Senin, Juni 25

Makna hidup dibalik tarian tangan HAMKA

Diposting oleh Orestilla di 15.15.00

Aku kembali. Dengan beberapa cerita yang saat ini tergenggam ditanganku, terpatri kuat dalam ingatan dan hatiku. Tak banyak memang. Tapi cukup membuatmu melepaskan menit-menitmu demi meraba rasa yang akan kutumpahkan disini. Aku hanyalah seorang perempuan biasa penerus tahta nasehat cinta yang diserahkan Hamka lewat karya besarnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
 Buku bersampul biru yang kudapat dari seorang teman pada akhirnya membuatku sadar bahwa apa yang pernah kualami, apa yang pernah kurasakan hingga meluluhlantakkan hidupku di waktu yang lalu, belumlah seberapa sulit dan sakit dibandingkan kisah cinta dua anak manusia yang ditakdirkan Tuhan untuk tak bersatu didunia-Nya yang tak mengenal arti sebuah keabadian.
Zainuddin yang menjadi sosok utama dalam cerita ini memperlihatkan bagaimana lelah dan sepinya perjalanan hidup yang ia punya tanpa didampingi seorang perempuan yang telah membuatnya jatuh pada pertemuan pertama mereka di sebuah kampung kecil di pelosok Sumatera Barat. Begitu pun sebaliknya Hayati, si perempuan yang juga berusaha menjalani dan menghabiskan hidupnya tanpa pernah bisa menyerahkan seluruh asanya pada lelaki yang sangat ia sayangi, Zainuddin.
Petikan kisah cinta di tahun 1930-an yang akan sulit kita temui di era modernisasi saat ini. Sebuah ketulusan, kesetiaan dan pengorbanan akibat merajanya kungkungan adat yang yang sekarang mungkin saja telah menjelma menjadi sesuatu yang langka. Cinta sejati yang pada akhirnya membawa dan memaksa mereka untuk berpisah, selamanya. Perpisahan yang tak hanya sekedar berlalu dari pandangan mata. Namun menempatkan mereka di dua dunia yang berlainan. Perpisahan yang sejatinya menjadi perpisahan paling menyakitkan, KEMATIAN.
Sastra bercerita. Hamka dengan untaian kalimat demi kalimatnya mampu membuatku terhanyut dan hadir dalam cerita yang ia lantunkan. Walau tak mungkin bertemu mata, bertatapan langsung dengan tokoh-tokoh dalam cerita ini, utamanya Zainuddin dan Hayati, aku merasa hidup dalam kisah mereka, merasakan getir dan pahitnya hidup yang harus mereka lakonkan.
Akan kusampaikan beberapa rangkaian kata yang terunduh dalam beberapa surat yang dikirimkan oleh Zainuddin kepada Hayati, pun sebaliknya, kata-kata yang mungkin akan membuatmu berkaca-kaca sama sepertiku atau bahkan menjatuhkan tetes airmata kesedihan. Kata-kata cinta yang mampu membuatku menyelami perasaan si penulis kata hingga ke dasarnya. Perasaan mengharu-biru yang datang tatkala aku menapaki kisah demi kisah, perjalanan demi perjalanan yang dengan sangat sempurna dipersembahkan oleh Hamka.
ZAINUDDIN :
“Apakah dalam masa sebulan dua saja istana kenang-kenangan yang telah kita dirikan berdua dihancurkan oleh angin puting beliung sehingga bekas-bekasnya sekalipun tidak akan bertemu lagi?”
“Kadang-kadanag derajat cintaku sudah terlalu amat naik, sehingga hanya dua yang menandingi kecintaan itu, pertama Tuhan dan kedua mati.”
“Kaukah yang begitu kejam mendorongkan diriku kepada lautan cinta, setelah saya berenang, kau segera keluar, dan kau biarkan saya karam sendiriku?”
“Ingat akan dikau adalah nyawa yang menimbulkan kekuatan ruhani dan jasmani untuk menempuh perjuangan dalam alam ini.”
“Adalah nasibku sekarang laksana bangkai burung kecil yang tercampak di tepi jalan sesudah ditembak anak-anak dengan bedil angin, atau seakan-akan batu kecil yang terbuang di halaman tidak dipedulikan orang.”
“Katakanlah agak sepatah kalimat saja, bahwa kau masih tetap mencintaiku, meskipun ucapan itu benar atau dusta sekalipun, cukuplah itu bagiku.”
“Lebih seratus kali nama kau ku sebut dalam sehari! Kadang-kadang saya panggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku.”
Saya tanyai diri saya, adalah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku kepadamu.”
HAYATI :
“Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan.”
“Engkau ulurkan kepadanya tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris pembalasan, mengenai sudut jantungnya, terpancur darah dan akan tetap mengalir sampai sekering-keringnya, mengalir bersama dengan jiwanya.”
“Dan agaknya kelak, engkaulah yang akan terpatri dalam doaku, bila saya menghadap Tuhan di akhirat.”
“Moga-moga jika banyak benar halangan pertemuan kita di dunia, terlapanglah pertemuan kita di akhirat, pertemuan yang tidak akan diakhiri lagi oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi manusia.”
Buku ini telah lusuh ditanganku. Akibat beberapa kali kubolak-balik demi mendapatkan makna hidup darinya. Tak perlu ratusan halaman untuk menyampaikan pelajaran hidup. Tak perlu cover mewah dan mencolok untuk membuatku tertarik dan hanyut didalamnya. Buku ini dan Hamka memberikanku sebuah pelajaran berharga lewat sebuah kesederhanaan. Berharap hal yang sama berlaku untukmu.
NB : Sayup terdengar lantunan lagu Christina Perry berjudul A Thousand Years yang beberapa hari ini terlalu sering menemaniku mengarungi sang waktu.
“I have died everyday waiting for you
Darling dont be afraid
I have loved you for a thousand years
I Love you for a thousand more...”
Hakekatnya, cinta yang sebenar-benarnya cinta akan mengindahkan segala yang ada.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan dikomentari. Kritikan pedas pun tetap saya terima sebagai ajang pembelajaran kedepannya. Terimakasih :)

Senin, Juni 25

Makna hidup dibalik tarian tangan HAMKA

Diposting oleh Orestilla di 15.15.00

Aku kembali. Dengan beberapa cerita yang saat ini tergenggam ditanganku, terpatri kuat dalam ingatan dan hatiku. Tak banyak memang. Tapi cukup membuatmu melepaskan menit-menitmu demi meraba rasa yang akan kutumpahkan disini. Aku hanyalah seorang perempuan biasa penerus tahta nasehat cinta yang diserahkan Hamka lewat karya besarnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
 Buku bersampul biru yang kudapat dari seorang teman pada akhirnya membuatku sadar bahwa apa yang pernah kualami, apa yang pernah kurasakan hingga meluluhlantakkan hidupku di waktu yang lalu, belumlah seberapa sulit dan sakit dibandingkan kisah cinta dua anak manusia yang ditakdirkan Tuhan untuk tak bersatu didunia-Nya yang tak mengenal arti sebuah keabadian.
Zainuddin yang menjadi sosok utama dalam cerita ini memperlihatkan bagaimana lelah dan sepinya perjalanan hidup yang ia punya tanpa didampingi seorang perempuan yang telah membuatnya jatuh pada pertemuan pertama mereka di sebuah kampung kecil di pelosok Sumatera Barat. Begitu pun sebaliknya Hayati, si perempuan yang juga berusaha menjalani dan menghabiskan hidupnya tanpa pernah bisa menyerahkan seluruh asanya pada lelaki yang sangat ia sayangi, Zainuddin.
Petikan kisah cinta di tahun 1930-an yang akan sulit kita temui di era modernisasi saat ini. Sebuah ketulusan, kesetiaan dan pengorbanan akibat merajanya kungkungan adat yang yang sekarang mungkin saja telah menjelma menjadi sesuatu yang langka. Cinta sejati yang pada akhirnya membawa dan memaksa mereka untuk berpisah, selamanya. Perpisahan yang tak hanya sekedar berlalu dari pandangan mata. Namun menempatkan mereka di dua dunia yang berlainan. Perpisahan yang sejatinya menjadi perpisahan paling menyakitkan, KEMATIAN.
Sastra bercerita. Hamka dengan untaian kalimat demi kalimatnya mampu membuatku terhanyut dan hadir dalam cerita yang ia lantunkan. Walau tak mungkin bertemu mata, bertatapan langsung dengan tokoh-tokoh dalam cerita ini, utamanya Zainuddin dan Hayati, aku merasa hidup dalam kisah mereka, merasakan getir dan pahitnya hidup yang harus mereka lakonkan.
Akan kusampaikan beberapa rangkaian kata yang terunduh dalam beberapa surat yang dikirimkan oleh Zainuddin kepada Hayati, pun sebaliknya, kata-kata yang mungkin akan membuatmu berkaca-kaca sama sepertiku atau bahkan menjatuhkan tetes airmata kesedihan. Kata-kata cinta yang mampu membuatku menyelami perasaan si penulis kata hingga ke dasarnya. Perasaan mengharu-biru yang datang tatkala aku menapaki kisah demi kisah, perjalanan demi perjalanan yang dengan sangat sempurna dipersembahkan oleh Hamka.
ZAINUDDIN :
“Apakah dalam masa sebulan dua saja istana kenang-kenangan yang telah kita dirikan berdua dihancurkan oleh angin puting beliung sehingga bekas-bekasnya sekalipun tidak akan bertemu lagi?”
“Kadang-kadanag derajat cintaku sudah terlalu amat naik, sehingga hanya dua yang menandingi kecintaan itu, pertama Tuhan dan kedua mati.”
“Kaukah yang begitu kejam mendorongkan diriku kepada lautan cinta, setelah saya berenang, kau segera keluar, dan kau biarkan saya karam sendiriku?”
“Ingat akan dikau adalah nyawa yang menimbulkan kekuatan ruhani dan jasmani untuk menempuh perjuangan dalam alam ini.”
“Adalah nasibku sekarang laksana bangkai burung kecil yang tercampak di tepi jalan sesudah ditembak anak-anak dengan bedil angin, atau seakan-akan batu kecil yang terbuang di halaman tidak dipedulikan orang.”
“Katakanlah agak sepatah kalimat saja, bahwa kau masih tetap mencintaiku, meskipun ucapan itu benar atau dusta sekalipun, cukuplah itu bagiku.”
“Lebih seratus kali nama kau ku sebut dalam sehari! Kadang-kadang saya panggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku.”
Saya tanyai diri saya, adalah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku kepadamu.”
HAYATI :
“Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan.”
“Engkau ulurkan kepadanya tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris pembalasan, mengenai sudut jantungnya, terpancur darah dan akan tetap mengalir sampai sekering-keringnya, mengalir bersama dengan jiwanya.”
“Dan agaknya kelak, engkaulah yang akan terpatri dalam doaku, bila saya menghadap Tuhan di akhirat.”
“Moga-moga jika banyak benar halangan pertemuan kita di dunia, terlapanglah pertemuan kita di akhirat, pertemuan yang tidak akan diakhiri lagi oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi manusia.”
Buku ini telah lusuh ditanganku. Akibat beberapa kali kubolak-balik demi mendapatkan makna hidup darinya. Tak perlu ratusan halaman untuk menyampaikan pelajaran hidup. Tak perlu cover mewah dan mencolok untuk membuatku tertarik dan hanyut didalamnya. Buku ini dan Hamka memberikanku sebuah pelajaran berharga lewat sebuah kesederhanaan. Berharap hal yang sama berlaku untukmu.
NB : Sayup terdengar lantunan lagu Christina Perry berjudul A Thousand Years yang beberapa hari ini terlalu sering menemaniku mengarungi sang waktu.
“I have died everyday waiting for you
Darling dont be afraid
I have loved you for a thousand years
I Love you for a thousand more...”
Hakekatnya, cinta yang sebenar-benarnya cinta akan mengindahkan segala yang ada.

0 komentar on "Makna hidup dibalik tarian tangan HAMKA"

Posting Komentar

Silahkan dikomentari. Kritikan pedas pun tetap saya terima sebagai ajang pembelajaran kedepannya. Terimakasih :)

 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea