Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 10

Suamiku, si lelaki tangguh

Diposting oleh Orestilla di 10.13.00 2 komentar


Wajahnya terlihat sangat kuyu malam itu. Kemeja lusuh yang kami beli beberapa tahun yang lalu basah oleh keringat. Namun senyum yang sama tetap bertahan disana, senyum yang sedari dulu ia persembahkan untukku. Aku yang tengah menyusui puteri kecil kami, berdiri menyongsongnya, mencium tangannya dan membawanya ke keningku. Kening yang kemudian ia kecup dengan penuh kasih sayang sebelum mencium mesra Khaila, buah hati kami.
“Udah makan Ummi?” tanyanya sembari berganti pakaian.
Mataku terbeliak mendapati lebam di bahu kirinya. “Bahu Abi kenapa?” tanyaku tanpa terlebih dulu menjawab pertanyaannya.
Ia berbalik menatapku dan kembali tersenyum, “Tadi ketimpa balok Mi. Nanti Abi olesin balsem aja. Aman kok. Ummi masak apa malam ini? Abi lapar.” jawabnya panjang lebar. Aku tahu ia tengah mengalihkan pembicaraan. Kebiasaan suamiku yang tak pernah mau membebaniku walau hanya karena masalah yang ia anggap sepele.
Aku ikut tersenyum, menyerahkan Khaila yang sudah kenyang kepangkuannya dan menyiapkan makan malam untuk suami tangguhku. Makan malam sederhana. Sepiring nasi putih dengan lauk tempe, sedikit sambel (karena ia tak suka pedas) dan sayur bayam rebus favoritnya. Aku menyerahkan makan malam minimalis yang ia terima dengan penuh suka cita. Ia makan dengan lahap, sementara aku menontonnya dengan mata berlinang.
Sehat terus ya Bi. Maafkan Ummi jika belum bisa membantu. Laraku dalam hati.
***
Imran Wahyudi. Lelaki keturunan Tionghoa yang berkomitmen untuk menikahiku secara Islam dengan resiko meninggalkan hidupnya yang penuh kemewahan. Mas Imran memang putera sulung seorang pengusaha terkenal di kota kami, Surabaya. Kenekatannya untuk mempersunting perempuan biasa sepertiku mendatangkan amarah dari seluruh keluarga besarnya. Belum lagi keinginannya untuk memeluk agama yang sama denganku. Puncaknya, ia diusir dari rumah, fasilitas hidup dari orangtuanya disita dan sekarang, ia hidup melarat bersamaku.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, Mas Imran bekerja sebagai kuli bangunan. Pilihan terakhir ketika ijazah perguruan tinggi yang ia miliki tidak diterima oleh satu perusahaan pun. Ia yang dahulunya hidup serba ada, harus membanting tulang sepanjang hari. Di awal-awal pekerjaannya, tak jarang Mas Imran jatuh sakit. Namun ia tak pernah sedikit pun mengeluh.
Aku yang sering tidak tahan melihat kesakitannya, sering menangis dalam sujudku. Bahkan pernah menyesali keputusanku untuk menikah dengannya.
“Jika menyesal, berarti Ummi nggak cinta dong sama Abi?” ucapnya suatu hari karena tangisanku yang tak kunjung berhenti.
“Cinta Abi, tentu saja. Ummi hanya tidak sanggup melihat Abi seperti ini. Andai Ummi bisa bantu, Ummi akan lakukan apa saja.” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang dulu berkulit putih bersih, sekarang berganti hitam legam karena terbakar matahari.
Ia mengusap kepalaku. “Kalau cinta, Ummi harus jadi penguat untuk Abi. Kalau Ummi selalu cinta, Abi akan kuat menjalani ini semua. Abi hanya ingin Ummi dan Khaila berkecukupan.”
“Maafin Ummi..”
“Sudah..jangan minta maaf terus. Lagian ini semua juga Abi lakukan demi tanggung jawab Abi sebagai suami dan ayah yang baik. Ummi mau lihat Abi mendekam di neraka sana karena menelantarkan anak istri? Nggak kan?” tanyanya lagi sembari tersenyum memamerkan gigi-giginya.
Aku menyuruk lebih dalam ke pelukannya. Ah. Andai aku punya kekuatan lebih. Semua yang ku punya kan kutransferkan untuknya.
***
“Kalau Bu Aida bisa, hari ini saya tunggu di rumah.” Bu Hasan, pemilik rumah kontrakan kami baru saja datang menagih uang bulanan. Beliau orang yang baik dan mengerti dengan kehidupan keluarga kami yang sedang sulit. Bahkan tidak sedikitpun wajahnya menunjukkan kemarahan ketika sekali lagi aku terlambat membayar kontrakan.
Aku baru saja meminta kemurahannya untuk memberikan pekerjaan untukku. Kuli cuci. Hanya itu kepandaian yang kumiliki. Aku sudah bertekad untuk membantu suamiku. Sebagai perempuan yang berperasaan, aku tidak bisa berdiam diri saja menunggu nafkah yang bahkan tidak mampu mencukup kebutuhan hidup kami setiap harinya.
Kugendong Khaila. Dengan berjalan kaki, aku menyusuri jalan berkerikil menuju rumah Bu Hasan. Setibanya disana, kutidurkan Khaila di sebuah dipan bambu yang terletak di bagian belakang rumah, bersebelahan dengan sumur, kantor baruku. Khaila yang tidak pernah rewel membuatku nyaman dalam menyelesaikan pekerjaan. Di umur sekecil ini ia sudah mampu memahami kesulitan orangtuanya.
“Kalau cuciannya udah beres, jangan lupa makan dulu ya Bu Aida. Kebetulan tadi saya bikin nasi goreng.” teriak Bu Hasan dari dalam rumah.
“Iya Bu.” jawabku yang tengah sibuk menjemurkan pakaian-pakaian itu.
“Kardus-kardusnya taruh di dapur saja Pak Imran. Di depan sudah penuh.” teriakan Bu Hasan berikutnya menghentikan kegiatannya. Deg. Dadaku berdegup kencang mendengar nama itu diucapkan. Bukankah itu nama suamiku? Tapi apa yang sedang dikerjakannya di rumah ini? Bukankah tadi pagi Mas Imran pamit untuk bekerja di tempat biasa?
Kubereskan pekerjaanku secepatnya, kuambil Khaila yang tengah tertidur lelap dan kulangkahkan kakiku ke dalam rumah Bu Hasan dengan kaki bergetar.
“Abi..” suaraku tercekat saat melihat lelaki tangguhku tengah mengangkat puluhan dus ke dalam dapur. Wajahnya bersimbah keringat. Badannya terbungkuk-bungkuk karena membawa beban yang sangat berat.
“Ummi..lagi ngapain disini?”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tenggorokanku tercekat. Mataku panas. Aku berlari pulang dan menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah..bagaimana mungkin aku sanggup menatap matanya yang sudah layu seperti itu? Bahkan tadi pagi pun hanya air putih yang mampu kuhidangkan untuk sarapannya.
Kudekap Khaila ke dadaku. Bayi itu ikut menangis bersamaku.
***
“Abi melakukan kesalahan besar kemaren di tempat kerja. Hadiahnya, Abi harus rela kehilangan pekerjaan lagi. Abi pikir daripada berkeluh kesah di rumah, lebih baik mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Khaila perlu ASI yang sehat Mi. Dan untuk itu semua, Ummi juga harus sehat, makan makanan yang bergizi.” Mas Imran berbicara sembari menunduk dihadapanku. Kami baru saja selesai melaksanakan Shalat Isya berjamaah.
“Ini Bi.” Kusodorkan beberapa lembar rupiah ke tangannya. “Istri tercinta Abi tadi udah coba-coba kerja. Dapet segini. Buat beli peci Abi. Yang ini udah jelek.” tambahku sambil menyambar peci kusamnya. Kudekap peci itu.
“Peci jelek bukan masalah besar Ummi. Yang penting imannya tambah bagus. Sudah. Uangnya Ummi simpan. Dan besok, tugas utama Ummi hanya menjaga Khaila dengan baik.” jawabnya tersenyum padaku. Kupeluk tubuhnya sembari bersyukur pada Allah telah mempercayakan hidupku pada lelaki tangguh sepertinya.


Senin, Desember 2

Pada hujan, cinta bercerita

Diposting oleh Orestilla di 10.06.00 0 komentar


Hujan gerimis di luar sana. Cintya merapatkan baju hangat yang ia pakai di luar piyama berwarna merah muda miliknya. Memang tak deras dan mereka terpisahkan oleh sebuah jendela besar berkaca tebal, tapi dinginnya mampu menusuk hingga tulang. Ditangannya tampak secangkir minuman yang masih mengepul, pertanda baru saja diseduh. Cintya tengah menatap hujan dari jendela apartemennya di lantai 27 yang berdiri tegak di jantung Kota Jakarta. Jendela besar berukuran kira-kira 3 x 2 meter ini memang menjadi tempat favoritnya. Sengaja ia meletakkan sebuah sofa besar disana agar ia bisa lebih leluasa dan nyaman menikmati pemandangan dari kamarnya sendiri. Jendela ini memang hampir menghabiskan satu dinding untuk terpatri dengan rapi. Dari jendela ini pula Cintya berhasil menangkap banyak hal dan pelajaran. Bersamanya ia menemukan pagi cerah tanpa awan, malam dingin berhujan, kebisingan kota dengan ribuan kendaraannya yang tanpa henti, warna-warni kebahagiaan dan juga kesendirian yang tak mampu ia pahami. Di sofa tersebut Cintya selalu menyelesaikan pekerjaannya di salah satu perusahaan IT terbesar milik seorang Jepang bernama Miwa Miyoshi. Kegemarannya menulis puisi juga sering ia tuangkan di tempat ini. Tak hanya itu saja, bahkan makan, membaca buku, menonton puluhan film dari notebook, semua ia lakukan di depan jendela kebanggaannya, dipelukan si sofa putih besar.
Cintya menyesap minumannya. Matanya terpejam. Meresapi tetes demi tetes hujan yang masih membuai pagi. Minggu yang menyenangkan baginya walaupun hanya akan dihabiskannya di dalam kamar seperti ini seharian penuh. Libur akhir pekan memang menjadi sesuatu yang sangat jarang sekali ia dapatkan. Kesibukannya yang bagai tak berujung memaksanya untuk tetap bekerja, sementara ada banyak orang di luar sana yang bisa menikmati waktu-waktu berharga bersama keluarganya. Dan setelah bekerja keras berhari-hari dalam sebuah proyek, ia mendapatkan kembali waktu senggangnya.
Bibirnya siap untuk menyesap minumannya kembali. Namun tanpa disadarinya, cangkir itu telah kosong. Dengan gerakan malas, Cintya tertatih menuju dapur kecil miliknya. Apartemen ini memang sangat cocok dihuni oleh satu orang saja. Istananya ini hanya terdiri dari tiga ruangan: kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Jangan bayangkan dapur lengkap milik seorang nyonya di sebuah rumah mewah. Cintya cukup sulit menemukan meja makan mungil yang sekarang menghiasi dapur yang ia dekorasi dengan sangat apik. Cintya memang suka sekali mengoleksi barang-barang unik. Ia bisa membeli dengan harga tinggi jika barang tersebut memang terlihat cantik dimatanya. Namun tak sedikit yang ia dapatkan dengan harga murah. Jadilah dapurnya yang kecil ini terlihat meriah dengan pernak-pernik warna-warni yang bertebaran di segala penjuru. Tangannya mengaduk minuman untuk cangkir kedua di pagi ini.
Saat ia hendak berjalan kembali kesinggasananya di sofa besar putih di ujung ruang tidur, mata Cintya menangkap sebuah buku yang tergeletak dibawah rak buku gantungnya. Cintya memang hobi sekali membaca buku. Jumlah buku yang sudah mencapai ratusan dan ruang apartemen yang sempit membuatnya menemukan ide baru untuk menyulap satu dinding kamarnya menjadi sebuah rak buku cantik. Jemarinya menggapai buku tersebut. Sebuah buku sastra. Seketika air matanya berlinang. Bukan karena isi buku yang menyayat hati, tapi lebih disebabkan pada ingatan tentang seseorang yang tiba-tiba saja hadir dalam bayangannya. Seseorang yang beberapa bulan lalu menghadiahkan buku itu untuknya. Seseorang yang ia rindukan, Bagas.
“Aku tadi nemenin klien ke toko buku. Kebetulan mau nyari referensi untuk proyek kami berikutnya.” ujar Bagas dengan senyum menawan yang sedari dulu membuat Cintya jatuh cinta berulang kali. “Dan aku nemu buku ini. Kayaknya cocok buat kamu Tya.” tambahnya lagi. 
Mereka sedang makan malam saat itu. Bagas menemukan sebuah cafe baru di pinggiran Jakarta yang cukup menampik suara bising seperti yang setiap hari mereka temui. Malam itu malam istimewa untuk mereka karena dua tahun yang lalu mereka memulai hubungan spesial tersebut. Tidak hanya buku, malam itu Bagas juga menghadiahkan sebuah cincin untuknya, sembari berjanji akan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Sesuatu yang selama ini seakan terkubur begitu saja. Kesibukan mereka berdua membuat mereka bahkan tidak lagi memiliki banyak waktu untuk bersama, banyak waktu untuk merenda asa dan merencanakan masa depan. Walaupun hidup di kota yang sama, bernafas di bawah langit Kota Jakarta, Cintya dan Bagas seakan bekerja di dua benua yang berbeda karena sulit dan sedikitnya kuantitas pertemuan mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Cintya tersenyum. Kenangan indah itu terlalu sulit untuk dilupakan. Ia meraih buku tersebut. Mendekapnya. Seakan dengan bersikap seperti itu, Bagas ada bersamanya, ada didekatnya. Kakinya melangkah pelan kembali ke jendela besar dengan sofa putih. Dihempaskan badannya begitu saja sembari mendesah pelan. Ia buka kembali buku sastra tersebut. Tidak hanya sekali, buku itu sudah ia tamatkan hingga berkali-kali. Namun hanya dengan membacanya saja, Cintya selalu merasa sosok Bagas hadir bersamanya.
Hujan sekarang turun lebih deras. Jakarta di akhir pekan seperti ini terlihat lebih lengang dibandingkan hari biasa. Namun bukan berarti jalan raya yang terbentang di bawah sana kosong. Masih ada puluhan bahkan ratusan mobil yang melintas. Jalan Raya. Ingatannya kembali pada pertemuan pertamanya dulu dengan Bagas. Sore itu, akhir pekan yang juga berhujan seperti pagi ini. Cintya yang sengaja datang ke toko buku dengan bus kota dan tanpa persiapan sama sekali, tiba-tiba saja disambut oleh hujan yang luar biasa derasnya. Setelah menunggu selama beberapa jam dan hujan tak kunjung reda, Cintya memutuskan untuk menunggu taksi di sebuah halte yang memang terletak persis di depan toko buku tersebut. Baru saja hendak melangkahkan kaki, ada seseorang yang menubruknya dari belakang. Kantong plastik berisi penuh buku yang tergenggam erat ditangannya jatuh berantakan dan basah. Seketika kemarahan menguasainya. Ingin berteriak sekuat mungkin pada si pelaku yang dengan sigap segera mengemasi buku-bukunya yang sebahagian besar sudah hancur berantakan. Tapi teriakannya tak pernah sampai. Lelaki dengan tinggi hampir mencapai 180 cm dengan postur sempurna, berkulit sawo matang dengan mata gelap menawan itu menatapnya dengan penuh penyesalan.
 “Maaf Mbak. Saya tadi buru-buru.” ucapnya sambil menyerahkan kantong buku Cintya tadi. 
Masih dengan tatapan kekaguman, Cintya kehilangan kata-kata untuk diutarakan. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa saat itu mereka berdua tengah berdiri di bawah guyuran hujan yang semakin menjadi. Tangan kokoh Bagas mencengkram lengannya, mengajaknya berteduh di halte tujuannya tadi.
“Sekali lagi saya minta maaf Mbak. Kalau boleh di cek dulu bukunya. Yang rusak akan saya ganti.” tambah Bagas lagi berusaha untuk membuat keadaan membaik. 
Cintya menatap sekantong buku yang ada ditangannya, ia memilih tersenyum dan berkata, “Nggak apa-apa Mas. Ini kayaknya masih bisa dibaca kok.” jawabnya sembari tersenyum getir. 
Getir karena ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya. Bagas kemudian memberikannya tumpangan sebagai bentuk permohonan maaf atas ketidaksengajaan yang membuatnya terlihat seperti orang yang akan dijatuhi hukuman pancung. Namun dengan sopan Cintya menolaknya. Selain karena mereka memang baru saja berkenalan, jantungnya yang tak mau berdetak normal membuat Cintya ragu akan baik-baik saja dalam perjalanan pulangnya nanti bersama Bagas. Maka berpisahlah mereka sore itu. Jauh di dalam hatinya, Cintya berharap akan dipertemukan kembali dengan lelaki tampan, baik, memikat, bertanggung jawab dengan senyum sempurna milik Bagas.
Cintya meletakkan buku tersebut dipangkuannya. Diteguknya coklat panas tadi dua kali. Tangannya menyusuri jendela besar berkaca tebal didepannya. Dia mulai mengukir sebuah nama, Bagaskara. Pikirannya melayang kembali pada kisah berikutnya. Masih bersama hujan.
“Aku pikir kamu masih kuliah lo.” ujar Bagas dari kursi depan mercedes hitam yang setengah jam lalu menjemput Cintya dikantornya, “Ternyata cuma beda dua tahun.” tambahnya lagi sembari memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi dan bersih. 
Senyumnya masih memikat seperti pertama kali mereka bertemu. “Iya.” jawab Cintya singkat. Dia seakan kehilangan kosakata dan kemampuan untuk berbicara banyak hal bila berhadapan dengan lelaki ini. Padahal di lingkungan kantor dan sahabat-sahabatnya, Cintya dikenal sebagai pribadi heboh yang tak pernah bisa diam. Pagi itu, Naomi, rekan satu divisinya memang sudah mengatur jadwal pertemuan antara perusahaan mereka dengan perusahaan asing yang juga sedang berkembang di Kota Jakarta. Sesuai dengan perencanaan program dan kegiatan tahun ini, kedua perusahaan tersebut akan berkolaborasi dan bekerja sama dalam mengembangkan sebuah proyek. Dan takdir kemudian mempertemukan Cintya dan Bagas sebagai wakil dari perusahaan mereka masing-masing. Setelah selesai membahas tentang proyek dalam rapat yang menghabiskan waktu berjam-jam lamanya, Bagas dan beberapa orang rekan yang lain mengajak Cintya untuk makan malam di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota mereka. Rasa lapar dan lelah luar biasa membuat Cintya segera mengangguk pada tawaran pertama. Lagipula ia berharap kesempatan ini bisa menjadi sebuah peluang untuk bisa mengenal Bagas lebih dekat lagi. Malam itu hujan turun dengan deras. Rasa lelah luar biasa yang ia rasakan, sekali lagi membuat Cintya tidak menolak ketika Bagas mengajaknya berangkat dengan mobil yang sama. Maka disitulah kini ia berada, persis di kursi belakang mobil Bagas. Kebetulan yang menjadi driver mereka malam itu adalah rekan kerja sekaligus sahabat Bagas sendiri, Aryo. Sementara ajakan Cintya pada Naomi agar menemaninya malam itu ditolak mentah-mentah oleh temannya tersebut karena ia juga sudah punya janji makan malam dengan kekasihnya. Bagas dan Aryo terlibat pembicaraan seru tanpa sedikitpun sadar akan keberadaannya. Maka ia mulai menuliskan namanya di kaca mobil yang sedikit buram karena Aryo sengaja mengecilkan volume air conditioner mobil tersebut. Cintya mulai menuliskan namanya, menggambar kartun-kartun lucu yang terlintas begitu saja dipikirannya dan tanpa ia sadari, Bagas diam-diam memperhatikan kelakuannya sambil tersenyum kecil. Malam itu mereka menghabiskan malam dengan menceritakan banyak hal, walaupun sebahagian besar pembicaraan lebih mengarah pada prospek proyek mereka kedepannya. Malam itu juga Bagas dan Aryo mengantarnya ke apartemen.
Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong. Bunyi bel membuyarkan lamunannya. Cintya bangun dari sofa dan dengan malas menyeret langkahnya ke pintu masuk. Begitu daun pintu terbuka, ia melihat seorang lelaki tua yang sudah sangat dikenalnya, Pak Burhan. “Ini Mbak Tia. Ada titipan dari ibu. Kemaren malam Ibu liat Mbak Tia pulangnya sudah larut. Pasti belum sarapan.” kata Pak Burhan sambil menyerahkan sebuah rantang makanan. Pak Burhan dan istrinya adalah tetangga Cintya yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya sendiri. Cintya memang tinggal jauh dari keluarganya. Ayahnya sekarang berada di Malaysia, sementara Ibunya yang sudah bercerai dengan ayahnya sejak Cintya berumur 7 tahun saat ini berdomisili di Kota Padang. Sementara satu-satunya adik yang ia miliki, tengah menyelesaikan pendidikannya di Florida, Amerika Serikat. Cintya memang berasal dari keluarga broken home. Kegagalan rumah tangga kedua orangtuanya membuat Cintya tumbuh menjadi gadis yang kesepian dan selalu mendambakan kasih sayang. Hal itu pula lah yang akhirnya membuat ia dekat dengan Bapak Burhan dan istrinya. “Bapak mau jalan sama Ibu. Mau nyari buah dulu. Kamu mau ikut?” tanya Pak Burhan kemudian. “Nggak Pak. Aku mau istirahat aja. Tiduran.” jawab Cintya yang langsung dibalas anggukan oleh orang tua tadi. Cintya kembali masuk kekamarnya. Sambil menenteng rantang makanan tadi, pikirannya kembali pada Bagas. Bahkan kerinduannya meluap hanya dengan melihat sebuah rantang.
Mumpung masih panas, sup ayam buatan Bu Burhan sepertinya bisa jadi makan malam yang pas untuk Bagas. Malam itu Cintya memang baru saja diantarkan makan malam oleh Bu Burhan. Namun pesta ulang tahun Naomi sepulang dari kantor tadi, sudah membuat perutnya benar-benar kenyang. Seketika ia teringat Bagas dan pekerjaannya yang menumpuk. Tadi sebelum pulang, Cintya sempat menghubunginya lewat telepon genggam dan ia mendapat kabar bahwa Bagas mungkin saja akan menginap dikantornya malam ini. Setelah mandi dan berdandan secantik yang Bagas suka, Cintya melangkahkan kakinya ke kantor Bagas malam itu dengan riang gembira. Cintya yang hari itu bisa pulang sore merasa bahwa ini adalah kesempatan langka, menemui Bagas yang masih sibuk bekerja, membawakan malam malam kejutan khusus untuknya dan menyediakan waktu sebanyak mungkin yang Bagas butuhkan. Ya. Setidaknya hanya untuk malam itu saja. Cintya menekan tombol lift di lantai yang ia yakini adalah tempat dimana Bagas sedang sibuk dengan tugasnya. Lift terbuka dan Cintya harus menahan napas agar degup jantungnya tidak sampai ke seberang sana. Jauh dari tempatnya kini berada, Bagas sedang duduk bersama seorang perempuan muda, cantik dan tampak sedikit agresif. Mata perempuan itu tak henti-hentinya memandang wajah tampan kekasihnya. Hal itu membuat perut Cintya terasa bergolak. Ada sesuatu didalam tubuhnya yang ingin meluap. Kakinya membeku, lidahnya kelu. Ia tak sanggup bergerak dan berkata apalagi ketika tangan Bagas mulai menyentuh anak-anak rambut si perempuan muda. Matanya mulai memanas. Jantungnya berdegup sangat cepat. Tangannya mulai lemah dan ia tak bisa menahan lebih lama lagi ketika rantang yang sedang ia genggam jatuh. Suara rantang yang beradu akting dengan lantai menggema di seluruh ruangan. Puluhan mata memandangnya. Tak terkecuali kedua mata Bagas, mata yang padanya Cintya jatuh cinta bahkan hingga detik ini. Bagas menghambur kearahnya. Begitu juga dengan perempuan muda cantik yang tampak sangat terkejut. Setelah itu Cintya tidak lagi tahu apa yang berlaku disana, dibalik yang tertutup rapat, jauh sebelum Bagas sampai didekatnya. 
Cintya menghapus airmata yang mengalir sehebat hujan di luar jendela. Tanpa ia sadari, tangannya tengah memeluk rantang berisi bubur ayam yang dengan penuh kasih dimasak oleh Bu Burhan untuknya. Cintya memandang sendu keluar jendela. Apakah ada sebuah penelitian yang berhasil membuktikan bahwa hujan berbanding lurus dengan perasaan seseorang? tanyanya membatin. Matanya menatap hujan yang masih bersuka ria. Pikirannya kembali menerawang.
Kamu nggak bisa main hilang kayak gini Tia. Ada banyak hal yang harus aku jelaskan sebelum semuanya kamu nilai dari sudut pandangmu sendiri. Aku memang salah. Maafkan.
Pesan terakhir yang Cintya terima dari Bagas setelah hampir selama satu bulan penuh sejak kejadian memiriskan itu. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali Bagas mencoba menghubunginya, namun Cintya sudah kehilangan rasa percaya. Walau cinta itu masih melekat kuat dihatinya, kata-kata maaf dari Bagas seolah menyiratkan hubungannya dengan perempuan muda cantik itu bukanlah hubungan biasa. Satu alasan Cintya menolak semua permintaan Bagas adalah hatinya sendiri yang belum siap untuk tersakiti lebih dalam lagi. Beberapa kali pula Bagas mencoba datang langsung ke apartemennya, tapi Cintya tetap teguh memegang keputusannya untuk tidak lagi menemui Bagas. Ia belum siap dan tak pernah tahu kapan akan bisa menyiapkan hatinya.
“Aku dapat bonus dari perusahaan. Mau nggak ikut aku jalan-jalan ke Lombok?” tanya Bagas suatu malam, tengah malam tepatnya karena jam dinding di kamar Cintya sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. 
Malam itu Cintya baru saja sampai di apartemen setelah selesai meeting dikantornya, begitu pula halnya dengan Bagas. Bahkan parahnya, Bagas masih dalam perjalanan pulang. “Oya? Pengen banget Gas. Tapiii..gimana caranya ijin dari kantor?” suara Cintya tiba-tiba berubah memelas karena ingat dengan tumpukan pekerjaan yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. 
Bagas tertawa diseberang sana, “Iya. Aku ingat kok sama kerjaan kamu yang segunung itu.” ucapnya masih diselingi tawa, “Kamu nyusul pas weekend aja bisa kan?” tawarnya lagi. 
Dan demi tercapainya planning mereka malam itu, Cintya bekerja mati-matian selama lima hari agar surat ijin yang ia layangkan pada atasannya bisa dipenuhi. Setiap malam ia pulang hanya untuk berganti pakaian dan kembali lagi ke kantor, sementara Bagas sudah terlebih dahulu menikmati liburannya bersama Aryo dan teman-temannya yang lain. Sabtu pagi berikutnya, dengan mata merah dan rasa kantuk luar biasa, Cintya terbang dengan pesawat pertama menuju Denpasar. Dan ketika matanya menemukan mata teduh menenangkan milik Bagas, semua rasa lelah yang ia bawa dari Jakarta seakan menguap begitu saja. Setelah menghabiskan beberapa jam di Denpasar, mereka melaju ke tanah Lombok. Cintya benar-benar menikmati liburan super singkat yang ia lalui bersama Bagas. Malam terakhir sebelum kepulangannya ke Jakarta, langit Lombok menghadiahkan hujan. Cintya tengah menikmati angin malam di daerah pesisir pantai. Rencana mereka menikmati langit malam berbintang hancur berantakan karena hujan yang datang tanpa diduga. Mereka memutuskan untuk bernaung di sebuah pondokan yang dijadikan sebuah kedai minuman oleh seorang ibu paruh baya. Setelah memesan minuman untuk menghangatkan badan, Cintya dan Bagas memulai kebiasaan mereka jika sudah bertemu satu sama lain. Lalu mengalirlah cerita-cerita yang tak usai mereka perbincangkan melalui sambungan telepon. Hujan masih menemani mereka saat Bagas berkata, “Tya. Apapun yang terjadi nanti, jika Tuhan tidak menginginkan kita bersatu, kamu harus percaya bahwa aku mencintaimu dengan cinta sesungguhnya. Mungkin apa yang kulakukan sekarang belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kesetiaan yang selalu kamu berikan. Jika nanti aku salah, kamu jangan pernah pergi. Kamu lah satu-satunya orang yang akan mengingatkan kesalahan-kesalahan itu. Jika tidak, maka aku akan tetap ada dalam lubang kelam tanpa pernah tau bahwa ada cahaya terang yang tengah menungguku di luar sana.” Cintya hanya bisa mengangguk kala itu. Ia berjanji akan menjadi seperti yang Bagas mau. Ia percaya dan yakin bahwa Bagas lah laki-laki yang dipersiapkan Tuhan untuknya nanti.
Gelegar petir di luar sana membawa Cintya kembali dari masa lalu. Ia lupa pada apa yang pernah diucapkan Bagas padanya dulu ketika mereka menghabiskan malam di salah satu pantai Lombok. Cintya memandang sebuah gedung-gedung tinggi di luar sana dari jendela kamarnya. Di salah satu gedung itu ada Bagas, lelaki yang sudah ia diamkan selama hampir satu bulan lamanya. Lelaki yang tak lagi ia acuhkan walaupun hatinya tak menginginkan itu semua. Airmatanya kembali menetes. Bukankah kelakuan yang seperti ini hanya membuatnya menjadi seorang yang munafik? Berbohong pada dirinya sendiri. 
Tangannya menyambar handphone yang tergeletak di sebelah notebook yang masih setengah terbuka, hasil rutinitas kantor yang ia selesaikan tadi malam di sofa ini. Dengan lincah jemarinya mencari nama Bagas dan klik. Telpon itu terhubung.
“Tya.” ucap Bagas lirih.
“Gas. Aku pengen ketemu. Bisa?” tanya Cintya langsung tanpa basa-basi lagi.
“Bisa. Aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu. Maafin aku Tya.” jawab Bagas lagi.
“Maaf-maafnya nanti aja ya Gas. Aku tunggu kamu di Cafe Coffe yang waktu itu. Satu jam lagi aku udah disana.” jelas Cintya lalu segera memutuskan hubungan teleponnya tanpa mendengarkan keputusan Bagas untuk datang atau tidak.
Detik berikutnya Cintya langsung disibukkan oleh kegiatan pilah-pilih baju yang akan ia kenakan nanti. Rasanya seperti kencan pertama dulu. Cintya yang dihadapkan pada lelaki super modis seperti Bagas selalu merasa harus tampil cantik dimana pun ia berada. Selain tampan, bagas memang selalu tampil sempurna. Pilihan pakaian dan aksesoris yang ia kenakan tidak pernah membuatnya terlihat buruk dimata setiap orang yang memandangnya. Setelah membuat lemari pakaiannya porak poranda, Cintya menemukan sebuah terusan berwarna soft peach dengan garis leher berbentuk V. Terusan selutut itu terlihat cocok dengan kulit putihnya. Cintya memakai stiletto untuk menunjang penampilannya. Setelah memoles wajahnya dengan make up minimalis yang disukai Bagas, ia melangkah anggun dan berharap bahwa keputusannya untuk memaafkan Bagas akan membuat hubungan mereka kembali lagi seperti sedia kala.
Hujan masih deras. Namun kali ini tak menyurutkan langkah Cintya untuk bertemu dengan lelaki yang sudah membuat rindunya sampai ke ubun-ubun. Setelah memantapkan hatinya untuk memaafkan apapun kesalahan Bagas, sesuatu yang akan diceritakannya nanti, Cintya turun dari mobilnya dengan sebuah payung hitam yang melindunginya dari tetes-tetes hujan yang semakin menggila. Lelaki itu tengah duduk di sebuah kursi yang sengaja ia pilih berada persis di samping jendela cafe. Matanya menatap air yang mengalir deras dari langit. Lelaki berhidung bangir dengan gaya macho dan penuh kharisma sepertinya, membuat Cintya dengan mudah menemukan Bagas diantara kerumunan banyak orang di cafe ini. Bagas tak menyadari kehadirannya di cafe itu, bahkan Cintya sangat yakin bahwa ia sudah cukup banyak menyemprotkan parfum favorit Bagas. “Mungkin pikirannya sedang tak ada ditempat ini.” ucap Cintya membatin.
“Sudah lama Gas?” sapa Cintya sedikit tergugup karena sudah lama tak bertatapan langsung dengan kekasih hatinya ini.
“Oh kamu. Hmm..belum..belum lama kok Tya.” jawab Bagas sedikit gugup, “Duduk.” tambahnya lagi sembari menggeser kursi untuk Cintya. Perlakuan kecil yang membuat wanita mana saja akan merasa tersanjung dan dilindungi.
“Gas..aku pengen minta maaf sama kamu. Aku tau kalo..”
“Nggak Tya. Bukan kamu kok yang salah. Aku yang seharusnya jujur sedari awal.” ujar Bagas seketika tanpa memberikan kesempatan bagi Cintya untuk menjelaskan apa yang ia rasakan.
Jujur? Kejujuran apa yang sedang dibicarakan Bagas saat ini? Seharusnya jujur? Jadi selama ini dia memang sudah berbohong? Apa yang Bagas sembunyikan? Sedari dulu? Dari kapan ia hidup dengan lelaki pembohong seperti ini? 
Segala macam pertanyaan mulai berkecamuk di benak Cintya. Ia memutuskan untuk tidak berbicara apapun lagi sebelum Bagas menjelaskan maksud perkataannya tadi.
“Ada satu hal yang tak pernah kamu ketahui dari awal pertemuan kita. Aku minta maaf banget Tya. Aku tahu kesalahan ini memang tak akan mudah untuk kamu maafkan. Aku mohon kamu mengerti.” ujar Bagas panjang lebar sambil menatap kedua mata Cintya yang masih bingung. 
Cintya masih diam, menunggu kalimat berikutnya. 
“Aku memang mencintai seseorang dari dulu. Dan maafkan aku sudah menjadikanmu tameng untuk menutupi perasaan dan hubungan kami.” 
Bagas menyudahi kalimatnya dengan menunduk. Ia tak lagi memiliki keberanian untuk bertatapan dengan Cintya. Sementara Cintya tampak meremas baju yang ia pakai dengan kedua tangannya. Matanya memerah. Perlahan tetesan airmata menganak sungai tanpa bisa ia kendalikan. Seandainya ia mampu, mungkin Cintya sudah melayangkan tamparan ke wajah tampan Bagas. Namun logikanya masih bisa mencerna dengan baik walaupun hatinya sudah hancur berkeping-keping.
“Aku seharusnya tidak datang ke tempat ini Gas.” ucap Cintya lirih. 
“Perempuan itu..aku tahu..dia..kalian..” Cintya merasa kesulitan meneruskan kata-katanya. Sulit untuk menerima pengakuan Bagas dengan akal sehat. 
“Mungkin sebaiknya aku pergi.” ucap Cintya sambil berdiri dari kursinya. 
Bagas juga ikut berdiri dan menahan pergelangan tangan Cintya, “Bukan dia Tya. Tapi..tapi orang itu adalah Aryo.” ucap Bagas lagi. 
Cintya terhenyak dan menatap lurus ke mata Bagas yang berusaha mengalihkan pandangan darinya. Ia melepaskan cengkeraman tangan Bagas perlahan dan duduk kembali kekursinya dengan muka pucat pasi. Cintya baru saja mendengar sebuah berita yang membuatnya sulit untuk bernapas.
Aryo? Maksudnya Aryo sahabat Bagas yang sedari dulu ia kenal? Jadi Bagas?
Cintya menangkupkan kedua telapak tangan kewajahnya. Ia tidak menyangka cerita cinta mereka akan berakhir dengan cara tragis seperti ini. Tangannya bergetar hebat, begitu pun hatinya. Bagas memilih mencintai seorang lelaki dan selama ini hanya menjadikannya alasan untuk menutupi kebusukannya. Ia pandang sekali lagi lelaki yang beberapa tahun ini mengisi hatinya dengan cinta. Semakin lama pandangannya semakin mengabur. Lalu hitam, kelam. Airmata masih menetes dari kedua matanya. Semua berakhir. Ya. Ia kalah.

Jumat, November 22

A.L.I.E.N

Diposting oleh Orestilla di 08.43.00 2 komentar


Matanya mati, tak ada kehidupan disana. Tubuh rampingnya menatap jelaga hitamku dengan pandangan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata. Mulutnya membentuk huruf o kecil pertanda ia tengah meragu akan makhluk sepertiku. Seaneh itu kah aku? Bukankah keberadaannya disini jauh lebih aneh? Ia mendekat. Jarak kami hanya tersisa sekitar 5 langkah lagi. Kutatap takjub makhluk asing didepanku. Benarkah Tuhan memiliki ciptaan selayaknya ia? Mengapa baru hadir setelah jutaan tahun umur bumi? Ingin kutelusuri permukaan kulitnya yang berwarna hijau terang, mempertontonkan perjalanan darah dikedalamannya. Darah? Seperti itukah darah miliknya? Mengapa tidak berwarna merah seperti kepunyaanku? “Sesuatu” yang mengalir di dalam tubuhnya itu berwarna biru kelabu. Cukup membuatku tersentak dan bergidik ngeri.

Ia mendekat selangkah lagi. Dari jarak sedekat ini, indera penciumanku disuguhkan pada sebuah aroma aneh yang menguar dari tubuhnya. Tidak bisa dikatakan wangi karena dengan refleks aku menutup hidungku dengan kedua telapak tangan. Satu tangannya terjulur kearahku. Seperti ingin ku genggam dalam jalin persahabatan. Itukah yang ia mau? Atau jangan-jangan ia ingin menarikku ke dalam dunianya yang tak pernah ku tau dimana letaknya. Beberapa puluh meter di belakang kami terparkir dengan rapi sebuah kendaraan berbentuk tabung silinder super besar yang mengeluarkan cahaya sangat terang. Cahaya yang membuat mataku silau ketika pertama kali menatapnya. Tadi. Saat aku siuman dari tidur panjangku. Pingsan tepatnya.

Ia berteriak. Suaranya membuatku pusing. Aku memegang kepalaku pertanda kesakitan. Telapak tanganku basah. Bukan keringat yang hadir secepat ini. Satu dua tetes darah segar mengalir dari kedua telingaku. Ia menabrakku dengan kekuatan penuh. Tubuh indahnya tadi yang kukagumi ternyata kumpulan lendir berbau busuk yang membuatku ingin muntah. Sebelum aku mati, sebuah kesadaran hadir dibenakku, “Bangsat, ini dia Alien itu!”
Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 10

Suamiku, si lelaki tangguh

Diposting oleh Orestilla di 10.13.00 2 komentar


Wajahnya terlihat sangat kuyu malam itu. Kemeja lusuh yang kami beli beberapa tahun yang lalu basah oleh keringat. Namun senyum yang sama tetap bertahan disana, senyum yang sedari dulu ia persembahkan untukku. Aku yang tengah menyusui puteri kecil kami, berdiri menyongsongnya, mencium tangannya dan membawanya ke keningku. Kening yang kemudian ia kecup dengan penuh kasih sayang sebelum mencium mesra Khaila, buah hati kami.
“Udah makan Ummi?” tanyanya sembari berganti pakaian.
Mataku terbeliak mendapati lebam di bahu kirinya. “Bahu Abi kenapa?” tanyaku tanpa terlebih dulu menjawab pertanyaannya.
Ia berbalik menatapku dan kembali tersenyum, “Tadi ketimpa balok Mi. Nanti Abi olesin balsem aja. Aman kok. Ummi masak apa malam ini? Abi lapar.” jawabnya panjang lebar. Aku tahu ia tengah mengalihkan pembicaraan. Kebiasaan suamiku yang tak pernah mau membebaniku walau hanya karena masalah yang ia anggap sepele.
Aku ikut tersenyum, menyerahkan Khaila yang sudah kenyang kepangkuannya dan menyiapkan makan malam untuk suami tangguhku. Makan malam sederhana. Sepiring nasi putih dengan lauk tempe, sedikit sambel (karena ia tak suka pedas) dan sayur bayam rebus favoritnya. Aku menyerahkan makan malam minimalis yang ia terima dengan penuh suka cita. Ia makan dengan lahap, sementara aku menontonnya dengan mata berlinang.
Sehat terus ya Bi. Maafkan Ummi jika belum bisa membantu. Laraku dalam hati.
***
Imran Wahyudi. Lelaki keturunan Tionghoa yang berkomitmen untuk menikahiku secara Islam dengan resiko meninggalkan hidupnya yang penuh kemewahan. Mas Imran memang putera sulung seorang pengusaha terkenal di kota kami, Surabaya. Kenekatannya untuk mempersunting perempuan biasa sepertiku mendatangkan amarah dari seluruh keluarga besarnya. Belum lagi keinginannya untuk memeluk agama yang sama denganku. Puncaknya, ia diusir dari rumah, fasilitas hidup dari orangtuanya disita dan sekarang, ia hidup melarat bersamaku.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, Mas Imran bekerja sebagai kuli bangunan. Pilihan terakhir ketika ijazah perguruan tinggi yang ia miliki tidak diterima oleh satu perusahaan pun. Ia yang dahulunya hidup serba ada, harus membanting tulang sepanjang hari. Di awal-awal pekerjaannya, tak jarang Mas Imran jatuh sakit. Namun ia tak pernah sedikit pun mengeluh.
Aku yang sering tidak tahan melihat kesakitannya, sering menangis dalam sujudku. Bahkan pernah menyesali keputusanku untuk menikah dengannya.
“Jika menyesal, berarti Ummi nggak cinta dong sama Abi?” ucapnya suatu hari karena tangisanku yang tak kunjung berhenti.
“Cinta Abi, tentu saja. Ummi hanya tidak sanggup melihat Abi seperti ini. Andai Ummi bisa bantu, Ummi akan lakukan apa saja.” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang dulu berkulit putih bersih, sekarang berganti hitam legam karena terbakar matahari.
Ia mengusap kepalaku. “Kalau cinta, Ummi harus jadi penguat untuk Abi. Kalau Ummi selalu cinta, Abi akan kuat menjalani ini semua. Abi hanya ingin Ummi dan Khaila berkecukupan.”
“Maafin Ummi..”
“Sudah..jangan minta maaf terus. Lagian ini semua juga Abi lakukan demi tanggung jawab Abi sebagai suami dan ayah yang baik. Ummi mau lihat Abi mendekam di neraka sana karena menelantarkan anak istri? Nggak kan?” tanyanya lagi sembari tersenyum memamerkan gigi-giginya.
Aku menyuruk lebih dalam ke pelukannya. Ah. Andai aku punya kekuatan lebih. Semua yang ku punya kan kutransferkan untuknya.
***
“Kalau Bu Aida bisa, hari ini saya tunggu di rumah.” Bu Hasan, pemilik rumah kontrakan kami baru saja datang menagih uang bulanan. Beliau orang yang baik dan mengerti dengan kehidupan keluarga kami yang sedang sulit. Bahkan tidak sedikitpun wajahnya menunjukkan kemarahan ketika sekali lagi aku terlambat membayar kontrakan.
Aku baru saja meminta kemurahannya untuk memberikan pekerjaan untukku. Kuli cuci. Hanya itu kepandaian yang kumiliki. Aku sudah bertekad untuk membantu suamiku. Sebagai perempuan yang berperasaan, aku tidak bisa berdiam diri saja menunggu nafkah yang bahkan tidak mampu mencukup kebutuhan hidup kami setiap harinya.
Kugendong Khaila. Dengan berjalan kaki, aku menyusuri jalan berkerikil menuju rumah Bu Hasan. Setibanya disana, kutidurkan Khaila di sebuah dipan bambu yang terletak di bagian belakang rumah, bersebelahan dengan sumur, kantor baruku. Khaila yang tidak pernah rewel membuatku nyaman dalam menyelesaikan pekerjaan. Di umur sekecil ini ia sudah mampu memahami kesulitan orangtuanya.
“Kalau cuciannya udah beres, jangan lupa makan dulu ya Bu Aida. Kebetulan tadi saya bikin nasi goreng.” teriak Bu Hasan dari dalam rumah.
“Iya Bu.” jawabku yang tengah sibuk menjemurkan pakaian-pakaian itu.
“Kardus-kardusnya taruh di dapur saja Pak Imran. Di depan sudah penuh.” teriakan Bu Hasan berikutnya menghentikan kegiatannya. Deg. Dadaku berdegup kencang mendengar nama itu diucapkan. Bukankah itu nama suamiku? Tapi apa yang sedang dikerjakannya di rumah ini? Bukankah tadi pagi Mas Imran pamit untuk bekerja di tempat biasa?
Kubereskan pekerjaanku secepatnya, kuambil Khaila yang tengah tertidur lelap dan kulangkahkan kakiku ke dalam rumah Bu Hasan dengan kaki bergetar.
“Abi..” suaraku tercekat saat melihat lelaki tangguhku tengah mengangkat puluhan dus ke dalam dapur. Wajahnya bersimbah keringat. Badannya terbungkuk-bungkuk karena membawa beban yang sangat berat.
“Ummi..lagi ngapain disini?”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tenggorokanku tercekat. Mataku panas. Aku berlari pulang dan menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah..bagaimana mungkin aku sanggup menatap matanya yang sudah layu seperti itu? Bahkan tadi pagi pun hanya air putih yang mampu kuhidangkan untuk sarapannya.
Kudekap Khaila ke dadaku. Bayi itu ikut menangis bersamaku.
***
“Abi melakukan kesalahan besar kemaren di tempat kerja. Hadiahnya, Abi harus rela kehilangan pekerjaan lagi. Abi pikir daripada berkeluh kesah di rumah, lebih baik mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Khaila perlu ASI yang sehat Mi. Dan untuk itu semua, Ummi juga harus sehat, makan makanan yang bergizi.” Mas Imran berbicara sembari menunduk dihadapanku. Kami baru saja selesai melaksanakan Shalat Isya berjamaah.
“Ini Bi.” Kusodorkan beberapa lembar rupiah ke tangannya. “Istri tercinta Abi tadi udah coba-coba kerja. Dapet segini. Buat beli peci Abi. Yang ini udah jelek.” tambahku sambil menyambar peci kusamnya. Kudekap peci itu.
“Peci jelek bukan masalah besar Ummi. Yang penting imannya tambah bagus. Sudah. Uangnya Ummi simpan. Dan besok, tugas utama Ummi hanya menjaga Khaila dengan baik.” jawabnya tersenyum padaku. Kupeluk tubuhnya sembari bersyukur pada Allah telah mempercayakan hidupku pada lelaki tangguh sepertinya.


Senin, Desember 2

Pada hujan, cinta bercerita

Diposting oleh Orestilla di 10.06.00 0 komentar


Hujan gerimis di luar sana. Cintya merapatkan baju hangat yang ia pakai di luar piyama berwarna merah muda miliknya. Memang tak deras dan mereka terpisahkan oleh sebuah jendela besar berkaca tebal, tapi dinginnya mampu menusuk hingga tulang. Ditangannya tampak secangkir minuman yang masih mengepul, pertanda baru saja diseduh. Cintya tengah menatap hujan dari jendela apartemennya di lantai 27 yang berdiri tegak di jantung Kota Jakarta. Jendela besar berukuran kira-kira 3 x 2 meter ini memang menjadi tempat favoritnya. Sengaja ia meletakkan sebuah sofa besar disana agar ia bisa lebih leluasa dan nyaman menikmati pemandangan dari kamarnya sendiri. Jendela ini memang hampir menghabiskan satu dinding untuk terpatri dengan rapi. Dari jendela ini pula Cintya berhasil menangkap banyak hal dan pelajaran. Bersamanya ia menemukan pagi cerah tanpa awan, malam dingin berhujan, kebisingan kota dengan ribuan kendaraannya yang tanpa henti, warna-warni kebahagiaan dan juga kesendirian yang tak mampu ia pahami. Di sofa tersebut Cintya selalu menyelesaikan pekerjaannya di salah satu perusahaan IT terbesar milik seorang Jepang bernama Miwa Miyoshi. Kegemarannya menulis puisi juga sering ia tuangkan di tempat ini. Tak hanya itu saja, bahkan makan, membaca buku, menonton puluhan film dari notebook, semua ia lakukan di depan jendela kebanggaannya, dipelukan si sofa putih besar.
Cintya menyesap minumannya. Matanya terpejam. Meresapi tetes demi tetes hujan yang masih membuai pagi. Minggu yang menyenangkan baginya walaupun hanya akan dihabiskannya di dalam kamar seperti ini seharian penuh. Libur akhir pekan memang menjadi sesuatu yang sangat jarang sekali ia dapatkan. Kesibukannya yang bagai tak berujung memaksanya untuk tetap bekerja, sementara ada banyak orang di luar sana yang bisa menikmati waktu-waktu berharga bersama keluarganya. Dan setelah bekerja keras berhari-hari dalam sebuah proyek, ia mendapatkan kembali waktu senggangnya.
Bibirnya siap untuk menyesap minumannya kembali. Namun tanpa disadarinya, cangkir itu telah kosong. Dengan gerakan malas, Cintya tertatih menuju dapur kecil miliknya. Apartemen ini memang sangat cocok dihuni oleh satu orang saja. Istananya ini hanya terdiri dari tiga ruangan: kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Jangan bayangkan dapur lengkap milik seorang nyonya di sebuah rumah mewah. Cintya cukup sulit menemukan meja makan mungil yang sekarang menghiasi dapur yang ia dekorasi dengan sangat apik. Cintya memang suka sekali mengoleksi barang-barang unik. Ia bisa membeli dengan harga tinggi jika barang tersebut memang terlihat cantik dimatanya. Namun tak sedikit yang ia dapatkan dengan harga murah. Jadilah dapurnya yang kecil ini terlihat meriah dengan pernak-pernik warna-warni yang bertebaran di segala penjuru. Tangannya mengaduk minuman untuk cangkir kedua di pagi ini.
Saat ia hendak berjalan kembali kesinggasananya di sofa besar putih di ujung ruang tidur, mata Cintya menangkap sebuah buku yang tergeletak dibawah rak buku gantungnya. Cintya memang hobi sekali membaca buku. Jumlah buku yang sudah mencapai ratusan dan ruang apartemen yang sempit membuatnya menemukan ide baru untuk menyulap satu dinding kamarnya menjadi sebuah rak buku cantik. Jemarinya menggapai buku tersebut. Sebuah buku sastra. Seketika air matanya berlinang. Bukan karena isi buku yang menyayat hati, tapi lebih disebabkan pada ingatan tentang seseorang yang tiba-tiba saja hadir dalam bayangannya. Seseorang yang beberapa bulan lalu menghadiahkan buku itu untuknya. Seseorang yang ia rindukan, Bagas.
“Aku tadi nemenin klien ke toko buku. Kebetulan mau nyari referensi untuk proyek kami berikutnya.” ujar Bagas dengan senyum menawan yang sedari dulu membuat Cintya jatuh cinta berulang kali. “Dan aku nemu buku ini. Kayaknya cocok buat kamu Tya.” tambahnya lagi. 
Mereka sedang makan malam saat itu. Bagas menemukan sebuah cafe baru di pinggiran Jakarta yang cukup menampik suara bising seperti yang setiap hari mereka temui. Malam itu malam istimewa untuk mereka karena dua tahun yang lalu mereka memulai hubungan spesial tersebut. Tidak hanya buku, malam itu Bagas juga menghadiahkan sebuah cincin untuknya, sembari berjanji akan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Sesuatu yang selama ini seakan terkubur begitu saja. Kesibukan mereka berdua membuat mereka bahkan tidak lagi memiliki banyak waktu untuk bersama, banyak waktu untuk merenda asa dan merencanakan masa depan. Walaupun hidup di kota yang sama, bernafas di bawah langit Kota Jakarta, Cintya dan Bagas seakan bekerja di dua benua yang berbeda karena sulit dan sedikitnya kuantitas pertemuan mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Cintya tersenyum. Kenangan indah itu terlalu sulit untuk dilupakan. Ia meraih buku tersebut. Mendekapnya. Seakan dengan bersikap seperti itu, Bagas ada bersamanya, ada didekatnya. Kakinya melangkah pelan kembali ke jendela besar dengan sofa putih. Dihempaskan badannya begitu saja sembari mendesah pelan. Ia buka kembali buku sastra tersebut. Tidak hanya sekali, buku itu sudah ia tamatkan hingga berkali-kali. Namun hanya dengan membacanya saja, Cintya selalu merasa sosok Bagas hadir bersamanya.
Hujan sekarang turun lebih deras. Jakarta di akhir pekan seperti ini terlihat lebih lengang dibandingkan hari biasa. Namun bukan berarti jalan raya yang terbentang di bawah sana kosong. Masih ada puluhan bahkan ratusan mobil yang melintas. Jalan Raya. Ingatannya kembali pada pertemuan pertamanya dulu dengan Bagas. Sore itu, akhir pekan yang juga berhujan seperti pagi ini. Cintya yang sengaja datang ke toko buku dengan bus kota dan tanpa persiapan sama sekali, tiba-tiba saja disambut oleh hujan yang luar biasa derasnya. Setelah menunggu selama beberapa jam dan hujan tak kunjung reda, Cintya memutuskan untuk menunggu taksi di sebuah halte yang memang terletak persis di depan toko buku tersebut. Baru saja hendak melangkahkan kaki, ada seseorang yang menubruknya dari belakang. Kantong plastik berisi penuh buku yang tergenggam erat ditangannya jatuh berantakan dan basah. Seketika kemarahan menguasainya. Ingin berteriak sekuat mungkin pada si pelaku yang dengan sigap segera mengemasi buku-bukunya yang sebahagian besar sudah hancur berantakan. Tapi teriakannya tak pernah sampai. Lelaki dengan tinggi hampir mencapai 180 cm dengan postur sempurna, berkulit sawo matang dengan mata gelap menawan itu menatapnya dengan penuh penyesalan.
 “Maaf Mbak. Saya tadi buru-buru.” ucapnya sambil menyerahkan kantong buku Cintya tadi. 
Masih dengan tatapan kekaguman, Cintya kehilangan kata-kata untuk diutarakan. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa saat itu mereka berdua tengah berdiri di bawah guyuran hujan yang semakin menjadi. Tangan kokoh Bagas mencengkram lengannya, mengajaknya berteduh di halte tujuannya tadi.
“Sekali lagi saya minta maaf Mbak. Kalau boleh di cek dulu bukunya. Yang rusak akan saya ganti.” tambah Bagas lagi berusaha untuk membuat keadaan membaik. 
Cintya menatap sekantong buku yang ada ditangannya, ia memilih tersenyum dan berkata, “Nggak apa-apa Mas. Ini kayaknya masih bisa dibaca kok.” jawabnya sembari tersenyum getir. 
Getir karena ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya. Bagas kemudian memberikannya tumpangan sebagai bentuk permohonan maaf atas ketidaksengajaan yang membuatnya terlihat seperti orang yang akan dijatuhi hukuman pancung. Namun dengan sopan Cintya menolaknya. Selain karena mereka memang baru saja berkenalan, jantungnya yang tak mau berdetak normal membuat Cintya ragu akan baik-baik saja dalam perjalanan pulangnya nanti bersama Bagas. Maka berpisahlah mereka sore itu. Jauh di dalam hatinya, Cintya berharap akan dipertemukan kembali dengan lelaki tampan, baik, memikat, bertanggung jawab dengan senyum sempurna milik Bagas.
Cintya meletakkan buku tersebut dipangkuannya. Diteguknya coklat panas tadi dua kali. Tangannya menyusuri jendela besar berkaca tebal didepannya. Dia mulai mengukir sebuah nama, Bagaskara. Pikirannya melayang kembali pada kisah berikutnya. Masih bersama hujan.
“Aku pikir kamu masih kuliah lo.” ujar Bagas dari kursi depan mercedes hitam yang setengah jam lalu menjemput Cintya dikantornya, “Ternyata cuma beda dua tahun.” tambahnya lagi sembari memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi dan bersih. 
Senyumnya masih memikat seperti pertama kali mereka bertemu. “Iya.” jawab Cintya singkat. Dia seakan kehilangan kosakata dan kemampuan untuk berbicara banyak hal bila berhadapan dengan lelaki ini. Padahal di lingkungan kantor dan sahabat-sahabatnya, Cintya dikenal sebagai pribadi heboh yang tak pernah bisa diam. Pagi itu, Naomi, rekan satu divisinya memang sudah mengatur jadwal pertemuan antara perusahaan mereka dengan perusahaan asing yang juga sedang berkembang di Kota Jakarta. Sesuai dengan perencanaan program dan kegiatan tahun ini, kedua perusahaan tersebut akan berkolaborasi dan bekerja sama dalam mengembangkan sebuah proyek. Dan takdir kemudian mempertemukan Cintya dan Bagas sebagai wakil dari perusahaan mereka masing-masing. Setelah selesai membahas tentang proyek dalam rapat yang menghabiskan waktu berjam-jam lamanya, Bagas dan beberapa orang rekan yang lain mengajak Cintya untuk makan malam di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota mereka. Rasa lapar dan lelah luar biasa membuat Cintya segera mengangguk pada tawaran pertama. Lagipula ia berharap kesempatan ini bisa menjadi sebuah peluang untuk bisa mengenal Bagas lebih dekat lagi. Malam itu hujan turun dengan deras. Rasa lelah luar biasa yang ia rasakan, sekali lagi membuat Cintya tidak menolak ketika Bagas mengajaknya berangkat dengan mobil yang sama. Maka disitulah kini ia berada, persis di kursi belakang mobil Bagas. Kebetulan yang menjadi driver mereka malam itu adalah rekan kerja sekaligus sahabat Bagas sendiri, Aryo. Sementara ajakan Cintya pada Naomi agar menemaninya malam itu ditolak mentah-mentah oleh temannya tersebut karena ia juga sudah punya janji makan malam dengan kekasihnya. Bagas dan Aryo terlibat pembicaraan seru tanpa sedikitpun sadar akan keberadaannya. Maka ia mulai menuliskan namanya di kaca mobil yang sedikit buram karena Aryo sengaja mengecilkan volume air conditioner mobil tersebut. Cintya mulai menuliskan namanya, menggambar kartun-kartun lucu yang terlintas begitu saja dipikirannya dan tanpa ia sadari, Bagas diam-diam memperhatikan kelakuannya sambil tersenyum kecil. Malam itu mereka menghabiskan malam dengan menceritakan banyak hal, walaupun sebahagian besar pembicaraan lebih mengarah pada prospek proyek mereka kedepannya. Malam itu juga Bagas dan Aryo mengantarnya ke apartemen.
Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong. Bunyi bel membuyarkan lamunannya. Cintya bangun dari sofa dan dengan malas menyeret langkahnya ke pintu masuk. Begitu daun pintu terbuka, ia melihat seorang lelaki tua yang sudah sangat dikenalnya, Pak Burhan. “Ini Mbak Tia. Ada titipan dari ibu. Kemaren malam Ibu liat Mbak Tia pulangnya sudah larut. Pasti belum sarapan.” kata Pak Burhan sambil menyerahkan sebuah rantang makanan. Pak Burhan dan istrinya adalah tetangga Cintya yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya sendiri. Cintya memang tinggal jauh dari keluarganya. Ayahnya sekarang berada di Malaysia, sementara Ibunya yang sudah bercerai dengan ayahnya sejak Cintya berumur 7 tahun saat ini berdomisili di Kota Padang. Sementara satu-satunya adik yang ia miliki, tengah menyelesaikan pendidikannya di Florida, Amerika Serikat. Cintya memang berasal dari keluarga broken home. Kegagalan rumah tangga kedua orangtuanya membuat Cintya tumbuh menjadi gadis yang kesepian dan selalu mendambakan kasih sayang. Hal itu pula lah yang akhirnya membuat ia dekat dengan Bapak Burhan dan istrinya. “Bapak mau jalan sama Ibu. Mau nyari buah dulu. Kamu mau ikut?” tanya Pak Burhan kemudian. “Nggak Pak. Aku mau istirahat aja. Tiduran.” jawab Cintya yang langsung dibalas anggukan oleh orang tua tadi. Cintya kembali masuk kekamarnya. Sambil menenteng rantang makanan tadi, pikirannya kembali pada Bagas. Bahkan kerinduannya meluap hanya dengan melihat sebuah rantang.
Mumpung masih panas, sup ayam buatan Bu Burhan sepertinya bisa jadi makan malam yang pas untuk Bagas. Malam itu Cintya memang baru saja diantarkan makan malam oleh Bu Burhan. Namun pesta ulang tahun Naomi sepulang dari kantor tadi, sudah membuat perutnya benar-benar kenyang. Seketika ia teringat Bagas dan pekerjaannya yang menumpuk. Tadi sebelum pulang, Cintya sempat menghubunginya lewat telepon genggam dan ia mendapat kabar bahwa Bagas mungkin saja akan menginap dikantornya malam ini. Setelah mandi dan berdandan secantik yang Bagas suka, Cintya melangkahkan kakinya ke kantor Bagas malam itu dengan riang gembira. Cintya yang hari itu bisa pulang sore merasa bahwa ini adalah kesempatan langka, menemui Bagas yang masih sibuk bekerja, membawakan malam malam kejutan khusus untuknya dan menyediakan waktu sebanyak mungkin yang Bagas butuhkan. Ya. Setidaknya hanya untuk malam itu saja. Cintya menekan tombol lift di lantai yang ia yakini adalah tempat dimana Bagas sedang sibuk dengan tugasnya. Lift terbuka dan Cintya harus menahan napas agar degup jantungnya tidak sampai ke seberang sana. Jauh dari tempatnya kini berada, Bagas sedang duduk bersama seorang perempuan muda, cantik dan tampak sedikit agresif. Mata perempuan itu tak henti-hentinya memandang wajah tampan kekasihnya. Hal itu membuat perut Cintya terasa bergolak. Ada sesuatu didalam tubuhnya yang ingin meluap. Kakinya membeku, lidahnya kelu. Ia tak sanggup bergerak dan berkata apalagi ketika tangan Bagas mulai menyentuh anak-anak rambut si perempuan muda. Matanya mulai memanas. Jantungnya berdegup sangat cepat. Tangannya mulai lemah dan ia tak bisa menahan lebih lama lagi ketika rantang yang sedang ia genggam jatuh. Suara rantang yang beradu akting dengan lantai menggema di seluruh ruangan. Puluhan mata memandangnya. Tak terkecuali kedua mata Bagas, mata yang padanya Cintya jatuh cinta bahkan hingga detik ini. Bagas menghambur kearahnya. Begitu juga dengan perempuan muda cantik yang tampak sangat terkejut. Setelah itu Cintya tidak lagi tahu apa yang berlaku disana, dibalik yang tertutup rapat, jauh sebelum Bagas sampai didekatnya. 
Cintya menghapus airmata yang mengalir sehebat hujan di luar jendela. Tanpa ia sadari, tangannya tengah memeluk rantang berisi bubur ayam yang dengan penuh kasih dimasak oleh Bu Burhan untuknya. Cintya memandang sendu keluar jendela. Apakah ada sebuah penelitian yang berhasil membuktikan bahwa hujan berbanding lurus dengan perasaan seseorang? tanyanya membatin. Matanya menatap hujan yang masih bersuka ria. Pikirannya kembali menerawang.
Kamu nggak bisa main hilang kayak gini Tia. Ada banyak hal yang harus aku jelaskan sebelum semuanya kamu nilai dari sudut pandangmu sendiri. Aku memang salah. Maafkan.
Pesan terakhir yang Cintya terima dari Bagas setelah hampir selama satu bulan penuh sejak kejadian memiriskan itu. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali Bagas mencoba menghubunginya, namun Cintya sudah kehilangan rasa percaya. Walau cinta itu masih melekat kuat dihatinya, kata-kata maaf dari Bagas seolah menyiratkan hubungannya dengan perempuan muda cantik itu bukanlah hubungan biasa. Satu alasan Cintya menolak semua permintaan Bagas adalah hatinya sendiri yang belum siap untuk tersakiti lebih dalam lagi. Beberapa kali pula Bagas mencoba datang langsung ke apartemennya, tapi Cintya tetap teguh memegang keputusannya untuk tidak lagi menemui Bagas. Ia belum siap dan tak pernah tahu kapan akan bisa menyiapkan hatinya.
“Aku dapat bonus dari perusahaan. Mau nggak ikut aku jalan-jalan ke Lombok?” tanya Bagas suatu malam, tengah malam tepatnya karena jam dinding di kamar Cintya sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. 
Malam itu Cintya baru saja sampai di apartemen setelah selesai meeting dikantornya, begitu pula halnya dengan Bagas. Bahkan parahnya, Bagas masih dalam perjalanan pulang. “Oya? Pengen banget Gas. Tapiii..gimana caranya ijin dari kantor?” suara Cintya tiba-tiba berubah memelas karena ingat dengan tumpukan pekerjaan yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. 
Bagas tertawa diseberang sana, “Iya. Aku ingat kok sama kerjaan kamu yang segunung itu.” ucapnya masih diselingi tawa, “Kamu nyusul pas weekend aja bisa kan?” tawarnya lagi. 
Dan demi tercapainya planning mereka malam itu, Cintya bekerja mati-matian selama lima hari agar surat ijin yang ia layangkan pada atasannya bisa dipenuhi. Setiap malam ia pulang hanya untuk berganti pakaian dan kembali lagi ke kantor, sementara Bagas sudah terlebih dahulu menikmati liburannya bersama Aryo dan teman-temannya yang lain. Sabtu pagi berikutnya, dengan mata merah dan rasa kantuk luar biasa, Cintya terbang dengan pesawat pertama menuju Denpasar. Dan ketika matanya menemukan mata teduh menenangkan milik Bagas, semua rasa lelah yang ia bawa dari Jakarta seakan menguap begitu saja. Setelah menghabiskan beberapa jam di Denpasar, mereka melaju ke tanah Lombok. Cintya benar-benar menikmati liburan super singkat yang ia lalui bersama Bagas. Malam terakhir sebelum kepulangannya ke Jakarta, langit Lombok menghadiahkan hujan. Cintya tengah menikmati angin malam di daerah pesisir pantai. Rencana mereka menikmati langit malam berbintang hancur berantakan karena hujan yang datang tanpa diduga. Mereka memutuskan untuk bernaung di sebuah pondokan yang dijadikan sebuah kedai minuman oleh seorang ibu paruh baya. Setelah memesan minuman untuk menghangatkan badan, Cintya dan Bagas memulai kebiasaan mereka jika sudah bertemu satu sama lain. Lalu mengalirlah cerita-cerita yang tak usai mereka perbincangkan melalui sambungan telepon. Hujan masih menemani mereka saat Bagas berkata, “Tya. Apapun yang terjadi nanti, jika Tuhan tidak menginginkan kita bersatu, kamu harus percaya bahwa aku mencintaimu dengan cinta sesungguhnya. Mungkin apa yang kulakukan sekarang belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kesetiaan yang selalu kamu berikan. Jika nanti aku salah, kamu jangan pernah pergi. Kamu lah satu-satunya orang yang akan mengingatkan kesalahan-kesalahan itu. Jika tidak, maka aku akan tetap ada dalam lubang kelam tanpa pernah tau bahwa ada cahaya terang yang tengah menungguku di luar sana.” Cintya hanya bisa mengangguk kala itu. Ia berjanji akan menjadi seperti yang Bagas mau. Ia percaya dan yakin bahwa Bagas lah laki-laki yang dipersiapkan Tuhan untuknya nanti.
Gelegar petir di luar sana membawa Cintya kembali dari masa lalu. Ia lupa pada apa yang pernah diucapkan Bagas padanya dulu ketika mereka menghabiskan malam di salah satu pantai Lombok. Cintya memandang sebuah gedung-gedung tinggi di luar sana dari jendela kamarnya. Di salah satu gedung itu ada Bagas, lelaki yang sudah ia diamkan selama hampir satu bulan lamanya. Lelaki yang tak lagi ia acuhkan walaupun hatinya tak menginginkan itu semua. Airmatanya kembali menetes. Bukankah kelakuan yang seperti ini hanya membuatnya menjadi seorang yang munafik? Berbohong pada dirinya sendiri. 
Tangannya menyambar handphone yang tergeletak di sebelah notebook yang masih setengah terbuka, hasil rutinitas kantor yang ia selesaikan tadi malam di sofa ini. Dengan lincah jemarinya mencari nama Bagas dan klik. Telpon itu terhubung.
“Tya.” ucap Bagas lirih.
“Gas. Aku pengen ketemu. Bisa?” tanya Cintya langsung tanpa basa-basi lagi.
“Bisa. Aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu. Maafin aku Tya.” jawab Bagas lagi.
“Maaf-maafnya nanti aja ya Gas. Aku tunggu kamu di Cafe Coffe yang waktu itu. Satu jam lagi aku udah disana.” jelas Cintya lalu segera memutuskan hubungan teleponnya tanpa mendengarkan keputusan Bagas untuk datang atau tidak.
Detik berikutnya Cintya langsung disibukkan oleh kegiatan pilah-pilih baju yang akan ia kenakan nanti. Rasanya seperti kencan pertama dulu. Cintya yang dihadapkan pada lelaki super modis seperti Bagas selalu merasa harus tampil cantik dimana pun ia berada. Selain tampan, bagas memang selalu tampil sempurna. Pilihan pakaian dan aksesoris yang ia kenakan tidak pernah membuatnya terlihat buruk dimata setiap orang yang memandangnya. Setelah membuat lemari pakaiannya porak poranda, Cintya menemukan sebuah terusan berwarna soft peach dengan garis leher berbentuk V. Terusan selutut itu terlihat cocok dengan kulit putihnya. Cintya memakai stiletto untuk menunjang penampilannya. Setelah memoles wajahnya dengan make up minimalis yang disukai Bagas, ia melangkah anggun dan berharap bahwa keputusannya untuk memaafkan Bagas akan membuat hubungan mereka kembali lagi seperti sedia kala.
Hujan masih deras. Namun kali ini tak menyurutkan langkah Cintya untuk bertemu dengan lelaki yang sudah membuat rindunya sampai ke ubun-ubun. Setelah memantapkan hatinya untuk memaafkan apapun kesalahan Bagas, sesuatu yang akan diceritakannya nanti, Cintya turun dari mobilnya dengan sebuah payung hitam yang melindunginya dari tetes-tetes hujan yang semakin menggila. Lelaki itu tengah duduk di sebuah kursi yang sengaja ia pilih berada persis di samping jendela cafe. Matanya menatap air yang mengalir deras dari langit. Lelaki berhidung bangir dengan gaya macho dan penuh kharisma sepertinya, membuat Cintya dengan mudah menemukan Bagas diantara kerumunan banyak orang di cafe ini. Bagas tak menyadari kehadirannya di cafe itu, bahkan Cintya sangat yakin bahwa ia sudah cukup banyak menyemprotkan parfum favorit Bagas. “Mungkin pikirannya sedang tak ada ditempat ini.” ucap Cintya membatin.
“Sudah lama Gas?” sapa Cintya sedikit tergugup karena sudah lama tak bertatapan langsung dengan kekasih hatinya ini.
“Oh kamu. Hmm..belum..belum lama kok Tya.” jawab Bagas sedikit gugup, “Duduk.” tambahnya lagi sembari menggeser kursi untuk Cintya. Perlakuan kecil yang membuat wanita mana saja akan merasa tersanjung dan dilindungi.
“Gas..aku pengen minta maaf sama kamu. Aku tau kalo..”
“Nggak Tya. Bukan kamu kok yang salah. Aku yang seharusnya jujur sedari awal.” ujar Bagas seketika tanpa memberikan kesempatan bagi Cintya untuk menjelaskan apa yang ia rasakan.
Jujur? Kejujuran apa yang sedang dibicarakan Bagas saat ini? Seharusnya jujur? Jadi selama ini dia memang sudah berbohong? Apa yang Bagas sembunyikan? Sedari dulu? Dari kapan ia hidup dengan lelaki pembohong seperti ini? 
Segala macam pertanyaan mulai berkecamuk di benak Cintya. Ia memutuskan untuk tidak berbicara apapun lagi sebelum Bagas menjelaskan maksud perkataannya tadi.
“Ada satu hal yang tak pernah kamu ketahui dari awal pertemuan kita. Aku minta maaf banget Tya. Aku tahu kesalahan ini memang tak akan mudah untuk kamu maafkan. Aku mohon kamu mengerti.” ujar Bagas panjang lebar sambil menatap kedua mata Cintya yang masih bingung. 
Cintya masih diam, menunggu kalimat berikutnya. 
“Aku memang mencintai seseorang dari dulu. Dan maafkan aku sudah menjadikanmu tameng untuk menutupi perasaan dan hubungan kami.” 
Bagas menyudahi kalimatnya dengan menunduk. Ia tak lagi memiliki keberanian untuk bertatapan dengan Cintya. Sementara Cintya tampak meremas baju yang ia pakai dengan kedua tangannya. Matanya memerah. Perlahan tetesan airmata menganak sungai tanpa bisa ia kendalikan. Seandainya ia mampu, mungkin Cintya sudah melayangkan tamparan ke wajah tampan Bagas. Namun logikanya masih bisa mencerna dengan baik walaupun hatinya sudah hancur berkeping-keping.
“Aku seharusnya tidak datang ke tempat ini Gas.” ucap Cintya lirih. 
“Perempuan itu..aku tahu..dia..kalian..” Cintya merasa kesulitan meneruskan kata-katanya. Sulit untuk menerima pengakuan Bagas dengan akal sehat. 
“Mungkin sebaiknya aku pergi.” ucap Cintya sambil berdiri dari kursinya. 
Bagas juga ikut berdiri dan menahan pergelangan tangan Cintya, “Bukan dia Tya. Tapi..tapi orang itu adalah Aryo.” ucap Bagas lagi. 
Cintya terhenyak dan menatap lurus ke mata Bagas yang berusaha mengalihkan pandangan darinya. Ia melepaskan cengkeraman tangan Bagas perlahan dan duduk kembali kekursinya dengan muka pucat pasi. Cintya baru saja mendengar sebuah berita yang membuatnya sulit untuk bernapas.
Aryo? Maksudnya Aryo sahabat Bagas yang sedari dulu ia kenal? Jadi Bagas?
Cintya menangkupkan kedua telapak tangan kewajahnya. Ia tidak menyangka cerita cinta mereka akan berakhir dengan cara tragis seperti ini. Tangannya bergetar hebat, begitu pun hatinya. Bagas memilih mencintai seorang lelaki dan selama ini hanya menjadikannya alasan untuk menutupi kebusukannya. Ia pandang sekali lagi lelaki yang beberapa tahun ini mengisi hatinya dengan cinta. Semakin lama pandangannya semakin mengabur. Lalu hitam, kelam. Airmata masih menetes dari kedua matanya. Semua berakhir. Ya. Ia kalah.

Jumat, November 22

A.L.I.E.N

Diposting oleh Orestilla di 08.43.00 2 komentar


Matanya mati, tak ada kehidupan disana. Tubuh rampingnya menatap jelaga hitamku dengan pandangan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata. Mulutnya membentuk huruf o kecil pertanda ia tengah meragu akan makhluk sepertiku. Seaneh itu kah aku? Bukankah keberadaannya disini jauh lebih aneh? Ia mendekat. Jarak kami hanya tersisa sekitar 5 langkah lagi. Kutatap takjub makhluk asing didepanku. Benarkah Tuhan memiliki ciptaan selayaknya ia? Mengapa baru hadir setelah jutaan tahun umur bumi? Ingin kutelusuri permukaan kulitnya yang berwarna hijau terang, mempertontonkan perjalanan darah dikedalamannya. Darah? Seperti itukah darah miliknya? Mengapa tidak berwarna merah seperti kepunyaanku? “Sesuatu” yang mengalir di dalam tubuhnya itu berwarna biru kelabu. Cukup membuatku tersentak dan bergidik ngeri.

Ia mendekat selangkah lagi. Dari jarak sedekat ini, indera penciumanku disuguhkan pada sebuah aroma aneh yang menguar dari tubuhnya. Tidak bisa dikatakan wangi karena dengan refleks aku menutup hidungku dengan kedua telapak tangan. Satu tangannya terjulur kearahku. Seperti ingin ku genggam dalam jalin persahabatan. Itukah yang ia mau? Atau jangan-jangan ia ingin menarikku ke dalam dunianya yang tak pernah ku tau dimana letaknya. Beberapa puluh meter di belakang kami terparkir dengan rapi sebuah kendaraan berbentuk tabung silinder super besar yang mengeluarkan cahaya sangat terang. Cahaya yang membuat mataku silau ketika pertama kali menatapnya. Tadi. Saat aku siuman dari tidur panjangku. Pingsan tepatnya.

Ia berteriak. Suaranya membuatku pusing. Aku memegang kepalaku pertanda kesakitan. Telapak tanganku basah. Bukan keringat yang hadir secepat ini. Satu dua tetes darah segar mengalir dari kedua telingaku. Ia menabrakku dengan kekuatan penuh. Tubuh indahnya tadi yang kukagumi ternyata kumpulan lendir berbau busuk yang membuatku ingin muntah. Sebelum aku mati, sebuah kesadaran hadir dibenakku, “Bangsat, ini dia Alien itu!”
 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea