya membuatmu sedikit demi sedikit mulai menjauh dariku dan tidak lagi menganggapku sebagai teman. Namun, tanpamu hari-hariku tetap berlalu dengan sangat baik karena ada begitu banyak sahabat disekelilingku. Ketidakadaanmu tak memberi banyak pengaruh bagiku saat itu.  
Tuhan berkata lain. Lewat sebuah kejadian kecil, aku dan kamu memulai lagi pertemanan itu. Terkadang sungguh lucu ketika mengingatnya kembali. Betapa ego remaja kita memberi begitu banyak warna. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah pengakuanmu setelah itu. Hanya berselang beberapa bulan saja kamu memintaku untuk menjadikanmu sebagai teman dekat. Sungguh kejadian yang tak akan pernah kulupakan. Dengan banyak pertimbangan, kuterima permintaanmu. Walau hati tak sepenuhnya mengerti, bagaimana mungkin seseorang yang dulu kubenci dan membenciku bisa memiliki rasa sayang itu dihatinya? Dan yang tak kalah herannya, mengapa perasaan seperti itu juga tumbuh dihatiku? Mungkin inilah yang namanya cinta. Kita tak pernah tau kapan ia datang, pada siapa dan bagaimana caranya menghampiri sisi-sisi kehidupan. 15 Mei 2005. Hari yang sangat membahagiakan, untukku, untukmu dan untuk kita.
Perjalanan waktu menghadiahkan banyak pelajaran, baik itu lewat kebahagiaan, tangisan, luka dan airmata. Namun ketika perjalanan itu kulewati bersamamu, kesakitan  menjadi indah dengan sendirinya. Cinta memang mengindahkan segala yang ada. Terlalu berlebihan mungkin, tapi akan ada banyak yang mendukungku, berada tepat dibelakangku ketika kulemparkan pernyataan seperti itu. Kusadari bahwa tanpamu aku tak akan memiliki banyak kekuatan untuk bertahan. Bagiku, dirimu tak hanya tempat untuk berbagi bahagia tapi juga sandaran ketika kesedihan menikamku, ketika duka menghampiri. Begitupun sebaliknya kamu. Bahagiaku bertambah tatkala aku tak hanya menjadi perempuan yang kamu temui dengan tawa, tetapi juga saat matamu berlinang airmata. Walaupun tak sering hal itu kamu perlihatkan didepanku. Karena dirimu selalu berusaha untuk menjadi lebih tegar dan lebih kuat untukku.
Masa-masa sekolah menjadi masa yang paling indah. Setidaknya untuk kita berdua. Waktu berlalu begitu cepat, satu bulan, dua bulan, dan seterusnya. Untuk kemudian, masa depan yang yang sesungguhnya telah menanti di depan. Satu tahun bersamamu bertepatan dengan perjuangan berat kita untuk memperoleh kelulusan dengan nilai terbaik. Belajar bersama, saling berbagi ilmu dan informasi, ah betapa menyenangkannya melakukan itu semua bersamamu. Dan harapan kitapun dijamah Tuhan. Kelulusan itu kita raih dengan nilai yang sangat memuaskan.
Dengan segala usaha dan jerih payah mengikuti banyak tes, akhirnya aku diterima di sebuah Sekolah Tinggi Pemerintahan yang jaraknya jauh dari tanah kelahiranku. Aku tahu ini juga jalan yang sedang dipilihkan Tuhan untukku. Bahagia? Tentu saja. Tak banyak yang memiliki kesempatan seperti yang sudah ada digenggamanku. Tak ingin sedikitpun kulewatkan kesempatan yang telah dititipkan Tuhan untukku. Namun ada satu hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Perpisahan.Ya. Berpisah denganmu untuk waktu dan jarak yang terbentang ribuan kilometer. Mampukah kita? Kuyakinkan hati untuk bertahan tapi tidak denganmu. Kamu memilih untuk mundur dan melepasku melangkah keduniaku yang baru. Hatiku tercekat saat dirimu memintaku untuk melupakan semua yang telah kita lewati. Namun apa daya yang ku punya? Tak ada yang bisa kulakukan selain melepasmu dengan ikhlas walaupun itu semua tak mudah bagiku. Mencoba berdamai dengan keadaan, mencoba meyakinkan hati dan perasaan bahwasanya cinta yang kupunya tulus untukmu. Cinta yang tak hanya bahagia ketika bersama tetapi juga saat ragamu tak lagi jadi milikku. Maka melangkahlah aku ke kehidupanku yang baru. Bersama lingkungan dan orang-orang yang tidak kukenal sama sekali. Tapi kupastikan pada diriku sendiri bahwa ini semua hanya masalah waktu. Tak butuh waktu yang lama untukku menjadikan mereka semua keluarga. Memang sulit menjalani hidup jauh dari orang-orang yang kita sayang dan menyayangi kita. Namun apapun rintangannya, semua kujalani dengan kesabaran dan keihkhlasan. Lalu dengan semua kebahagiaan baru yang kuperoleh disana, lupakah aku denganmu? Tidak. Sama sekali tidak. Walaupun kamu bukan lagi seseorang yang menempatkanku dihatimu seperti dulu, aku masih mencintaimu, menempatkanmu disudut hatiku yang paling dalam. Menjaga segalanya tetap seperti dulu. Tapi bukan lagi untukmu, kulakukan hanya untuk diriku sendiri.
Namun sepertinya dirimupun terlalu lelah menjalani hari-hari tanpaku. Kamu memintaku kembali. Meyakinkanku lagi bahwa apapun yang telah kamu putuskan dulu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terbesar yang pernah kamu lakukan untuk kita. Betapa lunglainya hatiku karenamu. Betapa sia-sianya tenaga yang kukerahkan untuk membangun banyak pertahanan agar bisa terlihat kuat di mata semua orang yang ku kenal. Namun, dengan begitu banyaknya cinta yang kupunya, kuterima lagi permintaanmu untuk yang kedua kalinya. Aku mencoba meyakinkan lagi hatiku untuk merengkuh kembali kebahagiaan yang dulu pernah kita miliki. Dan dimulailah hubungan jarak jauh itu. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar dan bukan sesuatu yang mudah untuk menjalani sebuah hubungan yang terpisahkan oleh jarak. Betapa sakitnya menahan sebuah kerinduan. Betapa berharganya waktu ketika aku memiliki kesempatan untuk pulang, bertemu denganmu. Betapa beratnya perjuangan yang kita lalui untuk meyakinkan semua orang bahwa kita benar-benar bahagia dengan segala yang kita miliki. Betapa bangganya aku padamu, yang dengan banyak pengorbanan, kesabaran dan kesetiaan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Walaupun aku tahu, tak banyak yang bisa kulakukan untukmu saat itu. Namun, dengan semua kekurangan yang kupunya, aku semakin berusaha untuk membahagiakanmu. Dalam setiap sujud, ku selalu berdoa untukmu, untuk keabadian cinta kita. Memohon pada-Nya agar selalu menjaga apa yang telah kita perjuangkan selama ini. Meminta agar Dia selalu menjaga hatimu untukku dan hatiku untukmu.
Waktu berlalu, tahun demi tahun berjalan dan akhirnya tiga tahun itupun mampu kita jalani dengan sangat baik. Walaupun ada begitu banyak kesedihan dan airmata. Tapi ujian itu telah kita selesaikan dengan nilai terbaik, lagi. Aku kembali ke kampung halamanku, berkumpul dengan keluarga dan tentunya tak lagi harus menjalani hubungan jarak jauh denganmu. Aku benar-benar bahagia. Membayangkan bahwa jarak tak akan menjadi alasan bagi kita untuk memendam kerinduan dan kesedihan. Kebahagiaan pun menjadi milik kita lagi. Kali ini walaupun harus terpisahkan jarak beberapa puluh kilometer, kita tak menganggapnya sebagai rintangan besar seperti dulu Hidup di dua kota yang berlainan, dengan kesibukan kita masing-masing, selalu tersedia waktu untuk bertemu denganmu sesering yang kita bisa. Meskipun harus menunggu akhir minggu untuk berada didekatmu, aku benar-benar  bahagia.
Namun Tuhan akhirnya menguji ketulusanku. Setelah hampir tujuh tahun menjalani hidup bersamamu, aku pun tahu bahwa dihatimu telah ada perempuan lain. Perempuan yang dengan cintanya membuatmu berpaling dan mengesampingkan perasaanku, melupakan keberadaanku. Kucoba untuk berpikir sebaik yang aku bisa. Menyalahkan keadaan pada diri sendiri, kurangkah perhatianku untukmu? Terlalu lelahkah kamu untuk meneruskan perjuangan kita hingga akhirnya nanti? Begitu burukkah sikap-sikapku yang tak sesuai dengan prinsip hidupmu? Tapi sampai detik ini tak satupun kutemui jawaban itu. Kamu hanya menjawab semua pertanyaanku dengan diam. Betapa semua ini membuatku hancur dan berantakan. Asa yang telah kugantungkan setinggi mungkin tiba-tiba lenyap dalam sekejab mata. Kamu yang kujadikan sandaran agar ku selalu kuat untuk tetap berdiri menantang dunia, pergi dan tak pernah sedikitpun menoleh ke belakang untuk melihat kerapuhanku. Waktu seakan menghentikan duniaku. Betapa kejamnya dirimu. Ingin rasanya aku menatap jauh ke dalam matamu dan bertanya, ada apa dengan semua ini? Tetapi jangankan bertanya seperti itu, bertemu denganku pun kamu tak lagi mau. Bagimu aku hanyalah seonggok daging tak berperasaan yang dengan mudahnya kamu tinggalkan saat dirimu menemukan seseorang yang lebih baik. Seseorang yang dengan banyak kelebihan akan memberikanmu kebahagiaan dan ketenangan yang tak mampu kupersembahkan lagi untukmu.
Begitu pentingkah arti kesempurnaan untukmu? Begitu burukkah aku dimatamu? Apakah waktu yang kita habiskan selama tujuh tahun ini benar-benar tak memiliki arti sama sekali? Benar-benar tidak pantas lagi untuk kita pertahankan? Teringat ketika pertama kali aku memutuskan untuk menerimamu hadir dalam hidupku. Teringat bagaimana saat itu aku berjanji akan menjaga cinta yang kita punya, saat aku berusaha menerima segala kekuranganmu, menjadikannya tiada dengan menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan kelebihan yang ku punya. Teringat bagaimana susahnya kita untuk selalu bersama walaupun harus selalu dengan berlinang airmata. Teringat bagaimana bahagianya ketika aku melihatmu tertawa saat kita menghabiskan banyak waktu mengitari kota. Teringat bagaimana lelahnya aku menjaga semua kepercayaan yang kamu titipkan padaku saat aku jauh darimu. Aku selalu berharap kamu juga akan melakukan hal yang sama untukku. Namun, sekarang yang kurasakan tak lebih dari sebuah kehampaan. Ada ruang kosong yang menganga dalam hatiku. Aku jatuh dan terpuruk. Aku telah kehilangan sesuatu yang terlalu berarti untukku. Aku kehilanganmu.
Namun kupercaya bahwa inilah jalan yang telah Tuhan pilihkan lagi untukku, untuk kita. Sakit memang. Bahkan aku tak sanggup lagi memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kesedihanku. Aku berharap akan menjadi satu-satunya perempuan yang kamu sakiti. Jangan pernah biarkan ada perempuan lain yang mengeluarkan banyak airmata untukmu. Bagaimanapun akhirnya kini, aku bersyukur bisa memberikan segala yang kupunya. Cinta, ketulusan dan kesetiaan. Mungkin semua ini tidak pernah cukup untukmu. Namun aku telah menyelesaikannya dengan sangat baik. Aku mencintaimu dengan ketulusan, walaupun itu berarti aku harus rela melepaskanmu bersamanya. Memang tidak akan semudah yang kubayangkan tapi aku sungguh-sungguh bahagia ketika dirimu berbahagia di sana.
Satu hal yang masih kupercaya, bahwa Tuhan akan mempertemukanku kembali denganmu jika memang dirimulah laki-laki yang telah dipersiapkan-Nya untukku, jika memang aku lah tulang rusukmu. Aku akan mencoba menerimanya dengan lapang dada, berbesar hati dan memompa semua kesabaran yang ada di dalam diriku. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kupetik dari kesakitan ini. Aku berjanji akan menjadi perempuan tangguh dan kuat, yang mampu berdiri tegak diatas kakiku sendiri, yang tidak lagi mengandalkanmu sebagai sandaranku. Aku berjanji akan melanjutkan hidupku dengan lebih baik lagi. Aku berjanji akan tetap tersenyum dan berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangiku. Aku berjanji akan menyimpan semua kenangan yang kita punya jauh didasar hatiku yang paling dalam. Aku berjanji akan belajar sekuat yang aku bisa untuk melupakanmu. Memang tak akan mudah menghapus semuanya, tapi bila meninggalkanku adalah takdir yang telah tertulis untukmu, akan kujadikan kenangan itu hal terindah yang pernah ada. Namun berjanjilah satu hal untukku, jika ini memang pilihanmu, berbahagialah selalu untukku. Terimakasih atas segalanya. Terimakasih karena telah datang dalam hidupku.

6 komentar on "Jika ini pilihanmu, berbahagialah untukku"

Unknown on 19 April 2013 pukul 10.50 mengatakan...

;( netes-netes nih aer mata

Orestilla on 22 April 2013 pukul 13.57 mengatakan...

berharap cerita tak hanya menjadi kisah sampah..belajarlah bersamanya. Ketika yang lain mampu menjauhkan dari kebodohan seperti itu, aku bahagia :)

Mahardika on 4 November 2013 pukul 12.38 mengatakan...

"Namun berjanjilah satu hal untukku, jika ini
memang pilihanmu, berbahagialah selalu untukku.
Terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena
telah datang dalam hidupku." Bagian terakhir ini terlalu "jleb" buat gue. Oke, tahan galaunya. :) nice.

Unni riska on 4 November 2013 pukul 18.35 mengatakan...

Mungkin kata yg bisa mewakili, cinta tak harus memiliki.
Kisah kita nyaris sama

kunjungi balik ya www.anak
bawangimut.blogspot

Unni riska on 4 November 2013 pukul 18.36 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Orestilla on 26 November 2013 pukul 15.35 mengatakan...

Gayuh: Iya. Sengaja mencari rangkaian narasi yang tak akan membuat cerita ini mati di hati. Terimakasih sudah berkunjung :)

Riska: Yang lebih baik tentu sudah disiapkan oleh Tuhan dear :)

Posting Komentar

Silahkan dikomentari. Kritikan pedas pun tetap saya terima sebagai ajang pembelajaran kedepannya. Terimakasih :)

 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea