Senin, November 25

Sebuah Pengakuan

Diposting oleh Orestilla di 09.38.00 0 komentar
Matamu menjadi candu yang tak pernah kalah oleh putaran waktu
Tawamu menjadi lagu yang mendayu di setiap lelap tidurku
Tapi itu dulu
Dulu yang padanya kini hatiku teriris kelu
Dulu yang akhirnya kini memaksa hatiku untuk membisu

Kamu hilang bak awan hitam yang lenyap ketika hujan datang
Kamu tiada seperti serpihan kertas dalam kobaran api yang nyala
Ada satu, dua, tiga pesan kata yang belum sempat kusampaikan
Ada satu cinta yang bodohnya dengan sangat rapi kusimpan dari penglihatan
Ya. Penglihatanmu

Ketika denyut cinta itu merekah lagi
Aku harus kuat untuk berjuang sendiri menghadang sepi
Karena kini kamu sudah tak berbayang lagi di sini
Ada hampa ku rasa tanpa jeda
Ada ingin bersua denganmu yang tak kan lagi pernah menjadi nyata

Namun aku sadar aku memang kalah
Aku salah karena mencintamu tanpa tahu arah
Maafkan aku, mohon dengarkan pengakuanku.

Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

Diposting oleh Orestilla di 08.19.00 0 komentar


Buku Bumi Manusia yang saya miliki adalah cetakan ke-18. Salah satu prestasi luar biasa yang dimiliki oleh seseorang yang menghabiskan hampir separuh hidupnya di balik jeruji penjara. Siapa yang tak kenal Pramoedya, siapa yang tak akan kagum pada rangkaian narasinya. Pramoedya punya kekuatan magis yang akan membawa kita kembali pada sebuah peradaban yang telah diberi label “sejarah”. 


Berlatar belakang tahun 1880-an di negeri Surabaya, Pramoedya memperkenalkan seorang muda pribumi yang memiliki kesempatan besar untuk belajar langsung bersama pemuda Eropa dan Indo lainnya. Ia bernama Minke.
Minke (baca: Mingke) si pribumi tulen. Ia adalah anak kedua dari seorang bupati B. Namun Minke besar dan telah menghabiskan lebih banyak waktu dengan neneknya. Minke memiliki ilmu dan prestasi yang mampu mengalahkan pencapaian anak-anak Eropa dan Indo di lingkungannya. Sesuatu hal yang melahirkan rasa iri dan dengki dari berbagai pihak, mengingat ia sama sekali tidak memiliki darah Eropa. Pada waktu itu, pribumi dianggap rendah dan hina.
Persahabatannya dengan Robert Suurhof (teman sepemondokannya saat menuntut ilmu di H.B.S., jalan H.B.S., Surabaya) membawanya pada sebuah pertemuan dengan gadis Indo bernama Annelies Mellema. Putri dari Tuan Herman Mellema dan gundiknya Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama nyai Ontosoroh.
Nama Ontosoroh sendiri hadir tatkala masyarakat sekitar tidak bisa menyebutkan dengan baik kata Buitenzorg. Ya. Tuan Mellema dan Sanikem adalah pemilik Boerderij Buitenzorg (Belanda) yang berarti Perusahaan Pertanian. Beberapa puluh lembar halaman pertama buku ini menceritakan kisah hidup Nyai yang dengan paksaan (dijual) kedua orangtuanya menjadi gundik Tuan Mellema. Perlakuan baik penuh kasih sayang akhirnya meluluhkan hati Nyai. Namun kecintaannya pada sang suami (walau tak pernah diakui secara hukum) tak bisa meredam dendam kesumatnya pada ayah dan ibu kandungnya yang ia anggap telah dengan sangat keji menjualnya pada orang asing tersebut. Pernikahan tidak sah mereka harus berakhir ketika anak kandung Mellema yang berdarah Eropa asli datang, membongkar kebusukan dan masa kelam ayahnya tepat di depan Mellema dan Nyai. Kedatangan Maurits Mellema membuat ayahnya kehilangan jiwa dan semangat hidup dalam sekejab mata. Ia berubah menjadi orang yang tidak lagi mengenal dunia dan hidup dalam ketidakjelasan. Fakta yang harus membuat Nyai berjuang puluhan kali lebih keras dari sebelumnya.
Minke dan Ann jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan Ann sendiri yang harus kehilangan masa kecilnya karena dipercaya untuk mengurus bisnis keluarga saat ayahnya tidak lagi kembali ke rumah setelah kedatangan putra Eropa-nya, seperti menemukan alasan untuk hidup dalam hidup yang sebenarnya. Bahkan ketika Minke harus pulang ke pemondokannya, Annelies jatuh sakit hingga tak sadarkan diri demi menanggung rindu yang bisa saja membuatnya mati.
Setelah melewati berbagai rintang dalam hubungan mereka (yang tak akan saya bahas secara detail di laman ini), akhirnya Minke mempersunting Annelies beberapa hari setelah kelulusannya di H.B.S. Namun kisah sejatinya baru hadir di halaman-halaman terakhir buku ini. Pernikahan yang tidak diakui secara hukum, membuat Nyai harus rela berpisah dengan putri kesayangannya ketika Maurits Mellema (saudara tiri Ann) melalui Pengadilan Amsterdam menggugat seluruh warisan yang ditinggalkan ayahnya (yang sebelumnya mati menggenaskan karena diracuni oleh seorang Tionghoa bernama Ah Tjong). Pengadilan itu pula lah yang mengharuskan Annelies kembali ke tanah leluhurnya. Walau sah secara Islam, pernikahan Ann dan Minke juga dianggap tidak pernah terjadi. Setelah melalui perdebatan alot yang melibatkan banyak pihak serta dibayar dengan pertumpahan darah, Minke dan Nyai tidak memiliki pilihan lain kecuali melepaskan Ann yang mereka kasihi.
Ada yang nyesek ketika mengetahui bahwa perbedaan bangsa dan warna kulit saja bisa menjadi alasan yang sangat kuat pada masa itu untuk memisahkan dua hati yang telah terkunci dalam cinta sejati. Bahkan jika diberikan pilihan, mungkin saja Ann (yang lebih senang diakui sebagai pribumi) akan puas mati di tanah Jawa, dalam dekapan suami yang ia cinta dibandingkan harus kembali ke negeri yang jauh, yang tak pernah ia kenal selama hidupnya. Namun itulah aturan yang berlaku kala itu. Aturan yang sulit diterima akal sehat. Aturan yang dijejalkan pada bangsa kita dibawah jajahan bangsa asing yang tidak hanya mengambil kekayaan bumi Indonesia, namun juga hak-hak mereka sebagai manusia.
Beberapa hari sebelum keberangkatannya, ada satu kalimat yang membuat saya menghela nafas panjang. Menyadari betapa banyak kisah cinta menggetirkan (jika tak bisa disebut sangat menyakitkan) yang berlangsung di luar sana, di tempat dan waktu yang tak terjangkau pemikiran.

“Sekali dalam hidup biarlah aku suapi suamiku.”

Kalimat itu diucapkan Ann ketika matahari menyapa bumi untuk pertama kalinya setelah semalaman ia didongengkan oleh suaminya yang setia. Dongeng yang diharapkan Minke akan membawa Ann kembali sadar. Dongeng yang dulu selalu ia nantikan setiap malam dari suaminya. Ya. Setelah mendengar keputusan kejam akan dirinya, Ann kembali jatuh sakit. Ia menatap Minke dengan tatapan kosong yang tak bisa lagi diartikan. Ia diam ketika ditanya. Tak menggubris apapun yang ada disekitarnya. Ia mati dalam hidup. Dan kalimat tadi adalah kalimat pertama yang membuat Minke berbahagia sekaligus lara. Ia bahagia karena Ann telah kembali tersenyum padanya, ia hidup kembali walau dalam muka pucat pasi di wajah cantik yang ia miliki. Namun lara menohok hatinya karena itu berarti Ann telah siap untuk pergi darinya, untuk selamanya.

And the precious sentences from Bumi Manusia (535 pages):
Semakin pudar untuk hilang dalam ketiadaan [Page 13]
Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri [page 59]
Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan [page 77]
Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicekam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu [page 89]
Kehidupan senang bagiku bukan asal pemberian, tapi pergulatan sendiri [page 231]
Jangan ikut-ikut jadi hakim tentang sesuatu yang kau tak ketahui dengan pasti [page 272]
Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh pengusaannya atas ilmu dan pengetahuan. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan [page 286]
Ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua [page 310]
Lukisan adalah sastra dalam warna-warni. Sastra adalah lukisan dalam bahasa [page 313]
Selain kisah Tuan Herman Mellema dan Sanikem (Nyai Ontosoroh), buku ini juga menceritakan tentang:
1.    Robert Suurhof, sahabat Minke yang juga berteman dengan Robert Mellema (kakak Annelies Mellema) yang pada akhir cerita diketahui memiliki perasaan istimewa untuk Ann. Alasan utamanya mengajak Minke ketika berkunjung ke Boerderij Buitenzorg adalah untuk memikat hati Ann sekaligus memperlihatkan kekuatan dan kelebihannya dihadapan pribumi hina seperti Minke.
2.    Masa kelam yang membuat Ann menjadi gadis yang sulit ditebak kepribadiannya adalah fakta bahwa ia pernah diperkosa oleh kakaknya sendiri, Robert Mellema. Sebuah kenyataan yang membuatnya begitu takut kehilangan Minke dan tak mendapat kepercayaan darinya, lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati.
3.   Jean Marais, orang Perancis berkaki satu yang kehilangan kakinya ketika menjadi Spandri (serdadu kelas satu) di Aceh. Perjalanan yang membawanya pada cinta seorang perempuan pribumi yang memberikannya seorang anak bernama May Marais. Walau pada akhirnya kematian memaksa mereka untuk berpisah selamanya.
4.     dan masih banyak lagi. dan akan lebih baik jika kalian membacanya sendiri bukan? hehehe.

Jika di luar sana mereka punya Romeo dan Juliet yang harus mati karena cinta yang tak diakui, maka kita bersama Pramoedya memiliki Minke dan Annelies dengan cinta sejati yang tak harus memiliki.
Salam baca!


Jumat, November 22

A.L.I.E.N

Diposting oleh Orestilla di 08.43.00 2 komentar


Matanya mati, tak ada kehidupan disana. Tubuh rampingnya menatap jelaga hitamku dengan pandangan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata. Mulutnya membentuk huruf o kecil pertanda ia tengah meragu akan makhluk sepertiku. Seaneh itu kah aku? Bukankah keberadaannya disini jauh lebih aneh? Ia mendekat. Jarak kami hanya tersisa sekitar 5 langkah lagi. Kutatap takjub makhluk asing didepanku. Benarkah Tuhan memiliki ciptaan selayaknya ia? Mengapa baru hadir setelah jutaan tahun umur bumi? Ingin kutelusuri permukaan kulitnya yang berwarna hijau terang, mempertontonkan perjalanan darah dikedalamannya. Darah? Seperti itukah darah miliknya? Mengapa tidak berwarna merah seperti kepunyaanku? “Sesuatu” yang mengalir di dalam tubuhnya itu berwarna biru kelabu. Cukup membuatku tersentak dan bergidik ngeri.

Ia mendekat selangkah lagi. Dari jarak sedekat ini, indera penciumanku disuguhkan pada sebuah aroma aneh yang menguar dari tubuhnya. Tidak bisa dikatakan wangi karena dengan refleks aku menutup hidungku dengan kedua telapak tangan. Satu tangannya terjulur kearahku. Seperti ingin ku genggam dalam jalin persahabatan. Itukah yang ia mau? Atau jangan-jangan ia ingin menarikku ke dalam dunianya yang tak pernah ku tau dimana letaknya. Beberapa puluh meter di belakang kami terparkir dengan rapi sebuah kendaraan berbentuk tabung silinder super besar yang mengeluarkan cahaya sangat terang. Cahaya yang membuat mataku silau ketika pertama kali menatapnya. Tadi. Saat aku siuman dari tidur panjangku. Pingsan tepatnya.

Ia berteriak. Suaranya membuatku pusing. Aku memegang kepalaku pertanda kesakitan. Telapak tanganku basah. Bukan keringat yang hadir secepat ini. Satu dua tetes darah segar mengalir dari kedua telingaku. Ia menabrakku dengan kekuatan penuh. Tubuh indahnya tadi yang kukagumi ternyata kumpulan lendir berbau busuk yang membuatku ingin muntah. Sebelum aku mati, sebuah kesadaran hadir dibenakku, “Bangsat, ini dia Alien itu!”

Rabu, November 20

Empat untuk Tere Liye

Diposting oleh Orestilla di 08.16.00 0 komentar


Hai. Hai. Lama tak produktif di blog bukan berarti saya tak lagi cinta pada dunia menulis. Kebiasaan buruk menumpuk buku membuat saya berkomitmen dengan diri sendiri untuk menyelesaikan semua buku yang belum saya baca dalam waktu satu bulan. Tapi sepertinya niatan itu belum bisa terealisasi dengan baik. Masih ada 13 buku lagi dan bulan ini sudah berlalu setengahnya. Saya masih membutuhkan waktu untuk mengeksekusi mereka semua. Dan menulis bagi saya bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa disandingkan dengan membaca buku, apalagi dalam jumlah banyak. Saya hanya tak mau tulisan yang nantinya saya hasilkan malah berbau layaknya narasi yang saya lahap di waktu bersamaan. Makanya saya urung dulu untuk menulis beberapa minggu ini. Demikian penjelasannya. Hehe. Agak terdengar lucu karena tidak ada satu pun dari teman-teman yang bertanya sedari awal. Sudahlah. Hahahaha. Bukankah laman ini untuk berbagi? Yang tadi itu berbagi rasa namanya. Curhat.
Oke. Hari ini saya akan membahas bukunya Tere Liye. Hayoooo..siapa sih yang nggak kenal dengan penulis hebat ini? Beberapa bukunya bahkan sudah merambah dunia perfilman Indonesia. Masih ingat kan Hafalan Shalat Delisa? Iya. Film yang sukses menguras habis airmata penontonnya.
Tidak hanya satu, saya akan kupas 4 buku sekaligus. Karena dalam satu minggu ini saya berkutat dengan 4 buku Tere Liye. Mereka adalah Sepotong Hati yang Baru, Berjuta Rasanya, Burlian dan Eliana. Masing-masing buku ini punya keunikan tersendiri di hati dan mata saya. Ada beberapa bagian dari mereka yang saya tandai seperti biasa. Kebiasaan yang selalu saya lakukan ketika membaca sebuah buku. Mencari “the precious sentences” kemudian membagikannya untuk teman-teman yang mungkin saja belum punya waktu untuk membaca. Atau bisa jadi bagian ini akan menarik minat seseorang untuk membaca. Iya kan?





Sepotong Hati yang Baru dan Berjuta Rasanya adalah dua buku yang berisi kumpulan cerpen. Jumlahnya ada 23 cerita pendek, 8 cerpen di Sepotong Hati yang Baru dan 15 lainnya di Berjuta Rasanya. Beberapa dari cerita tersebut ada yang saling berhubungan satu sama lain. Seperti saling melengkapi. Cerita yang satu diceritakan kembali pada buku yang lain dengan memakai sudut pandang yang berbeda. Membacanya tentu saja mengasyikkan. Narasi yang dimiliki oleh Tere Liye bagi saya cukup ringan untuk dinikmati tanpa perlu menghadirkan kerutan indah di kening. Cocok deh untuk mengisi liburan akhir minggu.
Kisah yang membuat saya tergugah di buku Sepotong Hati yang Baru ada pada cerpen berjudul Sie Sie. Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan negeri Singkawang yang mengorbankan hatinya sendiri dengan memutuskan untuk menjadi istri dari seorang asing hanya untuk beberapa lembar rupiah yang ia gunakan demi mendapatkan kesembuhan ibunya. Bukan perkara gampang tentunya berikrar sehidup semati dengan orang yang sama sekali belum pernah bertemu dengan kita sebelumnya. Namun Sie Sie telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi istri yang baik bagi suaminya, suami yang menikahinya dengan alasan klasik yang menyakitkan, apalagi kalau bukan perkara harta. Kesusahan hidup dan kebangkrutan yang menimpa suami Taiwan-nya tak membuat cinta Sie Sie karam begitu saja. Ia tetap bertahan sampai puluhan tahun berselang. Saya belajar arti cinta sejati dari kisah ini. Dan saya semakin yakin dengan keputusan saya sendiri bahwasanya “kita tak harus menikah dengan orang yang mati-matian kita cintai. Namun ketika tiba saatnya menikah nanti, kita harus mencintai orang yang menjadi pasangan hidup kita dengan sepenuh hati.”
Sedangkan di buku Berjuta Rasanya, cerpen berjudul Love Ver 7.0 & Married Ver 9.0 sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak selama membacanya. Bahkan ketika memasuki cerita berikutnya, saya tak bisa membayangkan jika dunia ini nantinya akan benar-benar dibuat gila oleh keajaiban teknologi. Kisah ini menceritakan tentang kehidupan dunia puluhan tahun mendatang, dimana seluruh penghuni bumi telah menjadi budak perkembangan zaman. Ketika perasaan bahkan dengan gampangnya dikendalikan oleh software-software hasil ciptaan manusia. Tak ada lagi yang namanya deg-deg-an ketika mencoba menyampaikan perasaan pada orang yang ditaksir. Tak ada lagi yang namanya makan malam romantis, berdua di penghujung minggu. Semuanya dipalsukan dengan sangat baik oleh alat-alat super hebat. Tidak hanya pacaran saja yang digantikan oleh karakter-karakter dalam games yang mereka ciptakan, bahkan menyusul masalah pernikahan. Bisa dibayangkan apa jadinya dunia bila kita menikah dengan seseorang yang hanya kita temui di dunia maya, bercumbu dan bermanja-manja dengannya hanya melalui layar komputer. Dunia dibuat gila segila-gilanya.
2 buku berikutnya berkisah tentang 2 anak, Burlian dan Eliana. Setiap buku mengisahkan tentang masing-masing anak. Ada 4 buku seharusnya. Dan saya berjanji akan segera menyelesaikan seri yang lain, Amelia dan Pukat. Keempat buku merupakan bagian dari serial anak-anak mamak. Eliana si sulung, Pukat anak kedua, Burlian anak ketiga, dan Amelia si bungsu. Tere Liye dengan lihainya membahas kebiasaan hidup sehari-hari mereka di perkampungan kecil Bengkulu. Keinginan mereka, kegelisahan mereka menantang masa depan dan perjuangan mereka yang bagai tanpa akhir.
Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari 2 buku ini, terutama tentang bagaimana caranya mencintai bumi, tak terkecuali memposisikan kedua orang tua di tempat paling terhormat di muka bumi. Yuk dibaca..
Dalam bab Nakamura-San diceritakan bagaimana sejarah didirikannya Terusan Panama di Amerika. Terusan ini yang menjadi jawaban bagi dunia pelayaran dunia kala itu karena berhasil menghilangkan jarak 12.000 pal yang akan dilayari jika harus memutari Amerika Utara. Tanah genting yang memisahkan Amerika Utara dan Amerika Selatan berjarak sekitar 80 pal itu diubah menjadi sebuah parit raksasa yang menghubungkan Laut Karibia dan Samudera Pasifik, dikerjakan pada tahun 1881-1889 dengan melibatkan puluhan ribu pekerja.
Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah dilakukan mamak (ibu) demi kau, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta serta kasih sayangnya [Burlian, page 214 of 340]
Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia [Eliana, page 32 of 519]
Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya [Eliana, page 81 of 519]
Di buku Eliana ini juga lah saya dipertemukan dengan sebuah puisi karya Chairul Anwar berjudul Penerimaan yang ditulis pada Maret 1943. Begini bunyinya:

Kalau kau mau
Kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih sendiri
Ku tahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk!
Tantang aku dengan berani
Kalau kau mau
Kuterima kau kembali
Untukku sendiri, tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik [Eliana, page 257 of 519]

Satu kata untuk mengakhiri review ini: Penasaran!
Saya masih harus membaca seri yang lain. Saya harus menuntaskan secepatnya buku-buku yang tersisa kemudian segera menemukan Amelia dan Pukat. Iya. Harus.
Salam!

Senin, November 25

Sebuah Pengakuan

Diposting oleh Orestilla di 09.38.00 0 komentar
Matamu menjadi candu yang tak pernah kalah oleh putaran waktu
Tawamu menjadi lagu yang mendayu di setiap lelap tidurku
Tapi itu dulu
Dulu yang padanya kini hatiku teriris kelu
Dulu yang akhirnya kini memaksa hatiku untuk membisu

Kamu hilang bak awan hitam yang lenyap ketika hujan datang
Kamu tiada seperti serpihan kertas dalam kobaran api yang nyala
Ada satu, dua, tiga pesan kata yang belum sempat kusampaikan
Ada satu cinta yang bodohnya dengan sangat rapi kusimpan dari penglihatan
Ya. Penglihatanmu

Ketika denyut cinta itu merekah lagi
Aku harus kuat untuk berjuang sendiri menghadang sepi
Karena kini kamu sudah tak berbayang lagi di sini
Ada hampa ku rasa tanpa jeda
Ada ingin bersua denganmu yang tak kan lagi pernah menjadi nyata

Namun aku sadar aku memang kalah
Aku salah karena mencintamu tanpa tahu arah
Maafkan aku, mohon dengarkan pengakuanku.

Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

Diposting oleh Orestilla di 08.19.00 0 komentar


Buku Bumi Manusia yang saya miliki adalah cetakan ke-18. Salah satu prestasi luar biasa yang dimiliki oleh seseorang yang menghabiskan hampir separuh hidupnya di balik jeruji penjara. Siapa yang tak kenal Pramoedya, siapa yang tak akan kagum pada rangkaian narasinya. Pramoedya punya kekuatan magis yang akan membawa kita kembali pada sebuah peradaban yang telah diberi label “sejarah”. 


Berlatar belakang tahun 1880-an di negeri Surabaya, Pramoedya memperkenalkan seorang muda pribumi yang memiliki kesempatan besar untuk belajar langsung bersama pemuda Eropa dan Indo lainnya. Ia bernama Minke.
Minke (baca: Mingke) si pribumi tulen. Ia adalah anak kedua dari seorang bupati B. Namun Minke besar dan telah menghabiskan lebih banyak waktu dengan neneknya. Minke memiliki ilmu dan prestasi yang mampu mengalahkan pencapaian anak-anak Eropa dan Indo di lingkungannya. Sesuatu hal yang melahirkan rasa iri dan dengki dari berbagai pihak, mengingat ia sama sekali tidak memiliki darah Eropa. Pada waktu itu, pribumi dianggap rendah dan hina.
Persahabatannya dengan Robert Suurhof (teman sepemondokannya saat menuntut ilmu di H.B.S., jalan H.B.S., Surabaya) membawanya pada sebuah pertemuan dengan gadis Indo bernama Annelies Mellema. Putri dari Tuan Herman Mellema dan gundiknya Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama nyai Ontosoroh.
Nama Ontosoroh sendiri hadir tatkala masyarakat sekitar tidak bisa menyebutkan dengan baik kata Buitenzorg. Ya. Tuan Mellema dan Sanikem adalah pemilik Boerderij Buitenzorg (Belanda) yang berarti Perusahaan Pertanian. Beberapa puluh lembar halaman pertama buku ini menceritakan kisah hidup Nyai yang dengan paksaan (dijual) kedua orangtuanya menjadi gundik Tuan Mellema. Perlakuan baik penuh kasih sayang akhirnya meluluhkan hati Nyai. Namun kecintaannya pada sang suami (walau tak pernah diakui secara hukum) tak bisa meredam dendam kesumatnya pada ayah dan ibu kandungnya yang ia anggap telah dengan sangat keji menjualnya pada orang asing tersebut. Pernikahan tidak sah mereka harus berakhir ketika anak kandung Mellema yang berdarah Eropa asli datang, membongkar kebusukan dan masa kelam ayahnya tepat di depan Mellema dan Nyai. Kedatangan Maurits Mellema membuat ayahnya kehilangan jiwa dan semangat hidup dalam sekejab mata. Ia berubah menjadi orang yang tidak lagi mengenal dunia dan hidup dalam ketidakjelasan. Fakta yang harus membuat Nyai berjuang puluhan kali lebih keras dari sebelumnya.
Minke dan Ann jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan Ann sendiri yang harus kehilangan masa kecilnya karena dipercaya untuk mengurus bisnis keluarga saat ayahnya tidak lagi kembali ke rumah setelah kedatangan putra Eropa-nya, seperti menemukan alasan untuk hidup dalam hidup yang sebenarnya. Bahkan ketika Minke harus pulang ke pemondokannya, Annelies jatuh sakit hingga tak sadarkan diri demi menanggung rindu yang bisa saja membuatnya mati.
Setelah melewati berbagai rintang dalam hubungan mereka (yang tak akan saya bahas secara detail di laman ini), akhirnya Minke mempersunting Annelies beberapa hari setelah kelulusannya di H.B.S. Namun kisah sejatinya baru hadir di halaman-halaman terakhir buku ini. Pernikahan yang tidak diakui secara hukum, membuat Nyai harus rela berpisah dengan putri kesayangannya ketika Maurits Mellema (saudara tiri Ann) melalui Pengadilan Amsterdam menggugat seluruh warisan yang ditinggalkan ayahnya (yang sebelumnya mati menggenaskan karena diracuni oleh seorang Tionghoa bernama Ah Tjong). Pengadilan itu pula lah yang mengharuskan Annelies kembali ke tanah leluhurnya. Walau sah secara Islam, pernikahan Ann dan Minke juga dianggap tidak pernah terjadi. Setelah melalui perdebatan alot yang melibatkan banyak pihak serta dibayar dengan pertumpahan darah, Minke dan Nyai tidak memiliki pilihan lain kecuali melepaskan Ann yang mereka kasihi.
Ada yang nyesek ketika mengetahui bahwa perbedaan bangsa dan warna kulit saja bisa menjadi alasan yang sangat kuat pada masa itu untuk memisahkan dua hati yang telah terkunci dalam cinta sejati. Bahkan jika diberikan pilihan, mungkin saja Ann (yang lebih senang diakui sebagai pribumi) akan puas mati di tanah Jawa, dalam dekapan suami yang ia cinta dibandingkan harus kembali ke negeri yang jauh, yang tak pernah ia kenal selama hidupnya. Namun itulah aturan yang berlaku kala itu. Aturan yang sulit diterima akal sehat. Aturan yang dijejalkan pada bangsa kita dibawah jajahan bangsa asing yang tidak hanya mengambil kekayaan bumi Indonesia, namun juga hak-hak mereka sebagai manusia.
Beberapa hari sebelum keberangkatannya, ada satu kalimat yang membuat saya menghela nafas panjang. Menyadari betapa banyak kisah cinta menggetirkan (jika tak bisa disebut sangat menyakitkan) yang berlangsung di luar sana, di tempat dan waktu yang tak terjangkau pemikiran.

“Sekali dalam hidup biarlah aku suapi suamiku.”

Kalimat itu diucapkan Ann ketika matahari menyapa bumi untuk pertama kalinya setelah semalaman ia didongengkan oleh suaminya yang setia. Dongeng yang diharapkan Minke akan membawa Ann kembali sadar. Dongeng yang dulu selalu ia nantikan setiap malam dari suaminya. Ya. Setelah mendengar keputusan kejam akan dirinya, Ann kembali jatuh sakit. Ia menatap Minke dengan tatapan kosong yang tak bisa lagi diartikan. Ia diam ketika ditanya. Tak menggubris apapun yang ada disekitarnya. Ia mati dalam hidup. Dan kalimat tadi adalah kalimat pertama yang membuat Minke berbahagia sekaligus lara. Ia bahagia karena Ann telah kembali tersenyum padanya, ia hidup kembali walau dalam muka pucat pasi di wajah cantik yang ia miliki. Namun lara menohok hatinya karena itu berarti Ann telah siap untuk pergi darinya, untuk selamanya.

And the precious sentences from Bumi Manusia (535 pages):
Semakin pudar untuk hilang dalam ketiadaan [Page 13]
Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri [page 59]
Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan [page 77]
Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicekam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu [page 89]
Kehidupan senang bagiku bukan asal pemberian, tapi pergulatan sendiri [page 231]
Jangan ikut-ikut jadi hakim tentang sesuatu yang kau tak ketahui dengan pasti [page 272]
Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh pengusaannya atas ilmu dan pengetahuan. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan [page 286]
Ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua [page 310]
Lukisan adalah sastra dalam warna-warni. Sastra adalah lukisan dalam bahasa [page 313]
Selain kisah Tuan Herman Mellema dan Sanikem (Nyai Ontosoroh), buku ini juga menceritakan tentang:
1.    Robert Suurhof, sahabat Minke yang juga berteman dengan Robert Mellema (kakak Annelies Mellema) yang pada akhir cerita diketahui memiliki perasaan istimewa untuk Ann. Alasan utamanya mengajak Minke ketika berkunjung ke Boerderij Buitenzorg adalah untuk memikat hati Ann sekaligus memperlihatkan kekuatan dan kelebihannya dihadapan pribumi hina seperti Minke.
2.    Masa kelam yang membuat Ann menjadi gadis yang sulit ditebak kepribadiannya adalah fakta bahwa ia pernah diperkosa oleh kakaknya sendiri, Robert Mellema. Sebuah kenyataan yang membuatnya begitu takut kehilangan Minke dan tak mendapat kepercayaan darinya, lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati.
3.   Jean Marais, orang Perancis berkaki satu yang kehilangan kakinya ketika menjadi Spandri (serdadu kelas satu) di Aceh. Perjalanan yang membawanya pada cinta seorang perempuan pribumi yang memberikannya seorang anak bernama May Marais. Walau pada akhirnya kematian memaksa mereka untuk berpisah selamanya.
4.     dan masih banyak lagi. dan akan lebih baik jika kalian membacanya sendiri bukan? hehehe.

Jika di luar sana mereka punya Romeo dan Juliet yang harus mati karena cinta yang tak diakui, maka kita bersama Pramoedya memiliki Minke dan Annelies dengan cinta sejati yang tak harus memiliki.
Salam baca!


Jumat, November 22

A.L.I.E.N

Diposting oleh Orestilla di 08.43.00 2 komentar


Matanya mati, tak ada kehidupan disana. Tubuh rampingnya menatap jelaga hitamku dengan pandangan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata. Mulutnya membentuk huruf o kecil pertanda ia tengah meragu akan makhluk sepertiku. Seaneh itu kah aku? Bukankah keberadaannya disini jauh lebih aneh? Ia mendekat. Jarak kami hanya tersisa sekitar 5 langkah lagi. Kutatap takjub makhluk asing didepanku. Benarkah Tuhan memiliki ciptaan selayaknya ia? Mengapa baru hadir setelah jutaan tahun umur bumi? Ingin kutelusuri permukaan kulitnya yang berwarna hijau terang, mempertontonkan perjalanan darah dikedalamannya. Darah? Seperti itukah darah miliknya? Mengapa tidak berwarna merah seperti kepunyaanku? “Sesuatu” yang mengalir di dalam tubuhnya itu berwarna biru kelabu. Cukup membuatku tersentak dan bergidik ngeri.

Ia mendekat selangkah lagi. Dari jarak sedekat ini, indera penciumanku disuguhkan pada sebuah aroma aneh yang menguar dari tubuhnya. Tidak bisa dikatakan wangi karena dengan refleks aku menutup hidungku dengan kedua telapak tangan. Satu tangannya terjulur kearahku. Seperti ingin ku genggam dalam jalin persahabatan. Itukah yang ia mau? Atau jangan-jangan ia ingin menarikku ke dalam dunianya yang tak pernah ku tau dimana letaknya. Beberapa puluh meter di belakang kami terparkir dengan rapi sebuah kendaraan berbentuk tabung silinder super besar yang mengeluarkan cahaya sangat terang. Cahaya yang membuat mataku silau ketika pertama kali menatapnya. Tadi. Saat aku siuman dari tidur panjangku. Pingsan tepatnya.

Ia berteriak. Suaranya membuatku pusing. Aku memegang kepalaku pertanda kesakitan. Telapak tanganku basah. Bukan keringat yang hadir secepat ini. Satu dua tetes darah segar mengalir dari kedua telingaku. Ia menabrakku dengan kekuatan penuh. Tubuh indahnya tadi yang kukagumi ternyata kumpulan lendir berbau busuk yang membuatku ingin muntah. Sebelum aku mati, sebuah kesadaran hadir dibenakku, “Bangsat, ini dia Alien itu!”

Rabu, November 20

Empat untuk Tere Liye

Diposting oleh Orestilla di 08.16.00 0 komentar


Hai. Hai. Lama tak produktif di blog bukan berarti saya tak lagi cinta pada dunia menulis. Kebiasaan buruk menumpuk buku membuat saya berkomitmen dengan diri sendiri untuk menyelesaikan semua buku yang belum saya baca dalam waktu satu bulan. Tapi sepertinya niatan itu belum bisa terealisasi dengan baik. Masih ada 13 buku lagi dan bulan ini sudah berlalu setengahnya. Saya masih membutuhkan waktu untuk mengeksekusi mereka semua. Dan menulis bagi saya bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa disandingkan dengan membaca buku, apalagi dalam jumlah banyak. Saya hanya tak mau tulisan yang nantinya saya hasilkan malah berbau layaknya narasi yang saya lahap di waktu bersamaan. Makanya saya urung dulu untuk menulis beberapa minggu ini. Demikian penjelasannya. Hehe. Agak terdengar lucu karena tidak ada satu pun dari teman-teman yang bertanya sedari awal. Sudahlah. Hahahaha. Bukankah laman ini untuk berbagi? Yang tadi itu berbagi rasa namanya. Curhat.
Oke. Hari ini saya akan membahas bukunya Tere Liye. Hayoooo..siapa sih yang nggak kenal dengan penulis hebat ini? Beberapa bukunya bahkan sudah merambah dunia perfilman Indonesia. Masih ingat kan Hafalan Shalat Delisa? Iya. Film yang sukses menguras habis airmata penontonnya.
Tidak hanya satu, saya akan kupas 4 buku sekaligus. Karena dalam satu minggu ini saya berkutat dengan 4 buku Tere Liye. Mereka adalah Sepotong Hati yang Baru, Berjuta Rasanya, Burlian dan Eliana. Masing-masing buku ini punya keunikan tersendiri di hati dan mata saya. Ada beberapa bagian dari mereka yang saya tandai seperti biasa. Kebiasaan yang selalu saya lakukan ketika membaca sebuah buku. Mencari “the precious sentences” kemudian membagikannya untuk teman-teman yang mungkin saja belum punya waktu untuk membaca. Atau bisa jadi bagian ini akan menarik minat seseorang untuk membaca. Iya kan?





Sepotong Hati yang Baru dan Berjuta Rasanya adalah dua buku yang berisi kumpulan cerpen. Jumlahnya ada 23 cerita pendek, 8 cerpen di Sepotong Hati yang Baru dan 15 lainnya di Berjuta Rasanya. Beberapa dari cerita tersebut ada yang saling berhubungan satu sama lain. Seperti saling melengkapi. Cerita yang satu diceritakan kembali pada buku yang lain dengan memakai sudut pandang yang berbeda. Membacanya tentu saja mengasyikkan. Narasi yang dimiliki oleh Tere Liye bagi saya cukup ringan untuk dinikmati tanpa perlu menghadirkan kerutan indah di kening. Cocok deh untuk mengisi liburan akhir minggu.
Kisah yang membuat saya tergugah di buku Sepotong Hati yang Baru ada pada cerpen berjudul Sie Sie. Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan negeri Singkawang yang mengorbankan hatinya sendiri dengan memutuskan untuk menjadi istri dari seorang asing hanya untuk beberapa lembar rupiah yang ia gunakan demi mendapatkan kesembuhan ibunya. Bukan perkara gampang tentunya berikrar sehidup semati dengan orang yang sama sekali belum pernah bertemu dengan kita sebelumnya. Namun Sie Sie telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi istri yang baik bagi suaminya, suami yang menikahinya dengan alasan klasik yang menyakitkan, apalagi kalau bukan perkara harta. Kesusahan hidup dan kebangkrutan yang menimpa suami Taiwan-nya tak membuat cinta Sie Sie karam begitu saja. Ia tetap bertahan sampai puluhan tahun berselang. Saya belajar arti cinta sejati dari kisah ini. Dan saya semakin yakin dengan keputusan saya sendiri bahwasanya “kita tak harus menikah dengan orang yang mati-matian kita cintai. Namun ketika tiba saatnya menikah nanti, kita harus mencintai orang yang menjadi pasangan hidup kita dengan sepenuh hati.”
Sedangkan di buku Berjuta Rasanya, cerpen berjudul Love Ver 7.0 & Married Ver 9.0 sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak selama membacanya. Bahkan ketika memasuki cerita berikutnya, saya tak bisa membayangkan jika dunia ini nantinya akan benar-benar dibuat gila oleh keajaiban teknologi. Kisah ini menceritakan tentang kehidupan dunia puluhan tahun mendatang, dimana seluruh penghuni bumi telah menjadi budak perkembangan zaman. Ketika perasaan bahkan dengan gampangnya dikendalikan oleh software-software hasil ciptaan manusia. Tak ada lagi yang namanya deg-deg-an ketika mencoba menyampaikan perasaan pada orang yang ditaksir. Tak ada lagi yang namanya makan malam romantis, berdua di penghujung minggu. Semuanya dipalsukan dengan sangat baik oleh alat-alat super hebat. Tidak hanya pacaran saja yang digantikan oleh karakter-karakter dalam games yang mereka ciptakan, bahkan menyusul masalah pernikahan. Bisa dibayangkan apa jadinya dunia bila kita menikah dengan seseorang yang hanya kita temui di dunia maya, bercumbu dan bermanja-manja dengannya hanya melalui layar komputer. Dunia dibuat gila segila-gilanya.
2 buku berikutnya berkisah tentang 2 anak, Burlian dan Eliana. Setiap buku mengisahkan tentang masing-masing anak. Ada 4 buku seharusnya. Dan saya berjanji akan segera menyelesaikan seri yang lain, Amelia dan Pukat. Keempat buku merupakan bagian dari serial anak-anak mamak. Eliana si sulung, Pukat anak kedua, Burlian anak ketiga, dan Amelia si bungsu. Tere Liye dengan lihainya membahas kebiasaan hidup sehari-hari mereka di perkampungan kecil Bengkulu. Keinginan mereka, kegelisahan mereka menantang masa depan dan perjuangan mereka yang bagai tanpa akhir.
Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari 2 buku ini, terutama tentang bagaimana caranya mencintai bumi, tak terkecuali memposisikan kedua orang tua di tempat paling terhormat di muka bumi. Yuk dibaca..
Dalam bab Nakamura-San diceritakan bagaimana sejarah didirikannya Terusan Panama di Amerika. Terusan ini yang menjadi jawaban bagi dunia pelayaran dunia kala itu karena berhasil menghilangkan jarak 12.000 pal yang akan dilayari jika harus memutari Amerika Utara. Tanah genting yang memisahkan Amerika Utara dan Amerika Selatan berjarak sekitar 80 pal itu diubah menjadi sebuah parit raksasa yang menghubungkan Laut Karibia dan Samudera Pasifik, dikerjakan pada tahun 1881-1889 dengan melibatkan puluhan ribu pekerja.
Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah dilakukan mamak (ibu) demi kau, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta serta kasih sayangnya [Burlian, page 214 of 340]
Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia [Eliana, page 32 of 519]
Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya [Eliana, page 81 of 519]
Di buku Eliana ini juga lah saya dipertemukan dengan sebuah puisi karya Chairul Anwar berjudul Penerimaan yang ditulis pada Maret 1943. Begini bunyinya:

Kalau kau mau
Kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih sendiri
Ku tahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk!
Tantang aku dengan berani
Kalau kau mau
Kuterima kau kembali
Untukku sendiri, tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik [Eliana, page 257 of 519]

Satu kata untuk mengakhiri review ini: Penasaran!
Saya masih harus membaca seri yang lain. Saya harus menuntaskan secepatnya buku-buku yang tersisa kemudian segera menemukan Amelia dan Pukat. Iya. Harus.
Salam!

 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea