Tampilkan postingan dengan label tentang Orestilla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang Orestilla. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 3

ABQARI BAGASKORO HAZANI

Diposting oleh Orestilla di 10.44.00 0 komentar
Setahun sudah rasaku tak menyentuh laman ini. Ada banyak bahagia yang ingin kubagi pada kalian, siapa saja yang dengan senang hati berkunjung.
Tepat satu tahun setelah menikah dengan seorang lelaki, sahabat sejatiku hingga mati nanti (inshaAllah), Allah mempercayakan seorang lelaki kecil padaku. Lelaki kecil yang kami beri nama Abqari Bagaskoro Hazani. Bayi kecil yang kuharapkan bisa menjadi lelaki yang pintar dan kuat dalam menjalani kehidupannya nanti. Karena dunia ini keras. Karena dunia ini tak selalu berjalan seperti apa yang ia inginkan.
Padanya selalu kutitipkan pesan agar kelak ia bisa mengantarkanku menuju sorgaNya. Saat mata kami saling menatap, kusampaikan bahwa aku bersyukur memilikinya, bahwa sampai mati aku akan mencintainya, bahwa ia membuat hidupku memiliki tujuan yang lebih jelas, bahwa tanpanya aku bukan siapa-siapa. Setiap tetes air susu yang mengalir dari tubuhku ke dalam aliran darahnya berisi doa yang tak akan pernah putus. Doa yang kulantunkan di sepertiga malam, di teriknya siang, di dalam dinginnya kelam.
Setiap kali ia menangis, airmata ku pun jatuh tanpa bisa kutahan. Setiap tawa mampir di bibir mungilnya, bahagiaku pun ikut membuncah. Melihatnya lelap dalam tidur yang damai, sekali lagi kuucapkan syukur pada Sang Khalik karena telah menghadirkannya di kehidupanku yang tak sempurna. Ia menyempurnakan segalanya.
Bagas, jadilah lelaki sholeh kebanggaan ibuk. Saat menua, ibuk berharap tangan kokoh Bagaslah yang akan menggandeng tangan ringkih yang ibuk punya.

Sehat selalu ya nak. Ibuk sayang Mas Bagas :*









Senin, Oktober 7

Karena menulis itu..

Diposting oleh Orestilla di 12.21.00 0 komentar
Aku Tilla. Lengkapnya Livka Orestilla. Tahun ini usiaku genap 25 tahun. Dua digit angka inilah yang memaksaku untuk tidak lagi bermain-main dengan hidup. Setidaknya aku sudah harus memiliki tujuan masa depan yang jelas, untuk nantinya akan mati-matian kuperjuangkan. Saat ini namaku tercatat sebagai salah seorang pelayan masyarakat di daerah Kota Solok Provinsi Sumatera Barat.
Berlatar pendidikan di bidang pemerintahan, tak menjadikan mimpi terbaikku lenyap dimakan jaman. Sedari kecil aku memang selalu bermimpi menjadi seorang penulis. Setiap kali membaca buku, novel, majalah atau apapun jenisnya, aku selalu berharap bisa menjadi salah seorang diantara mereka. Ya. Penulis-penulis hebat itu. Kebiasaan bermain dengan kata dan menghadirkan mereka dalam keseharian, memupuk mimpi yang semakin hari bukannya mati, malah menjadi-jadi. Bagiku buku tak hanya jendela ilmu. Buku lah yang menjadi teman ketika sedih dan bosan melanda. Buku juga yang membuat waktuku tak habis hanya untuk sesuatu yang tak ada gunanya. Buku juga menjadi tempatku melampiaskan kekesalan. Entah ramuan apa yang ia miliki, hanya dengan larut dalam barisan kata, rasa dongkol itu akan menguap begitu saja.
Tidak sedikit berita miring yang sampai padaku. Kebanyakan dari mereka akan berkata bahwa aku seperti orang yang tak bisa bersyukur. Disaat aku seharusnya lebih memfokuskan diri dan pikiran pada pekerjaan kantor, aku malah memilih larut dalam rangkaian narasi yang bagi mereka mungkin bagai tak berkesudahan. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang berpendapat bahwa orang biasa sepertiku tidak akan pernah mampu menulis sebaik yang dilakukan penulis terkenal yang bukunya terjual jutaan eksamplar. Aku sendiri heran mengapa masih ada orang yang begitu susah dan terbebani dengan hobiku yang sama sekali tidak mengganggu area pribadi mereka. Padahal seandainya mereka tahu, aku melakukan ini semua tanpa sedikitpun berniat untuk meninggalkan kewajibanku sebagai seorang pegawai negeri sipil. Pegawai pemerintah yang setiap bulannya menerima gaji, yang memiliki janji pada negeri untuk menjadi puteri terbaik bangsa ini. Aku selalu ingat dan tak pernah sekalipun melupakan janji tersebut. Maka hanya dengan mengusap dada dan tetap bersabar aku menghadapi hujatan dan pendapat keliru itu.
Hujatan dan hinaan yang datang sama sekali tidak mempengaruhi mimpi besarku. Setiap hari aku selalu menulis walaupun hanya 5 halaman. Setiap hari aku selalu membaca walau tak menamatkan satu buku. Aku melakukan itu semua untuk alasan-alasan yang tak harus dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Aku memang belum pernah mengasah kemampuan menulisku secara khusus dalam bentuk pendidikan atau pelatihan. Apa yang kutulis sedari dulu, kupelajari sendiri dengan memperbanyak bacaan dan membuka internet. 



Untuk mengasah keterampilan menulis ini, aku sering mengikuti berbagai ajang lomba dan proyek menulis. Lomba-lomba ini sering diadakan oleh pihak-pihak pecinta buku sepertiku. Dan setiap kali berhubungan dengan mereka walau hanya lewat dunia maya, aku seperti menemukan sahabat sejati yang mengerti akan diriku seutuhnya.
Jika yang sedang membaca tulisan ini masih ada yang ingin mempertanyakan alasanku untuk selalu menghabiskan waktu bersama buku, berjam-jam menulis untuk sebuah mimpi besar, maka ini jawabanku: Karena menulis itu merupakan sebuah tiket bagiku untuk menciptakan sebuah kenangan. Benar. Jika suatu hari nanti namaku tercatat sebagai seorang penulis di negeri ini, maka sampai kapanpun aku akan diingat dan keinginanku untuk menyebarkan nilai-nilai positif pada banyak orang akan dilakukan oleh buku-buku yang kulahirkan.


Untuk semua orang yang pernah menyepelekan mimpi ini, maka kuucapkan terimakasih sekali lagi. Kenapa? Karena hujatan dan hinaan itu tak akan pernah memadamkan semangatku. Dengan rumus khusus, kata-kata itu akan kuubah menjadi sebuah cambuk dan motivasi untuk bergerak menjadi lebih baik lagi. Walaupun sekarang pada kenyataannya, semua naskah yang kukirimkan ke berbagai penerbit masih mengalami penolakan, aku yakin suatu hari nanti akan ada satu, dua, tiga dan banyak naskahku yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Jadi tak ada gunanya bersedih hati bukan? Karena larut dalam kesedihan hanya akan menumpulkan kreativitas dan mematikan mimpi besarku.
Salam hangat. Tilla.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis #MyDream oleh @divapress01 @de_teens @edi_akhiles :)

Rabu, Oktober 2

Rumus Posthink: mengubah Iri menjadi Pembelajaran

Diposting oleh Orestilla di 09.56.00 0 komentar


Ada sedikit rasa iri -ganti- banyak rasa iri ketika mengetahui ada begitu banyak teman yang berhasil melanjutkan pendidikan mereka ke luar negeri. Ada yang ke Jepang, Jerman, Australia dan terakhir Amerika Serikat. Betapa beruntungnya mereka. Betapa banyaknya ilmu yang bisa mereka gali di luar sana. Betapa banyak jumlah relasi yang mereka dapatkan dari seluruh belahan dunia. Betapa banyaknya kuantitas cerita yang bisa mereka ceritakan nantinya pada anak cucu mereka. Ah. Betapa sangat beruntungnya.
Bukannya tidak bersyukur pada apa yang sudah bisa saya raih hari ini. Tidak. Tidak sama sekali. Saya sudah ceritakan berkali-kali, betapa beruntungnya saya bisa disekolahkan di IPDN, betapa beruntungnya saya yang langsung bekerja segera setelah menamatkan pendidikan saya di sana, betapa beruntungnya saya bisa melanjutkan lagi pendidikan saya setelah itu. Saya bersyukur, sangat bersyukur. Namun apa yang teman-teman pertontonkan dari seberang sana mengusik saya. Saya bertekad untuk belajar lebih banyak lagi, walau tak bisa menapakkan kaki di negara lain yang jaraknya saja memakan waktu perjalanan puluhan jam dari Indonesia tercinta.
Bukankah segala hal yang “menyesakkan” seperti ini harus dicarikan rumus perbaikannya? Maka saya mulai “mem-positive-thinking-kan” keinginan menggebu yang mungkin tak akan pernah lagi saya raih. Hiks. Karena sekarang, begitu saya membuka pembicaraan tentang kelanjutan pendidikan, mama dan papa akan langsung memborbardir dan memblokir pembicaraan dengan satu tema penutup yaitu pernikahan. Dan setelahnya saya akan tutup mulut kemudian menggelar tikar di pojokan kamar, bersemedi dan menghilang dari peredaran. Hahaha.
Oke. Rumus tadi menghasilkan sebuah kesepakatan dengan hati dan diri saya sendiri bahwa saya harus “memanfaatkan” mereka yang tengah mencari ilmu di luar sana. Lumayan kan. Dengan memiliki teman-teman baik dan berpengetahuan dengan pengalaman langsung seperti mereka, saya bisa bertanya banyak hal yang belum saya ketahui. For example, kemaren pas Oni (red- Vioni Derosya - Sahabat masa SMA yang kini tengah melanjutkan pendidikannya di Jepang) mengetengahkan sebuah potret makanan yang saya yakin adalah sebuah telor mata sapi setengah matang, ternyata adalah cemilan khas Jepang yang sering dimakan dalam acara minum teh. Namanya Okashi. Rasanya manis seperti penampakannya. Nah itu contoh kecil yang besar sekali manfaatkan kan? Coba bayangkan jika suatu hari nanti saya punya kesempatan mengecap udara Jepang dan ketemu sama makanan ini, saya pasti teriak (dalam bahasa Jepang) “Buk..beli telor mata sapinya satu”. Nyahahaha. kan ceritanya jadi luar biasa memalukan.

ini dia okashi. Mirip telor-setengah-matang kan? haha

Contoh lain pas pagi ini saya nyambangi facebooknya Ardi. Ini teman alam maya yang sedang merintis mimpi besarnya di Florida. Saya tertarik pada salah satu statusnya, “Ichetucknee Spring, one of the natural spring but really look like it just can see in dreaming. 59 minutes from GNV guys.” Coba kalo nggak baca ini, saya juga nggak akan pernah tau kalo ada sebuah tempat menarik di luar sana yang yaaaaaa..bisa jadi suatu hari nanti saya datangi kan. Haha. Ardi memberi konfirmasi tambahan bahwa ternyata waktu tempuh natural spring tersebut hanya 48 menit dari GNV. Oke sip. Tambahan pengetahuannya segera saya selamatkan ke kotak ilmu pribadi. Haha.


So far, thanks banget buat teman-teman yang lagi merajut asa dan mimpi mereka di luar sana. Sukses selalu untuk kalian. Berkarya besarlah untuk Indonesia kita tercinta. Buktikan pada dunia, bahwa Indonesia punya banyak generasi muda yang bisa diandalkan. Salam hangat dari Indonessia bagian barat yang sedang mendung dan dingin. Hoaaamm. Saya lanjut kerja dulu. Bye.

Rabu, September 4

2013

Diposting oleh Orestilla di 09.30.00 0 komentar

Hepi new year my blogy’s friends..
Baru jalan 2 hari di awal tahun ini, tahun yang semoga saja mampu menghadirkan banyak letup kebahagiaan nantinya. Amiin. Tahun dimana remah-ramah kesuksesan akan kita kumpulkan bersama. Amiin. Tahun yang yaaaa.. semoga saja jodohku nemuin jalannya dan mampir dalam kehidupanku tahun ini. Amiiin lagi. Hahaha.
Tahun lalu, ada banyak pelajaran berharga yang ga akan pernah terlupa. Ajaran akan hidup dan apa itu dewasa yang sesungguhnya. Yang baeknya jadikan kawan melangkah ke putaran dunia berikutnya. Yang jelek, tentunya dibuang jauh-jauh dan jangan pernah sentuh lagi untuk kali yang kedua.
Bicara 2013, bicara tahun baru, bicara harapan-harapan baru. Catet semua cita yang akan kita rengkuh tahun ini. Banyak tak apa. Tiada malah akan membuat kita layaknya manusia tak punya asa. Hmmm..semoga doaku, doamu dan doa kita semua dijamah Allah SWT. Amiin Rabb.
Ini dia milikku, milikmu mana?
REVIEW 2012 :
Awalnya hati dan pikiranku berkata bahwa tahun 2012 akan menjadi tahun terburuk yang pernah ada. Inget kan? awal tahun yang sempat memporakporandakan hidup dan mematahkan ribuan harapan. Namun faktanya jauh berbeda. Keterpurukan, kekecewaan dan kesedihan mendalam malah mampu menjadi sebuah motivator terkuat yang melontarkanku keketinggian yang bahkan tak pernah melintas sebelumnya dalam logika. Jadi siapa yang bisa menafsirkan jalan hidupmu selain Tuhan? Tak ada, tidak juga dirimu sendiri. Tanganku mulai lihai diatas kertas. Bukan untuk melukis hidup tapi mencoba mengembangkan hobi yang dulu tersimpan saja di lorong gelap sisi bahagiaku. Hasilnya, ada beberapa permintaan desain pakaian dalam skala besar yang saat itu membuatku tertawa sendiri. Siapa aku? Desainer? Tidak. Haha. Aku sangat menikmatinya. Tangan ini  jualah yang akhirnya berhasil membuat karya kecilku tentang Longdistance Relationship diterbitkan dalam sebuah buku bersama 29 penulis ecek-ecek lainnya. Dari sanalah aku meramu jutaan pandangan dan rasa yang berbeda dari banyak orang. Ujung-ujungnya, setelah belajar banyak dari kisah-kisah itu, apapun ending kisah yang ku punya, aku bahagia. Tahun 2012 menjadi titik tolak penting dalam hidupku. Di tahun ini pula aku mulai mencoba peruntunganku di bidang bisnis. Kecil-kecilan tentunya. Namun alhamdulillah bisa membantuku melanjutkan pendidikan lagi.  Jadi akan sangat menyedihkan bukan bila aku tak mensyukuri limpahan rezeki dan kebahagiaan yang dihadiahkan Tuhan untukku.
RESOLUSI 2013
Semangat dan harapan tak harus dilontarkan ketika tahun berganti. Namun ketika hari baru menyongsong, merugilah orang yang tak punya impian untuk menjadi lebih baik lagi. Hmm..mari kita liat daftar keinginan apa yang harus diperjuangkan di tahun ini :
Tesis harus udah beres setidaknya Februari 2013.
Kerjaan kantor beres tiap bulannya. Ga ada lagi istilah mengundur-undur waktu.
Ga boros-boros lagi (diusahain).
Jualannya lebih banyak lagi dari tahun lalu. Haha. Mari dibeli pak, dibeli buk. Haha.
Pengen les bahasa inggris lagi. Nah lo..?? Boleh kan ya? Hehe.
Kalo bisa target 111213 yang kemaren diomongin sama papa terkabul. Amiiin. Apaan coba?? Hahahahaha.
Satu lagi. Tahun ini harus bisa masak. Uuupss :D
Dan yang pastinya apa yang udah baek di tahun lalu jangan diilangin lagi. Baeknya ditambah, jeleknya buang kelaut. Sipp.

Selasa, September 3

Diary Napsu

Diposting oleh Orestilla di 11.08.00 0 komentar


Eits..jangan mikir ngeres dulu kalo baru baca title-nya doang.
Tapi ini seriusan lo. Napsu mengasingkan diri seorang diri ke tempat terpencil lagi tinggi-tingginya sekarang. Dibilang lagi stress, nggak sih. Depresi apalagi (dan jangan tuduh saya lagi gila ya kawan). Begitu pun dengan tekanan pekerjaan, nggak ada sama sekali (ini ada sedikit bohong tapi ya sudahlah, saya lagi nggak pengen curcol disini. Cukup disimpen dalam hati aja kali ya ciiinn).
Oke. Kembali ke laaaptop..!!!
Beberapa hari terakhir saya selalu berharap atau lebih tepat dikatakan “bermimpi” saat bangun tidur dan membuka jendela, angin segar berhembus dan view yang ada di depan mata saya saat itu adalah pepohonan yang tinggi menjulang ditingkahi canda burung disana-sini. Ah..betapa nikmatnya hidup. Sesaat saya tertegun di depan jendela. Akan lebih afdol bila jendela tersebut dilengkapi dengan sebuah kursi sofa empuk berwarna putih (mengapa harus putih? iya. putih lebih cocok untuk suasana hati saya saat ini yang sedaaanng..cut..cut..cut) yang menempel didaunnya. Saya nikmati keagungan Allah tersebut dengan muka berseri walau belum mandi pagi. 


Setelah puas menikmati udara pagi, saya beranjak menuju dapur mini yang di atas meja kecilnya saya temukan secangkir hot chocolate. Disampingnya ada sepiring roti bakar cokelat. Cokelat. Slrruuppp. Betapa hanya dengan menuliskannya saja, napsu makan saya naik ribuan kali lipat. Saya melangkah lagi menuju sofa-empuk-putih-didaun-jendela tadi. Dalam perjalan menuju kesana, tangan saya menyambar sebuah buku, the Alchemist-nya Paulo Coelho (karena ini sedang mimpi, jadi buku impian saya pun harus mampir ke laman ini).
Hidup terasa sempurna saat itu. Latar belakang suara merdunya Evenescence dengan My Immortalnya ikut menemani pagi sempurna saya di daerah terpencil dengan sofa-empuk-pink-didaun-jendela.
Andai semua tak hanya mimpi basi. Sekian.
[Kantor Lurah PPA Kota Solok. 11:00am. Ditengah lusinan berkas yang baru saja selesai dibereskan].
Tampilkan postingan dengan label tentang Orestilla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang Orestilla. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 3

ABQARI BAGASKORO HAZANI

Diposting oleh Orestilla di 10.44.00 0 komentar
Setahun sudah rasaku tak menyentuh laman ini. Ada banyak bahagia yang ingin kubagi pada kalian, siapa saja yang dengan senang hati berkunjung.
Tepat satu tahun setelah menikah dengan seorang lelaki, sahabat sejatiku hingga mati nanti (inshaAllah), Allah mempercayakan seorang lelaki kecil padaku. Lelaki kecil yang kami beri nama Abqari Bagaskoro Hazani. Bayi kecil yang kuharapkan bisa menjadi lelaki yang pintar dan kuat dalam menjalani kehidupannya nanti. Karena dunia ini keras. Karena dunia ini tak selalu berjalan seperti apa yang ia inginkan.
Padanya selalu kutitipkan pesan agar kelak ia bisa mengantarkanku menuju sorgaNya. Saat mata kami saling menatap, kusampaikan bahwa aku bersyukur memilikinya, bahwa sampai mati aku akan mencintainya, bahwa ia membuat hidupku memiliki tujuan yang lebih jelas, bahwa tanpanya aku bukan siapa-siapa. Setiap tetes air susu yang mengalir dari tubuhku ke dalam aliran darahnya berisi doa yang tak akan pernah putus. Doa yang kulantunkan di sepertiga malam, di teriknya siang, di dalam dinginnya kelam.
Setiap kali ia menangis, airmata ku pun jatuh tanpa bisa kutahan. Setiap tawa mampir di bibir mungilnya, bahagiaku pun ikut membuncah. Melihatnya lelap dalam tidur yang damai, sekali lagi kuucapkan syukur pada Sang Khalik karena telah menghadirkannya di kehidupanku yang tak sempurna. Ia menyempurnakan segalanya.
Bagas, jadilah lelaki sholeh kebanggaan ibuk. Saat menua, ibuk berharap tangan kokoh Bagaslah yang akan menggandeng tangan ringkih yang ibuk punya.

Sehat selalu ya nak. Ibuk sayang Mas Bagas :*









Senin, Oktober 7

Karena menulis itu..

Diposting oleh Orestilla di 12.21.00 0 komentar
Aku Tilla. Lengkapnya Livka Orestilla. Tahun ini usiaku genap 25 tahun. Dua digit angka inilah yang memaksaku untuk tidak lagi bermain-main dengan hidup. Setidaknya aku sudah harus memiliki tujuan masa depan yang jelas, untuk nantinya akan mati-matian kuperjuangkan. Saat ini namaku tercatat sebagai salah seorang pelayan masyarakat di daerah Kota Solok Provinsi Sumatera Barat.
Berlatar pendidikan di bidang pemerintahan, tak menjadikan mimpi terbaikku lenyap dimakan jaman. Sedari kecil aku memang selalu bermimpi menjadi seorang penulis. Setiap kali membaca buku, novel, majalah atau apapun jenisnya, aku selalu berharap bisa menjadi salah seorang diantara mereka. Ya. Penulis-penulis hebat itu. Kebiasaan bermain dengan kata dan menghadirkan mereka dalam keseharian, memupuk mimpi yang semakin hari bukannya mati, malah menjadi-jadi. Bagiku buku tak hanya jendela ilmu. Buku lah yang menjadi teman ketika sedih dan bosan melanda. Buku juga yang membuat waktuku tak habis hanya untuk sesuatu yang tak ada gunanya. Buku juga menjadi tempatku melampiaskan kekesalan. Entah ramuan apa yang ia miliki, hanya dengan larut dalam barisan kata, rasa dongkol itu akan menguap begitu saja.
Tidak sedikit berita miring yang sampai padaku. Kebanyakan dari mereka akan berkata bahwa aku seperti orang yang tak bisa bersyukur. Disaat aku seharusnya lebih memfokuskan diri dan pikiran pada pekerjaan kantor, aku malah memilih larut dalam rangkaian narasi yang bagi mereka mungkin bagai tak berkesudahan. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang berpendapat bahwa orang biasa sepertiku tidak akan pernah mampu menulis sebaik yang dilakukan penulis terkenal yang bukunya terjual jutaan eksamplar. Aku sendiri heran mengapa masih ada orang yang begitu susah dan terbebani dengan hobiku yang sama sekali tidak mengganggu area pribadi mereka. Padahal seandainya mereka tahu, aku melakukan ini semua tanpa sedikitpun berniat untuk meninggalkan kewajibanku sebagai seorang pegawai negeri sipil. Pegawai pemerintah yang setiap bulannya menerima gaji, yang memiliki janji pada negeri untuk menjadi puteri terbaik bangsa ini. Aku selalu ingat dan tak pernah sekalipun melupakan janji tersebut. Maka hanya dengan mengusap dada dan tetap bersabar aku menghadapi hujatan dan pendapat keliru itu.
Hujatan dan hinaan yang datang sama sekali tidak mempengaruhi mimpi besarku. Setiap hari aku selalu menulis walaupun hanya 5 halaman. Setiap hari aku selalu membaca walau tak menamatkan satu buku. Aku melakukan itu semua untuk alasan-alasan yang tak harus dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Aku memang belum pernah mengasah kemampuan menulisku secara khusus dalam bentuk pendidikan atau pelatihan. Apa yang kutulis sedari dulu, kupelajari sendiri dengan memperbanyak bacaan dan membuka internet. 



Untuk mengasah keterampilan menulis ini, aku sering mengikuti berbagai ajang lomba dan proyek menulis. Lomba-lomba ini sering diadakan oleh pihak-pihak pecinta buku sepertiku. Dan setiap kali berhubungan dengan mereka walau hanya lewat dunia maya, aku seperti menemukan sahabat sejati yang mengerti akan diriku seutuhnya.
Jika yang sedang membaca tulisan ini masih ada yang ingin mempertanyakan alasanku untuk selalu menghabiskan waktu bersama buku, berjam-jam menulis untuk sebuah mimpi besar, maka ini jawabanku: Karena menulis itu merupakan sebuah tiket bagiku untuk menciptakan sebuah kenangan. Benar. Jika suatu hari nanti namaku tercatat sebagai seorang penulis di negeri ini, maka sampai kapanpun aku akan diingat dan keinginanku untuk menyebarkan nilai-nilai positif pada banyak orang akan dilakukan oleh buku-buku yang kulahirkan.


Untuk semua orang yang pernah menyepelekan mimpi ini, maka kuucapkan terimakasih sekali lagi. Kenapa? Karena hujatan dan hinaan itu tak akan pernah memadamkan semangatku. Dengan rumus khusus, kata-kata itu akan kuubah menjadi sebuah cambuk dan motivasi untuk bergerak menjadi lebih baik lagi. Walaupun sekarang pada kenyataannya, semua naskah yang kukirimkan ke berbagai penerbit masih mengalami penolakan, aku yakin suatu hari nanti akan ada satu, dua, tiga dan banyak naskahku yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Jadi tak ada gunanya bersedih hati bukan? Karena larut dalam kesedihan hanya akan menumpulkan kreativitas dan mematikan mimpi besarku.
Salam hangat. Tilla.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis #MyDream oleh @divapress01 @de_teens @edi_akhiles :)

Rabu, Oktober 2

Rumus Posthink: mengubah Iri menjadi Pembelajaran

Diposting oleh Orestilla di 09.56.00 0 komentar


Ada sedikit rasa iri -ganti- banyak rasa iri ketika mengetahui ada begitu banyak teman yang berhasil melanjutkan pendidikan mereka ke luar negeri. Ada yang ke Jepang, Jerman, Australia dan terakhir Amerika Serikat. Betapa beruntungnya mereka. Betapa banyaknya ilmu yang bisa mereka gali di luar sana. Betapa banyak jumlah relasi yang mereka dapatkan dari seluruh belahan dunia. Betapa banyaknya kuantitas cerita yang bisa mereka ceritakan nantinya pada anak cucu mereka. Ah. Betapa sangat beruntungnya.
Bukannya tidak bersyukur pada apa yang sudah bisa saya raih hari ini. Tidak. Tidak sama sekali. Saya sudah ceritakan berkali-kali, betapa beruntungnya saya bisa disekolahkan di IPDN, betapa beruntungnya saya yang langsung bekerja segera setelah menamatkan pendidikan saya di sana, betapa beruntungnya saya bisa melanjutkan lagi pendidikan saya setelah itu. Saya bersyukur, sangat bersyukur. Namun apa yang teman-teman pertontonkan dari seberang sana mengusik saya. Saya bertekad untuk belajar lebih banyak lagi, walau tak bisa menapakkan kaki di negara lain yang jaraknya saja memakan waktu perjalanan puluhan jam dari Indonesia tercinta.
Bukankah segala hal yang “menyesakkan” seperti ini harus dicarikan rumus perbaikannya? Maka saya mulai “mem-positive-thinking-kan” keinginan menggebu yang mungkin tak akan pernah lagi saya raih. Hiks. Karena sekarang, begitu saya membuka pembicaraan tentang kelanjutan pendidikan, mama dan papa akan langsung memborbardir dan memblokir pembicaraan dengan satu tema penutup yaitu pernikahan. Dan setelahnya saya akan tutup mulut kemudian menggelar tikar di pojokan kamar, bersemedi dan menghilang dari peredaran. Hahaha.
Oke. Rumus tadi menghasilkan sebuah kesepakatan dengan hati dan diri saya sendiri bahwa saya harus “memanfaatkan” mereka yang tengah mencari ilmu di luar sana. Lumayan kan. Dengan memiliki teman-teman baik dan berpengetahuan dengan pengalaman langsung seperti mereka, saya bisa bertanya banyak hal yang belum saya ketahui. For example, kemaren pas Oni (red- Vioni Derosya - Sahabat masa SMA yang kini tengah melanjutkan pendidikannya di Jepang) mengetengahkan sebuah potret makanan yang saya yakin adalah sebuah telor mata sapi setengah matang, ternyata adalah cemilan khas Jepang yang sering dimakan dalam acara minum teh. Namanya Okashi. Rasanya manis seperti penampakannya. Nah itu contoh kecil yang besar sekali manfaatkan kan? Coba bayangkan jika suatu hari nanti saya punya kesempatan mengecap udara Jepang dan ketemu sama makanan ini, saya pasti teriak (dalam bahasa Jepang) “Buk..beli telor mata sapinya satu”. Nyahahaha. kan ceritanya jadi luar biasa memalukan.

ini dia okashi. Mirip telor-setengah-matang kan? haha

Contoh lain pas pagi ini saya nyambangi facebooknya Ardi. Ini teman alam maya yang sedang merintis mimpi besarnya di Florida. Saya tertarik pada salah satu statusnya, “Ichetucknee Spring, one of the natural spring but really look like it just can see in dreaming. 59 minutes from GNV guys.” Coba kalo nggak baca ini, saya juga nggak akan pernah tau kalo ada sebuah tempat menarik di luar sana yang yaaaaaa..bisa jadi suatu hari nanti saya datangi kan. Haha. Ardi memberi konfirmasi tambahan bahwa ternyata waktu tempuh natural spring tersebut hanya 48 menit dari GNV. Oke sip. Tambahan pengetahuannya segera saya selamatkan ke kotak ilmu pribadi. Haha.


So far, thanks banget buat teman-teman yang lagi merajut asa dan mimpi mereka di luar sana. Sukses selalu untuk kalian. Berkarya besarlah untuk Indonesia kita tercinta. Buktikan pada dunia, bahwa Indonesia punya banyak generasi muda yang bisa diandalkan. Salam hangat dari Indonessia bagian barat yang sedang mendung dan dingin. Hoaaamm. Saya lanjut kerja dulu. Bye.

Rabu, September 4

2013

Diposting oleh Orestilla di 09.30.00 0 komentar

Hepi new year my blogy’s friends..
Baru jalan 2 hari di awal tahun ini, tahun yang semoga saja mampu menghadirkan banyak letup kebahagiaan nantinya. Amiin. Tahun dimana remah-ramah kesuksesan akan kita kumpulkan bersama. Amiin. Tahun yang yaaaa.. semoga saja jodohku nemuin jalannya dan mampir dalam kehidupanku tahun ini. Amiiin lagi. Hahaha.
Tahun lalu, ada banyak pelajaran berharga yang ga akan pernah terlupa. Ajaran akan hidup dan apa itu dewasa yang sesungguhnya. Yang baeknya jadikan kawan melangkah ke putaran dunia berikutnya. Yang jelek, tentunya dibuang jauh-jauh dan jangan pernah sentuh lagi untuk kali yang kedua.
Bicara 2013, bicara tahun baru, bicara harapan-harapan baru. Catet semua cita yang akan kita rengkuh tahun ini. Banyak tak apa. Tiada malah akan membuat kita layaknya manusia tak punya asa. Hmmm..semoga doaku, doamu dan doa kita semua dijamah Allah SWT. Amiin Rabb.
Ini dia milikku, milikmu mana?
REVIEW 2012 :
Awalnya hati dan pikiranku berkata bahwa tahun 2012 akan menjadi tahun terburuk yang pernah ada. Inget kan? awal tahun yang sempat memporakporandakan hidup dan mematahkan ribuan harapan. Namun faktanya jauh berbeda. Keterpurukan, kekecewaan dan kesedihan mendalam malah mampu menjadi sebuah motivator terkuat yang melontarkanku keketinggian yang bahkan tak pernah melintas sebelumnya dalam logika. Jadi siapa yang bisa menafsirkan jalan hidupmu selain Tuhan? Tak ada, tidak juga dirimu sendiri. Tanganku mulai lihai diatas kertas. Bukan untuk melukis hidup tapi mencoba mengembangkan hobi yang dulu tersimpan saja di lorong gelap sisi bahagiaku. Hasilnya, ada beberapa permintaan desain pakaian dalam skala besar yang saat itu membuatku tertawa sendiri. Siapa aku? Desainer? Tidak. Haha. Aku sangat menikmatinya. Tangan ini  jualah yang akhirnya berhasil membuat karya kecilku tentang Longdistance Relationship diterbitkan dalam sebuah buku bersama 29 penulis ecek-ecek lainnya. Dari sanalah aku meramu jutaan pandangan dan rasa yang berbeda dari banyak orang. Ujung-ujungnya, setelah belajar banyak dari kisah-kisah itu, apapun ending kisah yang ku punya, aku bahagia. Tahun 2012 menjadi titik tolak penting dalam hidupku. Di tahun ini pula aku mulai mencoba peruntunganku di bidang bisnis. Kecil-kecilan tentunya. Namun alhamdulillah bisa membantuku melanjutkan pendidikan lagi.  Jadi akan sangat menyedihkan bukan bila aku tak mensyukuri limpahan rezeki dan kebahagiaan yang dihadiahkan Tuhan untukku.
RESOLUSI 2013
Semangat dan harapan tak harus dilontarkan ketika tahun berganti. Namun ketika hari baru menyongsong, merugilah orang yang tak punya impian untuk menjadi lebih baik lagi. Hmm..mari kita liat daftar keinginan apa yang harus diperjuangkan di tahun ini :
Tesis harus udah beres setidaknya Februari 2013.
Kerjaan kantor beres tiap bulannya. Ga ada lagi istilah mengundur-undur waktu.
Ga boros-boros lagi (diusahain).
Jualannya lebih banyak lagi dari tahun lalu. Haha. Mari dibeli pak, dibeli buk. Haha.
Pengen les bahasa inggris lagi. Nah lo..?? Boleh kan ya? Hehe.
Kalo bisa target 111213 yang kemaren diomongin sama papa terkabul. Amiiin. Apaan coba?? Hahahahaha.
Satu lagi. Tahun ini harus bisa masak. Uuupss :D
Dan yang pastinya apa yang udah baek di tahun lalu jangan diilangin lagi. Baeknya ditambah, jeleknya buang kelaut. Sipp.

Selasa, September 3

Diary Napsu

Diposting oleh Orestilla di 11.08.00 0 komentar


Eits..jangan mikir ngeres dulu kalo baru baca title-nya doang.
Tapi ini seriusan lo. Napsu mengasingkan diri seorang diri ke tempat terpencil lagi tinggi-tingginya sekarang. Dibilang lagi stress, nggak sih. Depresi apalagi (dan jangan tuduh saya lagi gila ya kawan). Begitu pun dengan tekanan pekerjaan, nggak ada sama sekali (ini ada sedikit bohong tapi ya sudahlah, saya lagi nggak pengen curcol disini. Cukup disimpen dalam hati aja kali ya ciiinn).
Oke. Kembali ke laaaptop..!!!
Beberapa hari terakhir saya selalu berharap atau lebih tepat dikatakan “bermimpi” saat bangun tidur dan membuka jendela, angin segar berhembus dan view yang ada di depan mata saya saat itu adalah pepohonan yang tinggi menjulang ditingkahi canda burung disana-sini. Ah..betapa nikmatnya hidup. Sesaat saya tertegun di depan jendela. Akan lebih afdol bila jendela tersebut dilengkapi dengan sebuah kursi sofa empuk berwarna putih (mengapa harus putih? iya. putih lebih cocok untuk suasana hati saya saat ini yang sedaaanng..cut..cut..cut) yang menempel didaunnya. Saya nikmati keagungan Allah tersebut dengan muka berseri walau belum mandi pagi. 


Setelah puas menikmati udara pagi, saya beranjak menuju dapur mini yang di atas meja kecilnya saya temukan secangkir hot chocolate. Disampingnya ada sepiring roti bakar cokelat. Cokelat. Slrruuppp. Betapa hanya dengan menuliskannya saja, napsu makan saya naik ribuan kali lipat. Saya melangkah lagi menuju sofa-empuk-putih-didaun-jendela tadi. Dalam perjalan menuju kesana, tangan saya menyambar sebuah buku, the Alchemist-nya Paulo Coelho (karena ini sedang mimpi, jadi buku impian saya pun harus mampir ke laman ini).
Hidup terasa sempurna saat itu. Latar belakang suara merdunya Evenescence dengan My Immortalnya ikut menemani pagi sempurna saya di daerah terpencil dengan sofa-empuk-pink-didaun-jendela.
Andai semua tak hanya mimpi basi. Sekian.
[Kantor Lurah PPA Kota Solok. 11:00am. Ditengah lusinan berkas yang baru saja selesai dibereskan].
 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea