Senin, Agustus 12

Eid Mubarak di Rumah Kami

Diposting oleh Orestilla di 15.20.00 0 komentar


Ramadhan tahun ini usai, pun begitu halnya dengan hari kemenangan kita, Idul Fitri. Walau begitu, suasana Ramadhan masih terasa kentara hadirnya. Ah. Mengingatnya mendatangkan kesedihan mendalam. Dan sebuah tanda tanya besar ikut menyelinap, masihkah Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia ini lagi? Wallahualam.
Sama seperti tahun-tahun yang telah berlalu, Idul Fitri kali ini pun kembali saya habiskan bersama keluarga tercinta. Bahagia sekali rasanya. Di malam takbiran kemaren, ada doa yang terpanjatkan, doa yang dulu hanya tersampaikan dalam diam, atau dengan senyum simpul malu-malu kucing tak jelas. Ya. Semoga di Ramadhan mendatang, formasi keluarga besar kami akan bertambah lengkap dengan kehadiran..uhuk..uhuk..sekian dan terima kasih.
Voilaaaa..ini dia suasana lebaran di rumah kami tercinta :)
Ini mejeng dirumahnya Pak Dang Batusangkar. Dimana-mana foto. Itulah kami. Haha. Dan tentu saja, setelah sesi ini, kami betiga kena semprot emak :D

Mejeng lagi depan rumah Pak Dang. Kebetulan view nya keren karena pedesaan gitu kan. Tapi ya itulah, yang motret malah lebih tertarik ke facenya kami. So, inilah hasilnya.

My bestie. Adik, sahabat dan terkadang musuh. Love you Ucing.

Jangan tanya lagi kenapa dalam potret ini ga ada bang Aris. Karena memang susah sekali membuatnya tertarik untuk difoto. Bang Aris selalu dengan sukarela mau menjadi pemotret untuk kami semua.

Papa endut kami pun hobi befoto loooohhh..

Ucing: entah kenapa di foto ini kita macam kebo dengan berat jutaan pon. Hahaha.

Voilaaa..ini dia yang selalu ditunggu-tunggu. Setelah sekian tahun lamanya (agak berle) akhirnya bang Aris mau nampang bersama. Cihuuuyyy..

MY GIRLS. and i love them so much. Ever after :)

Kamis, Agustus 1

Kegalauan massal terbesar 18 Sumbar

Diposting oleh Orestilla di 08.33.00 0 komentar


Ada satu dua tiga empat langkah-langkah kecil ikut menyeruak dalam kegembiraan suka cita dan obrolan tak berpenghujung malam itu. Celotehan dari mulut-mulut kecil mereka tak pelak mengundang gelak tawa. Ya. 18 Sumbar sudah banyak cukup banyak ponaan yang seharusnya tahun depan betambah lebih banyak lagi. Tanya kenapa. Karena dengan begitu pasti akan lebih banyak lagi gelak tawa yang menampar udara.

IPDN. Sekali lagi terimakasih karena telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan kental yang tak akan pernah mencair sepanas apapun mentari membakar. Yakinlah. Persaudaraan ini tak akan punah dimakan waktu. Hingga kelak keriput menaungi wajah-wajah kita yang saat ini masih tampak cantik tampan berseri. Uhuk. Maaf. Terkadang pujian untuk diri sendiri itu penting demi mekarnya kepercayaan diri. Asal jangan tumbang saja ya teman. Hahaha.

Makan malam “buko basamo” kali ini agak sedikit “kacau” karena kedatangan makhluk-makhluk mungil yang tentu saja menjadi bahan mainan om-om dan tante-tantenya yang blom merit. Hihihi. Ini dia satu lagi penyebab galau masal malam itu. Mengapa? Karena ada janji yang terikrar dari beberapa hati bahwa gelar buko basamo berikutnya harus membawa tambahan anggota keluarga besar IPDN 18 yang baru. Haha. Semoga ya teman-teman single :)

Ini Naya. Buah cintanya Arosa Apriyani “cuniang”. Naya yang super sibuk malam itu. Coba lihat tangan mungilnya yang merajalela kemana-mana. Tingkahnya yang cuek dan tak mau tau dengan keadaan sekitar malah semakin membuatnya tampak begitu menggemaskan. Naya jadi sorotan tajam mata-mata penuh harap dari teman-teman single angkatan 18. Haha. Mungkin banyak yang berpikir bagaimana jadinya bila nanti aku punya anak cantik dan lucu seperti Naya? Pasti akan sangat membahagiakan. Eeiits. Jangan ribut dulu. Pemikiran yang sama tentu juga singgah di hati dan pikiran saya.


Lelaki kecil bernama Dipha. Jagoannya Ika Septia Maulana. Dipha yang sebentar lagi berulang tahun yang kedua sangat aktif dan tidak mau diam. Korban keganasannya adalah uda Hensam dan uda Pefi. Lihat bagaimana tuan Dipha memerintahkan uda Hensam untuk menggendongnya terus-terusan, membantunya melihat berbagai ikan hias yang ada di kolam. Dan dengan senang hati uda Hensam menuruti keinginan bos kecil ini.





Ponaan terakhir yang berkesempatan datang malam itu adalah Flo. Princessnya Ressa Yolanda. Pipi “temok” ranum milik Flo adalah sumbangsih terbesar Ressa ketika pertama kali mata kita beradu pandang dengan mata bulan memikat milik Flo. Flo masih terlalu kecil untuk mengerti sedang apa dan mengapa kami berkumpul malam itu. Namun kebahagiaan tak luput dari wajah kecilnya yang selalu berhias senyum. 







Jika nanti itu datang, sebuah pinta terucap, semoga kelak kita akan selalu seperti ini. Dan tentunya tak ada ada lagi kegalauan massal besar seperti tahun ini. Haha. Always love you, IPDN 18 Sumatera Barat.

Coba liat Flo yang selalu "sadar" kamera. Lucuuuu..

Partai single yang entah kenapa, secara tidak sadar keliatan seperti sedang membentuk sebuah perkumpulan. Semoga tahun depan, kelompok ini BUBAR....!!!! Haha.

Ada yang tau apa bahan pembicaraan Pak Lurah????

My Besties :)

Harusnya yang datang lebih dan lebih dan lebih banyak lagi dari ini sodara-sodara :)

Nengokin jam gadang dulu. Ga afdol kalo ga nangkring disini. Eciyeeee..nangkringnya partai single..uhuk..uhuk..

Nah, foto-foto yang dibawah ini 100% fotonya para single 18. Karena percayalah, yang nampang disini adalah orang-orang yang bisa pulang ke rumah sesuka hati [and after that] digebukin mak bapak ampe pagi. Hahaha.




 

Rabu, Juli 24

10 jam FULL haha hihi

Diposting oleh Orestilla di 10.34.00 0 komentar


Kenapa 10 jam? Karena memang sepanjang itu lah kami bertujuh orang berhaha hihi..kejadiannya kemaren sore dari pukul 3 hingga 3 dini hari. Menakjubkan. Kenapa? (Ah. Lagi-lagi pertanyaannya kenapa). Karena dengan niat super tanpa planning dan pertimbangan, kami meluncur ke Kota Bukittinggi hanya untuk mencari sesuap nasi berbuka puasa. Haha. Parahnya kami lakukan ritual kaget ini di hari kerja yang saya yakin membawa imbas cukup besar pagi ini. (Entah kenapa, saya yakin banyak yang telat ngantor. Uhuk. Siapa itu kira-kira?). Eiittss..tudingannya jangan mengarah ke saya. Kenapa? (lagi). Karena pagi ini saya tetap jadi penghuni pertama kantor. Tak ada embel-embel mengantuk, apalagi terlambat (sombong).

Oke. Mari paparkan satu demi satu kejadian hari kemaren yang membuat 10 jam kami full ber ha ha ha.
Keberangkatan yang awalnya direncanakan pukul 3 sore, molor beberapa menit karena ketua umum kita ngambek-ngambek an sama mobil antiknya. Alhasil kami steling ngebut. Takutnya ada macet tanpa aba-aba. Kan nggak lucu juga kan kalo planning makan di kota sebelah, malah berakhir tragis di pinggir jalan dengan botol mineral ditangan untuk 7 perut kelaparan. Tapi berkat kesigapan sopir defenitif kami (ketua umum-red), target berhasil 100%. Baru saja hendak menikmati suasana riuh Jam Gadang, adzan berkumandang, dan kami pun makan. Apa? (makannya). Jangan bayangkan dulu sepiring nasi dengan lauk pauk Padang yang terkenal gurih seentaro dunia. Menu makan spesial kami adalah sekantong penuh gorengan, kurma, pisang kapik (penasaran dengan rasanya? Berkunjung ke Bukittinggi! Dijamin enak, halal dan anda akan berkeinginan untuk kembali), 6 gelas teh manis (kenapa 6? Karena awalnya saya berniat satu gelas berdua saja dengan yena namun takdir berkata lain, 3 dari 6 gelas itu sudah saya nikmati sebelum mereka minum. Hahahaha), dan beberapa minuman kaleng segar.

 
Setelah menunaikan shalat Maghrib di masjid terdekat, kami berencana untuk sapu jalan mencari tempat makan enak. Namun karena satu dan lain hal (demi kepentingan bersama, cukup kami ber-tujuh yang tau), jam makan malam kami molor hingga pukul 9 malam. Bisa dibayangkan bagaimana rupanya tabuhan genderang cacing-cacing kelaparan penghuni perut kami. Namun dengan kesabaran luar biasa, akhirnya kami berhasil makan enak, nikmat dan bersahaja (apa-apaan ini? Pilihan kata yang saya pilih mungkin terdengar sedikit aneh dan rancu. Amin-kan saja. Saya sedang kesulitan menemukan kata yang cocok untuk menggambarkan suasana hati kami saat itu).



Perut kenyang saja tak menjadikan kami berniat pulang tanpa membawa cerita seru untuk diperdebatkan lagi pada rapat pleno selanjutnya. Jadilah akhirnya kami mendatangi sebuah tempat karaoke untuk menyalurkan bakat-bakat alami terpendam yang selama ini cukup kami jadikan rutinitas pribadi. Yakinlah, bukannya tak mampu, tapi…(jabarkan sendiri). Hahaha. 2 jam adu suara dan ber haha hihitak jelas, kami pulang dengan rasa kantuk dan lelah mematikan. Hanya 3 orang yang mampu bertahan hingga kami sampai kembali ke kota tercinta. Dan yakinlah, saya salah satunya. Hahaha. 

 
Setelah beberapa hari yang lalu kembali dari diklat yang cukup menguras otak dan hati, liburan spektakuler tanpa planning seperti ini mampu membangkitkan lagi semangat untuk selalu berdikari. Hahaha. Semoga lain kali akan ada puluhan jam lagi yang akan kita habiskan FULL dengan ber ha ha hi hi. 

IPDN 17 18 Kota dan Kabupaten Solok, aku cinta kalian semua. Haha. Hihi.

Senin, Juli 22

A little story from me

Diposting oleh Orestilla di 10.33.00 0 komentar


Kring..Kring..Kring..
Demikian lagu yang setiap pagi kunyanyikan.
Kring..Kring..Kring..
Dan bila sedang sial, aku akan ditampar, dipukul dan diperlakukan sesuka hati.
Kring..Kring..Kring..

Perkenalkan akulah si pengingat waktu yang punya nyanyian pribadi dalam menjalankan rutinitas kehidupanku.


Bentukku bulat bundar. Berwarna coklat tua. Aku berumur 8 tahun. Di ruangan ini aku ditempatkan disudut kamar, diatas sebuah meja kecil, persis disamping tempat tidur. Dari kediamanku inilah aku mampu menonton semua pertunjukan yang berlangsung di tempat ini. Pesta semalam, gelak tawa tak berkesudahan dan terkadang tak jarang airmata membabi buta. Tak masalah apapun yang terjadi, tak peduli berapa kali pun aku dipukul dan diperlakukan secara menyedihkan, aku tetap menjalankan tugasku setiap pagi. Bernyanyi bila waktunya datang.

Kring..Kring..Kring..
Nyanyian pagiku membangunkan si pemilik kamar, Robert. Setengah mengantuk dengan mata merah ia menatapku penuh amarah. Dibantingnya tubuh ringkihku hingga tenggorokanku tercekat dan tak mampu lagi bersuara. Aku diam. Menangis di dalam hati dan mencoba untuk tetap bersabar menghadapinya yang tak pernah memperlakukan dengan baik sedari awal.

Beberapa jam setelah itu tampak ia bangun dan berjalan ke arah kamar mandinya yang bau. Sebelum mencapai pintu, ia menendang lagi tubuhku hingga aku yang memang bundar, terguling-guling karenanya. Meninggalkan sakit di bagian kepala, membuatku pusing setengah mati. Tak hanya aku, si daun pintu pun menjadi sasaran berikutnya. Tanpa belas kasihan, ia menghantamnya begitu kuat.

Kakinya melangkah lagi mendekatiku yang kini berada tepat di bawah meja kerjanya. Tapi sungguh beruntung, tubuhnya tak lagi menjamah kerapuhanku. Ia mulai berkutat dengan pekerjaannya. Entah apa yang sebenarnya ia lakukan, aku tak pernah tau. Beberapa minggu ini kuperhatikan ia tak lagi berangkat ke kampus, tak lagi berniat merapikan ruangannya, bahkan tak berminat sama sekali pada makanan. Yang mengisi perutnya hanyalah minuman keras. Puluhan botol berserakan di ruangan ini, salah satunya tergeletak disebelahku kini.

Satu dua kertas robekan berjatuhan dari meja diatasku. Sesekali tampak ia menghantamkan pukulannya ke meja itu. Kemarahannya membisukan segala yang ada disekelilingku. Dan ketika jantungku berdetak di angka 1 dini hari, ia beranjak dari kursinya. Meraih sebuah botol minuman, pisau (?) dan jaket hitam yang telah lusuh. Ia banting pintu sekeras mungkin, seakan kekuatannya mampu meruntuhkan apartemen ini. Kertas robekan terakhir yang jatuh persis didepanku, membuatku terperanjat. Sebuah kalimat terhampar disana, “I'll gonna kill you!”.

Senin, Agustus 12

Eid Mubarak di Rumah Kami

Diposting oleh Orestilla di 15.20.00 0 komentar


Ramadhan tahun ini usai, pun begitu halnya dengan hari kemenangan kita, Idul Fitri. Walau begitu, suasana Ramadhan masih terasa kentara hadirnya. Ah. Mengingatnya mendatangkan kesedihan mendalam. Dan sebuah tanda tanya besar ikut menyelinap, masihkah Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia ini lagi? Wallahualam.
Sama seperti tahun-tahun yang telah berlalu, Idul Fitri kali ini pun kembali saya habiskan bersama keluarga tercinta. Bahagia sekali rasanya. Di malam takbiran kemaren, ada doa yang terpanjatkan, doa yang dulu hanya tersampaikan dalam diam, atau dengan senyum simpul malu-malu kucing tak jelas. Ya. Semoga di Ramadhan mendatang, formasi keluarga besar kami akan bertambah lengkap dengan kehadiran..uhuk..uhuk..sekian dan terima kasih.
Voilaaaa..ini dia suasana lebaran di rumah kami tercinta :)
Ini mejeng dirumahnya Pak Dang Batusangkar. Dimana-mana foto. Itulah kami. Haha. Dan tentu saja, setelah sesi ini, kami betiga kena semprot emak :D

Mejeng lagi depan rumah Pak Dang. Kebetulan view nya keren karena pedesaan gitu kan. Tapi ya itulah, yang motret malah lebih tertarik ke facenya kami. So, inilah hasilnya.

My bestie. Adik, sahabat dan terkadang musuh. Love you Ucing.

Jangan tanya lagi kenapa dalam potret ini ga ada bang Aris. Karena memang susah sekali membuatnya tertarik untuk difoto. Bang Aris selalu dengan sukarela mau menjadi pemotret untuk kami semua.

Papa endut kami pun hobi befoto loooohhh..

Ucing: entah kenapa di foto ini kita macam kebo dengan berat jutaan pon. Hahaha.

Voilaaa..ini dia yang selalu ditunggu-tunggu. Setelah sekian tahun lamanya (agak berle) akhirnya bang Aris mau nampang bersama. Cihuuuyyy..

MY GIRLS. and i love them so much. Ever after :)

Kamis, Agustus 1

Kegalauan massal terbesar 18 Sumbar

Diposting oleh Orestilla di 08.33.00 0 komentar


Ada satu dua tiga empat langkah-langkah kecil ikut menyeruak dalam kegembiraan suka cita dan obrolan tak berpenghujung malam itu. Celotehan dari mulut-mulut kecil mereka tak pelak mengundang gelak tawa. Ya. 18 Sumbar sudah banyak cukup banyak ponaan yang seharusnya tahun depan betambah lebih banyak lagi. Tanya kenapa. Karena dengan begitu pasti akan lebih banyak lagi gelak tawa yang menampar udara.

IPDN. Sekali lagi terimakasih karena telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan kental yang tak akan pernah mencair sepanas apapun mentari membakar. Yakinlah. Persaudaraan ini tak akan punah dimakan waktu. Hingga kelak keriput menaungi wajah-wajah kita yang saat ini masih tampak cantik tampan berseri. Uhuk. Maaf. Terkadang pujian untuk diri sendiri itu penting demi mekarnya kepercayaan diri. Asal jangan tumbang saja ya teman. Hahaha.

Makan malam “buko basamo” kali ini agak sedikit “kacau” karena kedatangan makhluk-makhluk mungil yang tentu saja menjadi bahan mainan om-om dan tante-tantenya yang blom merit. Hihihi. Ini dia satu lagi penyebab galau masal malam itu. Mengapa? Karena ada janji yang terikrar dari beberapa hati bahwa gelar buko basamo berikutnya harus membawa tambahan anggota keluarga besar IPDN 18 yang baru. Haha. Semoga ya teman-teman single :)

Ini Naya. Buah cintanya Arosa Apriyani “cuniang”. Naya yang super sibuk malam itu. Coba lihat tangan mungilnya yang merajalela kemana-mana. Tingkahnya yang cuek dan tak mau tau dengan keadaan sekitar malah semakin membuatnya tampak begitu menggemaskan. Naya jadi sorotan tajam mata-mata penuh harap dari teman-teman single angkatan 18. Haha. Mungkin banyak yang berpikir bagaimana jadinya bila nanti aku punya anak cantik dan lucu seperti Naya? Pasti akan sangat membahagiakan. Eeiits. Jangan ribut dulu. Pemikiran yang sama tentu juga singgah di hati dan pikiran saya.


Lelaki kecil bernama Dipha. Jagoannya Ika Septia Maulana. Dipha yang sebentar lagi berulang tahun yang kedua sangat aktif dan tidak mau diam. Korban keganasannya adalah uda Hensam dan uda Pefi. Lihat bagaimana tuan Dipha memerintahkan uda Hensam untuk menggendongnya terus-terusan, membantunya melihat berbagai ikan hias yang ada di kolam. Dan dengan senang hati uda Hensam menuruti keinginan bos kecil ini.





Ponaan terakhir yang berkesempatan datang malam itu adalah Flo. Princessnya Ressa Yolanda. Pipi “temok” ranum milik Flo adalah sumbangsih terbesar Ressa ketika pertama kali mata kita beradu pandang dengan mata bulan memikat milik Flo. Flo masih terlalu kecil untuk mengerti sedang apa dan mengapa kami berkumpul malam itu. Namun kebahagiaan tak luput dari wajah kecilnya yang selalu berhias senyum. 







Jika nanti itu datang, sebuah pinta terucap, semoga kelak kita akan selalu seperti ini. Dan tentunya tak ada ada lagi kegalauan massal besar seperti tahun ini. Haha. Always love you, IPDN 18 Sumatera Barat.

Coba liat Flo yang selalu "sadar" kamera. Lucuuuu..

Partai single yang entah kenapa, secara tidak sadar keliatan seperti sedang membentuk sebuah perkumpulan. Semoga tahun depan, kelompok ini BUBAR....!!!! Haha.

Ada yang tau apa bahan pembicaraan Pak Lurah????

My Besties :)

Harusnya yang datang lebih dan lebih dan lebih banyak lagi dari ini sodara-sodara :)

Nengokin jam gadang dulu. Ga afdol kalo ga nangkring disini. Eciyeeee..nangkringnya partai single..uhuk..uhuk..

Nah, foto-foto yang dibawah ini 100% fotonya para single 18. Karena percayalah, yang nampang disini adalah orang-orang yang bisa pulang ke rumah sesuka hati [and after that] digebukin mak bapak ampe pagi. Hahaha.




 

Rabu, Juli 24

10 jam FULL haha hihi

Diposting oleh Orestilla di 10.34.00 0 komentar


Kenapa 10 jam? Karena memang sepanjang itu lah kami bertujuh orang berhaha hihi..kejadiannya kemaren sore dari pukul 3 hingga 3 dini hari. Menakjubkan. Kenapa? (Ah. Lagi-lagi pertanyaannya kenapa). Karena dengan niat super tanpa planning dan pertimbangan, kami meluncur ke Kota Bukittinggi hanya untuk mencari sesuap nasi berbuka puasa. Haha. Parahnya kami lakukan ritual kaget ini di hari kerja yang saya yakin membawa imbas cukup besar pagi ini. (Entah kenapa, saya yakin banyak yang telat ngantor. Uhuk. Siapa itu kira-kira?). Eiittss..tudingannya jangan mengarah ke saya. Kenapa? (lagi). Karena pagi ini saya tetap jadi penghuni pertama kantor. Tak ada embel-embel mengantuk, apalagi terlambat (sombong).

Oke. Mari paparkan satu demi satu kejadian hari kemaren yang membuat 10 jam kami full ber ha ha ha.
Keberangkatan yang awalnya direncanakan pukul 3 sore, molor beberapa menit karena ketua umum kita ngambek-ngambek an sama mobil antiknya. Alhasil kami steling ngebut. Takutnya ada macet tanpa aba-aba. Kan nggak lucu juga kan kalo planning makan di kota sebelah, malah berakhir tragis di pinggir jalan dengan botol mineral ditangan untuk 7 perut kelaparan. Tapi berkat kesigapan sopir defenitif kami (ketua umum-red), target berhasil 100%. Baru saja hendak menikmati suasana riuh Jam Gadang, adzan berkumandang, dan kami pun makan. Apa? (makannya). Jangan bayangkan dulu sepiring nasi dengan lauk pauk Padang yang terkenal gurih seentaro dunia. Menu makan spesial kami adalah sekantong penuh gorengan, kurma, pisang kapik (penasaran dengan rasanya? Berkunjung ke Bukittinggi! Dijamin enak, halal dan anda akan berkeinginan untuk kembali), 6 gelas teh manis (kenapa 6? Karena awalnya saya berniat satu gelas berdua saja dengan yena namun takdir berkata lain, 3 dari 6 gelas itu sudah saya nikmati sebelum mereka minum. Hahahaha), dan beberapa minuman kaleng segar.

 
Setelah menunaikan shalat Maghrib di masjid terdekat, kami berencana untuk sapu jalan mencari tempat makan enak. Namun karena satu dan lain hal (demi kepentingan bersama, cukup kami ber-tujuh yang tau), jam makan malam kami molor hingga pukul 9 malam. Bisa dibayangkan bagaimana rupanya tabuhan genderang cacing-cacing kelaparan penghuni perut kami. Namun dengan kesabaran luar biasa, akhirnya kami berhasil makan enak, nikmat dan bersahaja (apa-apaan ini? Pilihan kata yang saya pilih mungkin terdengar sedikit aneh dan rancu. Amin-kan saja. Saya sedang kesulitan menemukan kata yang cocok untuk menggambarkan suasana hati kami saat itu).



Perut kenyang saja tak menjadikan kami berniat pulang tanpa membawa cerita seru untuk diperdebatkan lagi pada rapat pleno selanjutnya. Jadilah akhirnya kami mendatangi sebuah tempat karaoke untuk menyalurkan bakat-bakat alami terpendam yang selama ini cukup kami jadikan rutinitas pribadi. Yakinlah, bukannya tak mampu, tapi…(jabarkan sendiri). Hahaha. 2 jam adu suara dan ber haha hihitak jelas, kami pulang dengan rasa kantuk dan lelah mematikan. Hanya 3 orang yang mampu bertahan hingga kami sampai kembali ke kota tercinta. Dan yakinlah, saya salah satunya. Hahaha. 

 
Setelah beberapa hari yang lalu kembali dari diklat yang cukup menguras otak dan hati, liburan spektakuler tanpa planning seperti ini mampu membangkitkan lagi semangat untuk selalu berdikari. Hahaha. Semoga lain kali akan ada puluhan jam lagi yang akan kita habiskan FULL dengan ber ha ha hi hi. 

IPDN 17 18 Kota dan Kabupaten Solok, aku cinta kalian semua. Haha. Hihi.

Senin, Juli 22

A little story from me

Diposting oleh Orestilla di 10.33.00 0 komentar


Kring..Kring..Kring..
Demikian lagu yang setiap pagi kunyanyikan.
Kring..Kring..Kring..
Dan bila sedang sial, aku akan ditampar, dipukul dan diperlakukan sesuka hati.
Kring..Kring..Kring..

Perkenalkan akulah si pengingat waktu yang punya nyanyian pribadi dalam menjalankan rutinitas kehidupanku.


Bentukku bulat bundar. Berwarna coklat tua. Aku berumur 8 tahun. Di ruangan ini aku ditempatkan disudut kamar, diatas sebuah meja kecil, persis disamping tempat tidur. Dari kediamanku inilah aku mampu menonton semua pertunjukan yang berlangsung di tempat ini. Pesta semalam, gelak tawa tak berkesudahan dan terkadang tak jarang airmata membabi buta. Tak masalah apapun yang terjadi, tak peduli berapa kali pun aku dipukul dan diperlakukan secara menyedihkan, aku tetap menjalankan tugasku setiap pagi. Bernyanyi bila waktunya datang.

Kring..Kring..Kring..
Nyanyian pagiku membangunkan si pemilik kamar, Robert. Setengah mengantuk dengan mata merah ia menatapku penuh amarah. Dibantingnya tubuh ringkihku hingga tenggorokanku tercekat dan tak mampu lagi bersuara. Aku diam. Menangis di dalam hati dan mencoba untuk tetap bersabar menghadapinya yang tak pernah memperlakukan dengan baik sedari awal.

Beberapa jam setelah itu tampak ia bangun dan berjalan ke arah kamar mandinya yang bau. Sebelum mencapai pintu, ia menendang lagi tubuhku hingga aku yang memang bundar, terguling-guling karenanya. Meninggalkan sakit di bagian kepala, membuatku pusing setengah mati. Tak hanya aku, si daun pintu pun menjadi sasaran berikutnya. Tanpa belas kasihan, ia menghantamnya begitu kuat.

Kakinya melangkah lagi mendekatiku yang kini berada tepat di bawah meja kerjanya. Tapi sungguh beruntung, tubuhnya tak lagi menjamah kerapuhanku. Ia mulai berkutat dengan pekerjaannya. Entah apa yang sebenarnya ia lakukan, aku tak pernah tau. Beberapa minggu ini kuperhatikan ia tak lagi berangkat ke kampus, tak lagi berniat merapikan ruangannya, bahkan tak berminat sama sekali pada makanan. Yang mengisi perutnya hanyalah minuman keras. Puluhan botol berserakan di ruangan ini, salah satunya tergeletak disebelahku kini.

Satu dua kertas robekan berjatuhan dari meja diatasku. Sesekali tampak ia menghantamkan pukulannya ke meja itu. Kemarahannya membisukan segala yang ada disekelilingku. Dan ketika jantungku berdetak di angka 1 dini hari, ia beranjak dari kursinya. Meraih sebuah botol minuman, pisau (?) dan jaket hitam yang telah lusuh. Ia banting pintu sekeras mungkin, seakan kekuatannya mampu meruntuhkan apartemen ini. Kertas robekan terakhir yang jatuh persis didepanku, membuatku terperanjat. Sebuah kalimat terhampar disana, “I'll gonna kill you!”.
 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea