Tampilkan postingan dengan label IPDN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPDN. Tampilkan semua postingan

Senin, November 4

Kami si Pelayan

Diposting oleh Orestilla di 15.07.00 0 komentar


Cerita ini ada karena siang yang garang akan panasnya tiba-tiba berubah sendu karena hati saya terpapar kelu. Kelu pada pengabdian yang sudah 4 tahun ini saya jalankan. Sebagai seorang abdi negara, saya dan jutaan rekan yang lain di pelosok negeri ini berusaha memberikan yang terbaik untuk bangsa. Walau tak sedikit juga diantara kami yang mengecewakan ibu pertiwi. Entah itu masalah tilap-menilap uang negara, entah itu masalah lainnya. Saya tidak peduli lagi. Walau bagaimanapun penilaian pada hal ini tak bisa kita lakukan secara objektif, subjektif lah teman. Jika ingin menunjuk buruk, cukup pada si pelaku yang bersalah. Jangan lakukan pada kami semua. Karena masih banyak pegawai negeri di luar sana yang jujur, yang mengemban tugas sepenuh hati karena dengan gaji bulanan itu kami hidup dan menghidupi keluarga kami.


Tak jarang, airmata saya jatuh. Bersedih. Menangisi hujatan-hujatan yang seakan memang pantas dialamatkan pada kami semua. Bukankah di tempat lain juga ditemukan penjahat layaknya yang tersorot dari lembaga kami? Bahkan ada yang jauh lebih menyakitkan. Bukankah kami, anda dan kita semua ini manusia? Hamba-Nya yang pasti pernah salah dan khilaf.
Namun jauh dari kekecewaan dan kesedihan itu, saya meyakinkan hati nurani saya sendiri untuk tetap berbuat baik. Tak pelru bagi saya  segala pujian dari mulut anda. Yang saya butuhkan hanya sebentuk kepuasan dan keikhlasan dalam melayani Indonesia tercinta. Jika bagi anda, kami si pelayan ini terlalu hina, masih ada bangsa dan negara yang menganggap kami ada.

Cerita ini terlahir dari sebuah percakapan dengan salah seorang warga di tempat saya bekerja.
Warga: Saya mau ambil KTP elektronik. Bisa buk?
Saya: Bisa Pak. Boleh saya lihat KTP bapak yang lama?
Warga: Aduh. Saya nggak tau naruh dimana buk. Hilang.
Saya: Kalau begitu silahkan Bapak buatkan surat keterangan kepolisian terlebih dahulu. Nanti setelah selesai, bapak bawa kembali ke sini dan akan kami berikan KTP bapak yang baru.
Warga: Ga bisa pake SIM ya? atau surat dari RT?
Saya: Mohon maaf pak. Tidak bisa. Karena KTP yang lama akan ditarik kembali sebagai ganti  KTP baru yang diedarkan. Dan jika memang hilang, maka akan kami lampirkan nantinya surat keterangan hilang dari kepolisian.
Warga: Saya heran kenapa sistem di pemerintahan ini terlalu berbelit-belit.
Saya: Maaf pak. Kami bekerja sesuai dengan aturan dan edaran yang ada. Jika bapak berkenan, silahkan dibaca surat edaran langsung dari pusat terkait penyebaran KTP elektronik ini.
Warga: Ah sudahlah. Saya juga belum terlalu butuh dengan KTP ini. Saya kecewa karena dipersulit.

Dan selesai. Saya hanya bisa mengurut dada. Bukankah jika si bapak tidak teledor dan sembarangan menyimpan KTPnya yang lama, kejadian seperti ini tidak akan terjadi? Kami tidak pernah mempersulit jika pekerjaan kami juga tidak dipersulit. Bukankah jika si bapak dengan senang hati mau mengurus surat keterangan hilang, KTP barunya akan segera berpindahtangan? Bukankah jika dengan sedikit berlapang dada saja, saya tak perlu merasa terhina dan bersedih? Tapi itulah faktanya. Tak ada yang saya tambah dan kurangi. Saya hanya ingin kita semua bisa menilai sendiri kejadian kecil seperti ini. Saya labeli kejadian kecil, karena ada bahkan perlakuan lebih buruk ditumpangkan ke hati kami, si pelayan ini. 

Senin, September 30

Kekristenan mereka menguatkan keislamanku

Diposting oleh Orestilla di 09.34.00 0 komentar

Diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan yang merangkum seluruh putera-puteri bangsa dari seluruh penjuru nusantara adalah sebuah hadiah terindah dari Allah yang sebelumnya tak pernah mampir dalam hidupku walau hanya dalam mimpi. Ada banyak kenangan yang berhasil kami ukir disana, sebuah cerita yang mungkin saja tak akan bisa kubagi disini bila tak pernah menjajaki tempat tersebut.
Disana pula lah aku bertemu dengan ratusan bahkan ribuan orang dengan pola pikir, budaya, agama dan kebiasan hidup yang berbeda. Aku yang lahir dan tumbuh di daerah dengan kultur budaya “barat” yang hanya dengan berkata dengan intonasi cukup keras saja sudah dianggap kasar, mau tidak mau harus berbagi satu ruangan dengan teman-teman baru dari “timur” Indonesia yang mungkin saja beranggapan bahwa bicara dengan intonasi sekeras apapun bukan sebuah permasalahn besar asal tidak diniatkan untuk menyakiti perasaan orang lain.
Perbedaan itulah yang akan kuceritakan disini. Bukan untuk menghakimi suku atau agama manapun. Namun untuk menyadarkan banyak pihak di luar sana, bahwa perbedaan yang kita punya adalah sebuah harta berharga yang apabila mampu kita kelola dengan baik akan mendatangkan kebaikan bagi negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Berbagi ruangan berukuran sekitar 5 x 10 meter dengan 12 orang yang memiliki agama dan budaya yang berbeda, pada awalnya memang sangat sulit. Bagaimana tidak? Mulai dari kesulitan mengartikan bahasa daerah masing-masing, bingung dengan ritual ibadah agama teman yang lain serta banyak hal-hal kecil yang menjelma menjadi sebuah tanda tanya besar.
Aku seorang muslimah yang berasal dari Kota Solok Propinsi Sumatera Barat. Ada empat orang teman yang saat itu memeluk agama yang berbeda denganku. Mereka adalah Eriftora Kolimon dari Nusa Tenggara Timur, Eva Julita Pandjaitan yang berasal dari Kalimantan Timur walaupun ia memiliki darah batak, Mareska Karamoy dari Sulawesi Utara dan Marianti Valenti Jaya dari Papua.
Jujur, terbersit beberapa prasangka buruk ketika pertama kali kenal dengan mereka. Kekuranganku sebagai seorang manusia biasa. Sebagai seorang gadis yang tak pernah bersosialisasi di luar zona nyamanku. Sebagai seorang anak yang sedang mencari jati diri dan dihadapkan pada sebuah realita yang belum pernah kutemui di tempat kelahiranku.
Eriftora Kolimon. Pembawaannya yang pendiam dan jarang bicara, membuatku berpikir bahwa ia menarik diri dari pergaulan. Apakah ia tidak berminat untuk berteman denganku? Marianti yang selalu keras dalam menyampaikan apa yang ia pikirkan juga melahirkan sebuah pemikiran padaku waktu itu bahwa memang seperti itulah orang Papua, kasar dan tidak bersahabat. Lain halnya dengan Mareska. Mareska yang centil dan sangat tergila-gila pada warna merah jambu, membuatku sering berceletuk di dalam hati, apakah begini cara orang-orang disana mendidik anak gadisnya? Tenggelam dalam jiwa konsumerisme yang tinggi. Sedangkan untuk seorang Eva yang berdarah Batak namun sangat lembut, juga membuatku mempertanyakan kembali jiwa “ke-batak-annya”.
Namun waktu menjawab kesalahpahaman yang kuciptakan sendiri. Seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa dibalik tipikal diam dan seriusnya Erif, dia memiliki jiwa sosialisasi yang sangat tinggi. Erif tak pernah berkeberatan untuk membantuku dalam menghadapi kesulitan belajar. Marianti dengan sikapnya yang keras dan tegas juga tak pernah berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan simpati dariku, ia sangat terbuka. Mareska yang dulu bagiku sangat kekanak-kanakkan ternyata mampu menjelma menjadi seorang dewasa yang akan memberikan nasehat berharga bila aku dirundung masalah. Sedangkan Eva adalah seorang gadis Batak lembut pertama yang pernah kutemui, ia sangat baik dan tak pernah berpikir dua kali untuk membantu orang lain.
Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga bagiku adalah ketaatan mereka dalam beribadah. Aku yang terkadang lupa berdoa sebelum memulai hari seperti ditampar ketika melihat mereka dengan khusyuknya berdoa di tempat tidur masing-masing walaupun setiap harinya kami berpacu dengan waktu. Mereka juga sering mengingatkan kami ketika waktu shalat datang. Mereka juga tak segan-segan menjadi alarm setiap kali sahur di bulan suci Ramadhan. Bahkan tak jarang mereka juga ikut makan bersama kami. Mereka melakukannya dengan ketulusan dan tanpa mengharap imbalan. Kekristenan mereka menguatkan keislamanku. Aku berusaha untuk menjadi hamba Allah yang lebih taat setelah itu. Aku bangga memiliki sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Dan tulisan ini adalah dedikasi tertinggi yang mampu aku persembahkan untuk sahabat-sahabat yang sudah 4 tahun ini tak lagi bisa kutemui. Aku sangat merindukan mereka. Dan berharap semoga persahabatan lintas iman, lintas suku dan lintas budaya yang kami punya memiliki andil dalam menyatukan bangsa kita. Aamiin.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam #ProyekNulis buku #Dialog100 dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional pada tanggal 16 November 2013 mendatang.

Rabu, September 11

Surat cinta untuk 18

Diposting oleh Orestilla di 08.20.00 0 komentar


Dear 18 tercinta,

Apa kabar saudara? Semoga Tuhan dan semesta-Nya selalu menghadiahkan kebahagiaan untuk kita. Aamiin.

Jika dengan menonton tayangan Pengukuhan Pamong Praja Muda Angkatan 20 kemaren saja mampu membuncahkan rindu mendalam kita akan kesatriaan, bagaimana mungkin tanggal sakral ini akan hilang dari ingatan? 4 tahun sudah. 10,11,12 September 2009 adalah puncak seluruh perjuangan dan pengorbanan kita semua. Evolet, wisuda dan pengukuhan pamong praja muda menjadi rangkaian peristiwa mengharu biru yang tak akan pernah punah dilahap sang waktu. Ya. Lagi-lagi bicara rindu.

Masih ada yang telat apel pagi ini? Tentunya di pelosok nusantara ini, tak lagi kita temui Pak Sukoi yang hanya dengan memandangnya dari kejauhan saja sudah menciutkan ratusan nyali untuk bertindak gegabah melanggar aturan.

Masih ada yang telat makan pagi? Kemudian memilih mie rebus instan yang dimasak sederhana dengan bantuan heater hasil iuran satu petak itu? Haha. Mungkin sudah tidak lagi. Karena hampir separuh jumlah angkatan kita sudah punya “tukang masak” pribadi dirumahnya sendiri.

Masih ada yang suka curi-curi pandang di kala apel pagi gabungan? Jangan. Ingat istri dan suami dirumah dong. Haha. Ada yang masih suka telponan di tengah malam? Bahkan kuntilanak saja bisa tidur nyaman, sementara sebagian besar dari kita malah memilih untuk berbisik-bisik di bawah selimut masing-masing.  Hihi. Udah nggak lagi lah ya. Udah pada punya “alarm” pribadi juga yang tiap malam bisa ngomong langsung tanpa perantara, “Met bobok sayang. Mimpi indah.” *kecup* sudah..sudah..sudah..paragraf ini harusnya disensor pemirsa :D

Ah. Bicara rindu hanya menambah kelu. Ayo yang kemaren semangat bikin reunian. Jangan sampai 2018 besok terlewatkan begitu saja. Biar tangan bisa saling menggenggam lagi dan derai tawa meningkahi kekonyolan kita nanti.

18-ku tercinta, salam rindu dan peluk cium untuk kalian semua.
Orestilla.


Selasa, Agustus 13

#bicararindu

Diposting oleh Orestilla di 09.17.00 0 komentar
Semalam entah dengan alasan apa, tiba-tiba *kembali* rindu-serindu-rindunya dengan kampus. Dan nggak ada pilihan lain selain menarik mereka semua ke dalam kerinduan yang sama. Jadilah akhirnya kami ngobrol seru di timeline dengan hastag ampuh #bicararindu.
Ada beberapa teman yang tak punya akun tersebut, namun merasa tertarik sekali dengan apa yang kami lakukan semalam. Yang membuat saya sendiri tertawa terbahak-bahak hingga larut menjelang kelam. Dan rangkaian narasi ini khusus untuk mereka tercinta.
Ini dia petikan-petikan hangat #bicararindu kami:
@IamOrestilla Malam ini ingin bicara rindu pada kalian :)))
@IamOrestilla Pake hastag ini ya man teman #bicararindu
@IamOrestilla #bicararindu tak harus pada pacar atau kekasihmu. Krn bila harus seperti itu, aku buntu dan cerita ini akan berlalu. Bukan begitu? :))
@IamOrestilla Malam ini #bicararindu lebih pada kangen yg menggunung untuk sahabat2 tercinta di seluruh pelosok nusantara :')
@IamOrestilla Jika yg lain bs bertemu bila kangen, kita ya seperti ini..hanya bs #bicararindu di timeline :')
@IamOrestilla Karena aku di barat, kamu jauh di timur nusantara. #bicararindu bicara ttg jutaan kenangan ditempat itu, dmn lg kl bukan dkampus kita :')
@IamOrestilla #bicararindu bicara pd planning kita pada 1 agustus 2018 nanti. Jadi kah? Jadi aja ya man teman :D
@IamOrestilla Bila #bicararindu coba tarik teman 18 mana yg saat ini bikin kamu rindu? @SutiaTia @YennaAjja @AddR2T @Restra_yudha @stwjy @18aNdHieN :))
@IamOrestilla #bicararindu bicara pd kenangan yg pada akhirnya membuat kita menyatu dalam satu persaudaraan yg membatu dalam kalbu. Ia tak akan goyah :)
@IamOrestilla #bicararindu ini mereka :)) RT @YennaAjja: Hey gadis tuban, dan gadis mataram @devielinggar and @kiezamelia... How are u???
@IamOrestilla Lagi. #bicararindu RT @kiezamelia: Malem dingin tidur pake jaket begini inget jatinangor tidur pake jaket,clana pnjng masih selimutan pula
@stwjy memulai #bicararindu saat masih duduk di pendidikan dulu mungkin tak pernah habis. tapi, bisa dimulai sekarang. *ngunyah martabak*
@stwjy #bicararindu semua aktivitas yang kita lakuin sekarang pasti mengingatkan beberapa kehidupan saat masih menjalani pendidikan dulu.
@stwjy terutama tadi pagi dengan kondisi belum tidur (maklum ayah baru) udah harus mandi dan ngantor, suasana mirip saat muda praja. #bicararindu
@stwjy #bicararindu sering tertolong dan dimudahkan cuma karena hobby fotografi, begitu juga dunia kerja sekarang. hehe.
@stwjy #bicararindu bersama @diditwahyudin sering kabur dari ksatriaan karena ikut workshop dan lomba fotografi di bandung :))
@IamOrestilla Boleeehh..dimention dong mba biar afdol :)) RT @SutiaTia: @IamOrestilla mantan pacar boleh? *eeeaaaa *dikeplakIlla #bicararindu :D
@IamOrestilla NOTED! :D RT @stwjy: @IamOrestilla jangan dikira hal menyimpang, soale beliau salah satu sahabat di luar kontingen. sesama pehobi fotografi. #bicararindu
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg ingatan saat tengah malam dibangunin putra cm untuk ngejahit kancing buat pdh esok pagi :')
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg kenangan makan bareng dg makanan super duper buanyak yg sayangnya dihidangkan dg embeer cucian :/
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg lirik2 mesra putra ke putri saat papasan lari di aerobik pagi..seeerrr :)))
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg hukuman korsa seangkatan gara2 saya teriak di lapangan menza *pengakuan*
@IamOrestilla Wuiiss..sadiiiss..!!RT @SutiaTia: @IamOrestilla nomention La, kami sudah menempuh jalan bahagia masing-masing *tsah *dramasekalisodarasodara #bicararindu :D
@IamOrestilla *jabatanviamention* RT @Restra_yudha: Salam silaturahmi sodara2ku.. @IamOrestilla @SutiaTia @YennaAjja @AddR2T @stwjy @18aNdHieN
@IamOrestilla #bicararindu slm syg smuanya :* RT @SutiaTia: @IamOrestilla eh ini ada emak-emak ini @vinaPerdana @saripattopang @srikalsum @nodelsurya su bobo pasti mereka.
@IamOrestilla #bicararindu karena kangen kalian bikin nangis haru. Kangeeenn :') RT @SutiaTia: Malam ini timeline jadi ramai gegara wanita ini --> @IamOrestilla
@IamOrestilla Bagi sikit bg *rampas* RT @stwjy: memulai #bicararindu saat masih duduk di pendidikan dulu mungkin tak pernah habis. tapi, bisa dimulai sekarang. *ngunyah martabak*
@IamOrestilla #bicararindu itu bikin rindu makin menggebu bukan man teman? Saya ga mau rindu2an sendiri. Makanya ngumpulin massa :p
@IamOrestilla #bicararindu malam ini kira2 ada yg bisa jujur berapa kali ngadep "keluar kontingen" dulu waktu dikampus? Ehm.
@IamOrestilla Haaaiii *kecup* *batalbobok* Lanjuuutt..tarik yg laiinn :)RT @SutiaTia: @PrincezzAmalia @IamOrestilla satu emak lagi mau ikutan La. #bicararindu
 @stwjy: #bicararindu bersama @diditwahyudin sering kabur dari ksatriaan karena ikut workshop dan lomba fotografi di bandung :))
@IamOrestilla #bicararindu harusny msuk rekor MURI lg dong kita ya. Rinduny dr sabang ampe merauke, melibatkn ribuan org&beberapa keping hati. Eciyee..
@IamOrestilla Lagi. *pengakuan* RT @stwjy: #bicararindu kalo puasa sahurnya di warung kecil depan ksatriaan. pergi sebelum sholat subuh, pulangnya 2 hari kemudian.
@stwjy #bicararindu ikan teri sambel kacang (ikan teri main bola) kiriman ibu merupakan makanan terbaik dan paling ditunggu. :D
@SutiaTia @IamOrestilla cukup! Jangan ingatkan aku tentang ini! Ketawa sendiri kalo ingat. LUCUK :D #bicararindu
@SutiaTia @IamOrestilla teman2 petak, teman2 wira, teman2 barak, semua-semuanya. Titik. #bicararindu :D *kumatngototnya
@SutiaTia #bicararindu jg ttg dinginnya lembah Manglayang yg menyatukan kita dlm satu ikatan brnama persaudaraan *galautanggaputusasa @IamOrestilla
 
LPJ 2008 #bicararindu

Wisuda 2009 #bicararindu

Pengukuhan Pamong Praja Muda. #bicararindu

Kamis, Agustus 1

Kegalauan massal terbesar 18 Sumbar

Diposting oleh Orestilla di 08.33.00 0 komentar


Ada satu dua tiga empat langkah-langkah kecil ikut menyeruak dalam kegembiraan suka cita dan obrolan tak berpenghujung malam itu. Celotehan dari mulut-mulut kecil mereka tak pelak mengundang gelak tawa. Ya. 18 Sumbar sudah banyak cukup banyak ponaan yang seharusnya tahun depan betambah lebih banyak lagi. Tanya kenapa. Karena dengan begitu pasti akan lebih banyak lagi gelak tawa yang menampar udara.

IPDN. Sekali lagi terimakasih karena telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan kental yang tak akan pernah mencair sepanas apapun mentari membakar. Yakinlah. Persaudaraan ini tak akan punah dimakan waktu. Hingga kelak keriput menaungi wajah-wajah kita yang saat ini masih tampak cantik tampan berseri. Uhuk. Maaf. Terkadang pujian untuk diri sendiri itu penting demi mekarnya kepercayaan diri. Asal jangan tumbang saja ya teman. Hahaha.

Makan malam “buko basamo” kali ini agak sedikit “kacau” karena kedatangan makhluk-makhluk mungil yang tentu saja menjadi bahan mainan om-om dan tante-tantenya yang blom merit. Hihihi. Ini dia satu lagi penyebab galau masal malam itu. Mengapa? Karena ada janji yang terikrar dari beberapa hati bahwa gelar buko basamo berikutnya harus membawa tambahan anggota keluarga besar IPDN 18 yang baru. Haha. Semoga ya teman-teman single :)

Ini Naya. Buah cintanya Arosa Apriyani “cuniang”. Naya yang super sibuk malam itu. Coba lihat tangan mungilnya yang merajalela kemana-mana. Tingkahnya yang cuek dan tak mau tau dengan keadaan sekitar malah semakin membuatnya tampak begitu menggemaskan. Naya jadi sorotan tajam mata-mata penuh harap dari teman-teman single angkatan 18. Haha. Mungkin banyak yang berpikir bagaimana jadinya bila nanti aku punya anak cantik dan lucu seperti Naya? Pasti akan sangat membahagiakan. Eeiits. Jangan ribut dulu. Pemikiran yang sama tentu juga singgah di hati dan pikiran saya.


Lelaki kecil bernama Dipha. Jagoannya Ika Septia Maulana. Dipha yang sebentar lagi berulang tahun yang kedua sangat aktif dan tidak mau diam. Korban keganasannya adalah uda Hensam dan uda Pefi. Lihat bagaimana tuan Dipha memerintahkan uda Hensam untuk menggendongnya terus-terusan, membantunya melihat berbagai ikan hias yang ada di kolam. Dan dengan senang hati uda Hensam menuruti keinginan bos kecil ini.





Ponaan terakhir yang berkesempatan datang malam itu adalah Flo. Princessnya Ressa Yolanda. Pipi “temok” ranum milik Flo adalah sumbangsih terbesar Ressa ketika pertama kali mata kita beradu pandang dengan mata bulan memikat milik Flo. Flo masih terlalu kecil untuk mengerti sedang apa dan mengapa kami berkumpul malam itu. Namun kebahagiaan tak luput dari wajah kecilnya yang selalu berhias senyum. 







Jika nanti itu datang, sebuah pinta terucap, semoga kelak kita akan selalu seperti ini. Dan tentunya tak ada ada lagi kegalauan massal besar seperti tahun ini. Haha. Always love you, IPDN 18 Sumatera Barat.

Coba liat Flo yang selalu "sadar" kamera. Lucuuuu..

Partai single yang entah kenapa, secara tidak sadar keliatan seperti sedang membentuk sebuah perkumpulan. Semoga tahun depan, kelompok ini BUBAR....!!!! Haha.

Ada yang tau apa bahan pembicaraan Pak Lurah????

My Besties :)

Harusnya yang datang lebih dan lebih dan lebih banyak lagi dari ini sodara-sodara :)

Nengokin jam gadang dulu. Ga afdol kalo ga nangkring disini. Eciyeeee..nangkringnya partai single..uhuk..uhuk..

Nah, foto-foto yang dibawah ini 100% fotonya para single 18. Karena percayalah, yang nampang disini adalah orang-orang yang bisa pulang ke rumah sesuka hati [and after that] digebukin mak bapak ampe pagi. Hahaha.




 
Tampilkan postingan dengan label IPDN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPDN. Tampilkan semua postingan

Senin, November 4

Kami si Pelayan

Diposting oleh Orestilla di 15.07.00 0 komentar


Cerita ini ada karena siang yang garang akan panasnya tiba-tiba berubah sendu karena hati saya terpapar kelu. Kelu pada pengabdian yang sudah 4 tahun ini saya jalankan. Sebagai seorang abdi negara, saya dan jutaan rekan yang lain di pelosok negeri ini berusaha memberikan yang terbaik untuk bangsa. Walau tak sedikit juga diantara kami yang mengecewakan ibu pertiwi. Entah itu masalah tilap-menilap uang negara, entah itu masalah lainnya. Saya tidak peduli lagi. Walau bagaimanapun penilaian pada hal ini tak bisa kita lakukan secara objektif, subjektif lah teman. Jika ingin menunjuk buruk, cukup pada si pelaku yang bersalah. Jangan lakukan pada kami semua. Karena masih banyak pegawai negeri di luar sana yang jujur, yang mengemban tugas sepenuh hati karena dengan gaji bulanan itu kami hidup dan menghidupi keluarga kami.


Tak jarang, airmata saya jatuh. Bersedih. Menangisi hujatan-hujatan yang seakan memang pantas dialamatkan pada kami semua. Bukankah di tempat lain juga ditemukan penjahat layaknya yang tersorot dari lembaga kami? Bahkan ada yang jauh lebih menyakitkan. Bukankah kami, anda dan kita semua ini manusia? Hamba-Nya yang pasti pernah salah dan khilaf.
Namun jauh dari kekecewaan dan kesedihan itu, saya meyakinkan hati nurani saya sendiri untuk tetap berbuat baik. Tak pelru bagi saya  segala pujian dari mulut anda. Yang saya butuhkan hanya sebentuk kepuasan dan keikhlasan dalam melayani Indonesia tercinta. Jika bagi anda, kami si pelayan ini terlalu hina, masih ada bangsa dan negara yang menganggap kami ada.

Cerita ini terlahir dari sebuah percakapan dengan salah seorang warga di tempat saya bekerja.
Warga: Saya mau ambil KTP elektronik. Bisa buk?
Saya: Bisa Pak. Boleh saya lihat KTP bapak yang lama?
Warga: Aduh. Saya nggak tau naruh dimana buk. Hilang.
Saya: Kalau begitu silahkan Bapak buatkan surat keterangan kepolisian terlebih dahulu. Nanti setelah selesai, bapak bawa kembali ke sini dan akan kami berikan KTP bapak yang baru.
Warga: Ga bisa pake SIM ya? atau surat dari RT?
Saya: Mohon maaf pak. Tidak bisa. Karena KTP yang lama akan ditarik kembali sebagai ganti  KTP baru yang diedarkan. Dan jika memang hilang, maka akan kami lampirkan nantinya surat keterangan hilang dari kepolisian.
Warga: Saya heran kenapa sistem di pemerintahan ini terlalu berbelit-belit.
Saya: Maaf pak. Kami bekerja sesuai dengan aturan dan edaran yang ada. Jika bapak berkenan, silahkan dibaca surat edaran langsung dari pusat terkait penyebaran KTP elektronik ini.
Warga: Ah sudahlah. Saya juga belum terlalu butuh dengan KTP ini. Saya kecewa karena dipersulit.

Dan selesai. Saya hanya bisa mengurut dada. Bukankah jika si bapak tidak teledor dan sembarangan menyimpan KTPnya yang lama, kejadian seperti ini tidak akan terjadi? Kami tidak pernah mempersulit jika pekerjaan kami juga tidak dipersulit. Bukankah jika si bapak dengan senang hati mau mengurus surat keterangan hilang, KTP barunya akan segera berpindahtangan? Bukankah jika dengan sedikit berlapang dada saja, saya tak perlu merasa terhina dan bersedih? Tapi itulah faktanya. Tak ada yang saya tambah dan kurangi. Saya hanya ingin kita semua bisa menilai sendiri kejadian kecil seperti ini. Saya labeli kejadian kecil, karena ada bahkan perlakuan lebih buruk ditumpangkan ke hati kami, si pelayan ini. 

Senin, September 30

Kekristenan mereka menguatkan keislamanku

Diposting oleh Orestilla di 09.34.00 0 komentar

Diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan yang merangkum seluruh putera-puteri bangsa dari seluruh penjuru nusantara adalah sebuah hadiah terindah dari Allah yang sebelumnya tak pernah mampir dalam hidupku walau hanya dalam mimpi. Ada banyak kenangan yang berhasil kami ukir disana, sebuah cerita yang mungkin saja tak akan bisa kubagi disini bila tak pernah menjajaki tempat tersebut.
Disana pula lah aku bertemu dengan ratusan bahkan ribuan orang dengan pola pikir, budaya, agama dan kebiasan hidup yang berbeda. Aku yang lahir dan tumbuh di daerah dengan kultur budaya “barat” yang hanya dengan berkata dengan intonasi cukup keras saja sudah dianggap kasar, mau tidak mau harus berbagi satu ruangan dengan teman-teman baru dari “timur” Indonesia yang mungkin saja beranggapan bahwa bicara dengan intonasi sekeras apapun bukan sebuah permasalahn besar asal tidak diniatkan untuk menyakiti perasaan orang lain.
Perbedaan itulah yang akan kuceritakan disini. Bukan untuk menghakimi suku atau agama manapun. Namun untuk menyadarkan banyak pihak di luar sana, bahwa perbedaan yang kita punya adalah sebuah harta berharga yang apabila mampu kita kelola dengan baik akan mendatangkan kebaikan bagi negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Berbagi ruangan berukuran sekitar 5 x 10 meter dengan 12 orang yang memiliki agama dan budaya yang berbeda, pada awalnya memang sangat sulit. Bagaimana tidak? Mulai dari kesulitan mengartikan bahasa daerah masing-masing, bingung dengan ritual ibadah agama teman yang lain serta banyak hal-hal kecil yang menjelma menjadi sebuah tanda tanya besar.
Aku seorang muslimah yang berasal dari Kota Solok Propinsi Sumatera Barat. Ada empat orang teman yang saat itu memeluk agama yang berbeda denganku. Mereka adalah Eriftora Kolimon dari Nusa Tenggara Timur, Eva Julita Pandjaitan yang berasal dari Kalimantan Timur walaupun ia memiliki darah batak, Mareska Karamoy dari Sulawesi Utara dan Marianti Valenti Jaya dari Papua.
Jujur, terbersit beberapa prasangka buruk ketika pertama kali kenal dengan mereka. Kekuranganku sebagai seorang manusia biasa. Sebagai seorang gadis yang tak pernah bersosialisasi di luar zona nyamanku. Sebagai seorang anak yang sedang mencari jati diri dan dihadapkan pada sebuah realita yang belum pernah kutemui di tempat kelahiranku.
Eriftora Kolimon. Pembawaannya yang pendiam dan jarang bicara, membuatku berpikir bahwa ia menarik diri dari pergaulan. Apakah ia tidak berminat untuk berteman denganku? Marianti yang selalu keras dalam menyampaikan apa yang ia pikirkan juga melahirkan sebuah pemikiran padaku waktu itu bahwa memang seperti itulah orang Papua, kasar dan tidak bersahabat. Lain halnya dengan Mareska. Mareska yang centil dan sangat tergila-gila pada warna merah jambu, membuatku sering berceletuk di dalam hati, apakah begini cara orang-orang disana mendidik anak gadisnya? Tenggelam dalam jiwa konsumerisme yang tinggi. Sedangkan untuk seorang Eva yang berdarah Batak namun sangat lembut, juga membuatku mempertanyakan kembali jiwa “ke-batak-annya”.
Namun waktu menjawab kesalahpahaman yang kuciptakan sendiri. Seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa dibalik tipikal diam dan seriusnya Erif, dia memiliki jiwa sosialisasi yang sangat tinggi. Erif tak pernah berkeberatan untuk membantuku dalam menghadapi kesulitan belajar. Marianti dengan sikapnya yang keras dan tegas juga tak pernah berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan simpati dariku, ia sangat terbuka. Mareska yang dulu bagiku sangat kekanak-kanakkan ternyata mampu menjelma menjadi seorang dewasa yang akan memberikan nasehat berharga bila aku dirundung masalah. Sedangkan Eva adalah seorang gadis Batak lembut pertama yang pernah kutemui, ia sangat baik dan tak pernah berpikir dua kali untuk membantu orang lain.
Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga bagiku adalah ketaatan mereka dalam beribadah. Aku yang terkadang lupa berdoa sebelum memulai hari seperti ditampar ketika melihat mereka dengan khusyuknya berdoa di tempat tidur masing-masing walaupun setiap harinya kami berpacu dengan waktu. Mereka juga sering mengingatkan kami ketika waktu shalat datang. Mereka juga tak segan-segan menjadi alarm setiap kali sahur di bulan suci Ramadhan. Bahkan tak jarang mereka juga ikut makan bersama kami. Mereka melakukannya dengan ketulusan dan tanpa mengharap imbalan. Kekristenan mereka menguatkan keislamanku. Aku berusaha untuk menjadi hamba Allah yang lebih taat setelah itu. Aku bangga memiliki sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Dan tulisan ini adalah dedikasi tertinggi yang mampu aku persembahkan untuk sahabat-sahabat yang sudah 4 tahun ini tak lagi bisa kutemui. Aku sangat merindukan mereka. Dan berharap semoga persahabatan lintas iman, lintas suku dan lintas budaya yang kami punya memiliki andil dalam menyatukan bangsa kita. Aamiin.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam #ProyekNulis buku #Dialog100 dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional pada tanggal 16 November 2013 mendatang.

Rabu, September 11

Surat cinta untuk 18

Diposting oleh Orestilla di 08.20.00 0 komentar


Dear 18 tercinta,

Apa kabar saudara? Semoga Tuhan dan semesta-Nya selalu menghadiahkan kebahagiaan untuk kita. Aamiin.

Jika dengan menonton tayangan Pengukuhan Pamong Praja Muda Angkatan 20 kemaren saja mampu membuncahkan rindu mendalam kita akan kesatriaan, bagaimana mungkin tanggal sakral ini akan hilang dari ingatan? 4 tahun sudah. 10,11,12 September 2009 adalah puncak seluruh perjuangan dan pengorbanan kita semua. Evolet, wisuda dan pengukuhan pamong praja muda menjadi rangkaian peristiwa mengharu biru yang tak akan pernah punah dilahap sang waktu. Ya. Lagi-lagi bicara rindu.

Masih ada yang telat apel pagi ini? Tentunya di pelosok nusantara ini, tak lagi kita temui Pak Sukoi yang hanya dengan memandangnya dari kejauhan saja sudah menciutkan ratusan nyali untuk bertindak gegabah melanggar aturan.

Masih ada yang telat makan pagi? Kemudian memilih mie rebus instan yang dimasak sederhana dengan bantuan heater hasil iuran satu petak itu? Haha. Mungkin sudah tidak lagi. Karena hampir separuh jumlah angkatan kita sudah punya “tukang masak” pribadi dirumahnya sendiri.

Masih ada yang suka curi-curi pandang di kala apel pagi gabungan? Jangan. Ingat istri dan suami dirumah dong. Haha. Ada yang masih suka telponan di tengah malam? Bahkan kuntilanak saja bisa tidur nyaman, sementara sebagian besar dari kita malah memilih untuk berbisik-bisik di bawah selimut masing-masing.  Hihi. Udah nggak lagi lah ya. Udah pada punya “alarm” pribadi juga yang tiap malam bisa ngomong langsung tanpa perantara, “Met bobok sayang. Mimpi indah.” *kecup* sudah..sudah..sudah..paragraf ini harusnya disensor pemirsa :D

Ah. Bicara rindu hanya menambah kelu. Ayo yang kemaren semangat bikin reunian. Jangan sampai 2018 besok terlewatkan begitu saja. Biar tangan bisa saling menggenggam lagi dan derai tawa meningkahi kekonyolan kita nanti.

18-ku tercinta, salam rindu dan peluk cium untuk kalian semua.
Orestilla.


Selasa, Agustus 13

#bicararindu

Diposting oleh Orestilla di 09.17.00 0 komentar
Semalam entah dengan alasan apa, tiba-tiba *kembali* rindu-serindu-rindunya dengan kampus. Dan nggak ada pilihan lain selain menarik mereka semua ke dalam kerinduan yang sama. Jadilah akhirnya kami ngobrol seru di timeline dengan hastag ampuh #bicararindu.
Ada beberapa teman yang tak punya akun tersebut, namun merasa tertarik sekali dengan apa yang kami lakukan semalam. Yang membuat saya sendiri tertawa terbahak-bahak hingga larut menjelang kelam. Dan rangkaian narasi ini khusus untuk mereka tercinta.
Ini dia petikan-petikan hangat #bicararindu kami:
@IamOrestilla Malam ini ingin bicara rindu pada kalian :)))
@IamOrestilla Pake hastag ini ya man teman #bicararindu
@IamOrestilla #bicararindu tak harus pada pacar atau kekasihmu. Krn bila harus seperti itu, aku buntu dan cerita ini akan berlalu. Bukan begitu? :))
@IamOrestilla Malam ini #bicararindu lebih pada kangen yg menggunung untuk sahabat2 tercinta di seluruh pelosok nusantara :')
@IamOrestilla Jika yg lain bs bertemu bila kangen, kita ya seperti ini..hanya bs #bicararindu di timeline :')
@IamOrestilla Karena aku di barat, kamu jauh di timur nusantara. #bicararindu bicara ttg jutaan kenangan ditempat itu, dmn lg kl bukan dkampus kita :')
@IamOrestilla #bicararindu bicara pd planning kita pada 1 agustus 2018 nanti. Jadi kah? Jadi aja ya man teman :D
@IamOrestilla Bila #bicararindu coba tarik teman 18 mana yg saat ini bikin kamu rindu? @SutiaTia @YennaAjja @AddR2T @Restra_yudha @stwjy @18aNdHieN :))
@IamOrestilla #bicararindu bicara pd kenangan yg pada akhirnya membuat kita menyatu dalam satu persaudaraan yg membatu dalam kalbu. Ia tak akan goyah :)
@IamOrestilla #bicararindu ini mereka :)) RT @YennaAjja: Hey gadis tuban, dan gadis mataram @devielinggar and @kiezamelia... How are u???
@IamOrestilla Lagi. #bicararindu RT @kiezamelia: Malem dingin tidur pake jaket begini inget jatinangor tidur pake jaket,clana pnjng masih selimutan pula
@stwjy memulai #bicararindu saat masih duduk di pendidikan dulu mungkin tak pernah habis. tapi, bisa dimulai sekarang. *ngunyah martabak*
@stwjy #bicararindu semua aktivitas yang kita lakuin sekarang pasti mengingatkan beberapa kehidupan saat masih menjalani pendidikan dulu.
@stwjy terutama tadi pagi dengan kondisi belum tidur (maklum ayah baru) udah harus mandi dan ngantor, suasana mirip saat muda praja. #bicararindu
@stwjy #bicararindu sering tertolong dan dimudahkan cuma karena hobby fotografi, begitu juga dunia kerja sekarang. hehe.
@stwjy #bicararindu bersama @diditwahyudin sering kabur dari ksatriaan karena ikut workshop dan lomba fotografi di bandung :))
@IamOrestilla Boleeehh..dimention dong mba biar afdol :)) RT @SutiaTia: @IamOrestilla mantan pacar boleh? *eeeaaaa *dikeplakIlla #bicararindu :D
@IamOrestilla NOTED! :D RT @stwjy: @IamOrestilla jangan dikira hal menyimpang, soale beliau salah satu sahabat di luar kontingen. sesama pehobi fotografi. #bicararindu
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg ingatan saat tengah malam dibangunin putra cm untuk ngejahit kancing buat pdh esok pagi :')
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg kenangan makan bareng dg makanan super duper buanyak yg sayangnya dihidangkan dg embeer cucian :/
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg lirik2 mesra putra ke putri saat papasan lari di aerobik pagi..seeerrr :)))
@IamOrestilla #bicararindu bicara ttg hukuman korsa seangkatan gara2 saya teriak di lapangan menza *pengakuan*
@IamOrestilla Wuiiss..sadiiiss..!!RT @SutiaTia: @IamOrestilla nomention La, kami sudah menempuh jalan bahagia masing-masing *tsah *dramasekalisodarasodara #bicararindu :D
@IamOrestilla *jabatanviamention* RT @Restra_yudha: Salam silaturahmi sodara2ku.. @IamOrestilla @SutiaTia @YennaAjja @AddR2T @stwjy @18aNdHieN
@IamOrestilla #bicararindu slm syg smuanya :* RT @SutiaTia: @IamOrestilla eh ini ada emak-emak ini @vinaPerdana @saripattopang @srikalsum @nodelsurya su bobo pasti mereka.
@IamOrestilla #bicararindu karena kangen kalian bikin nangis haru. Kangeeenn :') RT @SutiaTia: Malam ini timeline jadi ramai gegara wanita ini --> @IamOrestilla
@IamOrestilla Bagi sikit bg *rampas* RT @stwjy: memulai #bicararindu saat masih duduk di pendidikan dulu mungkin tak pernah habis. tapi, bisa dimulai sekarang. *ngunyah martabak*
@IamOrestilla #bicararindu itu bikin rindu makin menggebu bukan man teman? Saya ga mau rindu2an sendiri. Makanya ngumpulin massa :p
@IamOrestilla #bicararindu malam ini kira2 ada yg bisa jujur berapa kali ngadep "keluar kontingen" dulu waktu dikampus? Ehm.
@IamOrestilla Haaaiii *kecup* *batalbobok* Lanjuuutt..tarik yg laiinn :)RT @SutiaTia: @PrincezzAmalia @IamOrestilla satu emak lagi mau ikutan La. #bicararindu
 @stwjy: #bicararindu bersama @diditwahyudin sering kabur dari ksatriaan karena ikut workshop dan lomba fotografi di bandung :))
@IamOrestilla #bicararindu harusny msuk rekor MURI lg dong kita ya. Rinduny dr sabang ampe merauke, melibatkn ribuan org&beberapa keping hati. Eciyee..
@IamOrestilla Lagi. *pengakuan* RT @stwjy: #bicararindu kalo puasa sahurnya di warung kecil depan ksatriaan. pergi sebelum sholat subuh, pulangnya 2 hari kemudian.
@stwjy #bicararindu ikan teri sambel kacang (ikan teri main bola) kiriman ibu merupakan makanan terbaik dan paling ditunggu. :D
@SutiaTia @IamOrestilla cukup! Jangan ingatkan aku tentang ini! Ketawa sendiri kalo ingat. LUCUK :D #bicararindu
@SutiaTia @IamOrestilla teman2 petak, teman2 wira, teman2 barak, semua-semuanya. Titik. #bicararindu :D *kumatngototnya
@SutiaTia #bicararindu jg ttg dinginnya lembah Manglayang yg menyatukan kita dlm satu ikatan brnama persaudaraan *galautanggaputusasa @IamOrestilla
 
LPJ 2008 #bicararindu

Wisuda 2009 #bicararindu

Pengukuhan Pamong Praja Muda. #bicararindu

Kamis, Agustus 1

Kegalauan massal terbesar 18 Sumbar

Diposting oleh Orestilla di 08.33.00 0 komentar


Ada satu dua tiga empat langkah-langkah kecil ikut menyeruak dalam kegembiraan suka cita dan obrolan tak berpenghujung malam itu. Celotehan dari mulut-mulut kecil mereka tak pelak mengundang gelak tawa. Ya. 18 Sumbar sudah banyak cukup banyak ponaan yang seharusnya tahun depan betambah lebih banyak lagi. Tanya kenapa. Karena dengan begitu pasti akan lebih banyak lagi gelak tawa yang menampar udara.

IPDN. Sekali lagi terimakasih karena telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan kental yang tak akan pernah mencair sepanas apapun mentari membakar. Yakinlah. Persaudaraan ini tak akan punah dimakan waktu. Hingga kelak keriput menaungi wajah-wajah kita yang saat ini masih tampak cantik tampan berseri. Uhuk. Maaf. Terkadang pujian untuk diri sendiri itu penting demi mekarnya kepercayaan diri. Asal jangan tumbang saja ya teman. Hahaha.

Makan malam “buko basamo” kali ini agak sedikit “kacau” karena kedatangan makhluk-makhluk mungil yang tentu saja menjadi bahan mainan om-om dan tante-tantenya yang blom merit. Hihihi. Ini dia satu lagi penyebab galau masal malam itu. Mengapa? Karena ada janji yang terikrar dari beberapa hati bahwa gelar buko basamo berikutnya harus membawa tambahan anggota keluarga besar IPDN 18 yang baru. Haha. Semoga ya teman-teman single :)

Ini Naya. Buah cintanya Arosa Apriyani “cuniang”. Naya yang super sibuk malam itu. Coba lihat tangan mungilnya yang merajalela kemana-mana. Tingkahnya yang cuek dan tak mau tau dengan keadaan sekitar malah semakin membuatnya tampak begitu menggemaskan. Naya jadi sorotan tajam mata-mata penuh harap dari teman-teman single angkatan 18. Haha. Mungkin banyak yang berpikir bagaimana jadinya bila nanti aku punya anak cantik dan lucu seperti Naya? Pasti akan sangat membahagiakan. Eeiits. Jangan ribut dulu. Pemikiran yang sama tentu juga singgah di hati dan pikiran saya.


Lelaki kecil bernama Dipha. Jagoannya Ika Septia Maulana. Dipha yang sebentar lagi berulang tahun yang kedua sangat aktif dan tidak mau diam. Korban keganasannya adalah uda Hensam dan uda Pefi. Lihat bagaimana tuan Dipha memerintahkan uda Hensam untuk menggendongnya terus-terusan, membantunya melihat berbagai ikan hias yang ada di kolam. Dan dengan senang hati uda Hensam menuruti keinginan bos kecil ini.





Ponaan terakhir yang berkesempatan datang malam itu adalah Flo. Princessnya Ressa Yolanda. Pipi “temok” ranum milik Flo adalah sumbangsih terbesar Ressa ketika pertama kali mata kita beradu pandang dengan mata bulan memikat milik Flo. Flo masih terlalu kecil untuk mengerti sedang apa dan mengapa kami berkumpul malam itu. Namun kebahagiaan tak luput dari wajah kecilnya yang selalu berhias senyum. 







Jika nanti itu datang, sebuah pinta terucap, semoga kelak kita akan selalu seperti ini. Dan tentunya tak ada ada lagi kegalauan massal besar seperti tahun ini. Haha. Always love you, IPDN 18 Sumatera Barat.

Coba liat Flo yang selalu "sadar" kamera. Lucuuuu..

Partai single yang entah kenapa, secara tidak sadar keliatan seperti sedang membentuk sebuah perkumpulan. Semoga tahun depan, kelompok ini BUBAR....!!!! Haha.

Ada yang tau apa bahan pembicaraan Pak Lurah????

My Besties :)

Harusnya yang datang lebih dan lebih dan lebih banyak lagi dari ini sodara-sodara :)

Nengokin jam gadang dulu. Ga afdol kalo ga nangkring disini. Eciyeeee..nangkringnya partai single..uhuk..uhuk..

Nah, foto-foto yang dibawah ini 100% fotonya para single 18. Karena percayalah, yang nampang disini adalah orang-orang yang bisa pulang ke rumah sesuka hati [and after that] digebukin mak bapak ampe pagi. Hahaha.




 
 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea