Senin, November 4

Kami si Pelayan

Diposting oleh Orestilla di 15.07.00 0 komentar


Cerita ini ada karena siang yang garang akan panasnya tiba-tiba berubah sendu karena hati saya terpapar kelu. Kelu pada pengabdian yang sudah 4 tahun ini saya jalankan. Sebagai seorang abdi negara, saya dan jutaan rekan yang lain di pelosok negeri ini berusaha memberikan yang terbaik untuk bangsa. Walau tak sedikit juga diantara kami yang mengecewakan ibu pertiwi. Entah itu masalah tilap-menilap uang negara, entah itu masalah lainnya. Saya tidak peduli lagi. Walau bagaimanapun penilaian pada hal ini tak bisa kita lakukan secara objektif, subjektif lah teman. Jika ingin menunjuk buruk, cukup pada si pelaku yang bersalah. Jangan lakukan pada kami semua. Karena masih banyak pegawai negeri di luar sana yang jujur, yang mengemban tugas sepenuh hati karena dengan gaji bulanan itu kami hidup dan menghidupi keluarga kami.


Tak jarang, airmata saya jatuh. Bersedih. Menangisi hujatan-hujatan yang seakan memang pantas dialamatkan pada kami semua. Bukankah di tempat lain juga ditemukan penjahat layaknya yang tersorot dari lembaga kami? Bahkan ada yang jauh lebih menyakitkan. Bukankah kami, anda dan kita semua ini manusia? Hamba-Nya yang pasti pernah salah dan khilaf.
Namun jauh dari kekecewaan dan kesedihan itu, saya meyakinkan hati nurani saya sendiri untuk tetap berbuat baik. Tak pelru bagi saya  segala pujian dari mulut anda. Yang saya butuhkan hanya sebentuk kepuasan dan keikhlasan dalam melayani Indonesia tercinta. Jika bagi anda, kami si pelayan ini terlalu hina, masih ada bangsa dan negara yang menganggap kami ada.

Cerita ini terlahir dari sebuah percakapan dengan salah seorang warga di tempat saya bekerja.
Warga: Saya mau ambil KTP elektronik. Bisa buk?
Saya: Bisa Pak. Boleh saya lihat KTP bapak yang lama?
Warga: Aduh. Saya nggak tau naruh dimana buk. Hilang.
Saya: Kalau begitu silahkan Bapak buatkan surat keterangan kepolisian terlebih dahulu. Nanti setelah selesai, bapak bawa kembali ke sini dan akan kami berikan KTP bapak yang baru.
Warga: Ga bisa pake SIM ya? atau surat dari RT?
Saya: Mohon maaf pak. Tidak bisa. Karena KTP yang lama akan ditarik kembali sebagai ganti  KTP baru yang diedarkan. Dan jika memang hilang, maka akan kami lampirkan nantinya surat keterangan hilang dari kepolisian.
Warga: Saya heran kenapa sistem di pemerintahan ini terlalu berbelit-belit.
Saya: Maaf pak. Kami bekerja sesuai dengan aturan dan edaran yang ada. Jika bapak berkenan, silahkan dibaca surat edaran langsung dari pusat terkait penyebaran KTP elektronik ini.
Warga: Ah sudahlah. Saya juga belum terlalu butuh dengan KTP ini. Saya kecewa karena dipersulit.

Dan selesai. Saya hanya bisa mengurut dada. Bukankah jika si bapak tidak teledor dan sembarangan menyimpan KTPnya yang lama, kejadian seperti ini tidak akan terjadi? Kami tidak pernah mempersulit jika pekerjaan kami juga tidak dipersulit. Bukankah jika si bapak dengan senang hati mau mengurus surat keterangan hilang, KTP barunya akan segera berpindahtangan? Bukankah jika dengan sedikit berlapang dada saja, saya tak perlu merasa terhina dan bersedih? Tapi itulah faktanya. Tak ada yang saya tambah dan kurangi. Saya hanya ingin kita semua bisa menilai sendiri kejadian kecil seperti ini. Saya labeli kejadian kecil, karena ada bahkan perlakuan lebih buruk ditumpangkan ke hati kami, si pelayan ini. 

#OrigamiHati

Diposting oleh Orestilla di 09.37.00 0 komentar


Penulis muda yang baru saja menyemarakkan dunia baca nasional ini menampilkan konflik cinta, persahabatan dan warna-warni kehidupan remaja yang diramu dengan sangat luar biasa di dalam novel bercover merah dengan sebuah botol kaca berisi kertas origami yang telah disulap menjadi hati.


Iya. Boy Candra. Lelaki muda kelahiran Padang ini membuktikan pada banyak orang bahwasanya Minangkabau, masih sama seperti dulu. Dalam hal apa? Dalam melahirkan penulis-penulis berbakat. Salah satunya Boy. Dan semoga saja kelak akan muncul penulis muda lainnya. Kita tunggu saja.
Origami hati sendiri bercerita tentang Aruna, yang sedari awal membuka halaman novel ini sudah mengalami yang namanya patah hati. Siapa sih yang nggak pernah hancur remuk redam karena cinta?
Kenapa?
Kamu belum?
Belom pernah pacaran sih. Haha. Atau cinta dan pacar pertama yang langsung berakhir di KUA? Selamat. Kamu berarti nggak punya kisah cinta seru, seseru kisahnya Aruna. Oke kembali ke keyboard.
Jadi ceritanya si Aruna ini dikhianati oleh pacar yang sudah 3 tahun terakhir menemani hari-harinya. Bisa dibayangkan betapa galaunya Aruna. Ya. Walaupun Aruna kalah banyak tahunnya dibandingkan 7 tahun yang pernah saya jalani. Eiittss. Jangan coba-coba curhat di laman ini. Maap maap. Kembalikan ke keyboard lagi.
Pengkhianatan Haga (pacarnya Aruna) mendatangkan kesedihan luar biasa yang membuat Aruna benar-benar kehilangan sandaran. Namun logikanya memenangkan pertarungan dengan rasa yang ia miliki. Aruna memutuskan untuk menjauhi Haga dan memberikannya kebebasan untuk dekat dengan perempuan yang ia pilih. Sakit pasti. Ditengah kegalauan itulah Aruna bertemu dengan Bagas. Berawal dari pertemuan yang tak mereka sengaja, namun telah direkayasa dengan sangat apik oleh Tuhan, Aruna dan Bagas semakin dekat dari hari ke hari. Memiliki cerita masing-masing dari masa lalu mereka, tak membuat Aruna dan Bagas menampik cinta yang mulai tumbuh. Aruna dengan pengkhianatan Haga dan Bagas dengan kepergian Anila. Anila, perempuan baik hati yang mencengkram hati Bagas bahkan setelah bertahun-tahun kepergiannya ke kehidupan abadi, menghadap Illahi Rabbi.
Sementara dalam kehidupan Bagas sendiri diperkenalkan Putri. Rekan satu organisasi yang telah jatuh cinta padanya sedari dulu. Jauh sebelum Aruna mengenal Bagas. Jauh sebelum Bagas menjalin hubungan spesial dengan Anila. Putri yang tak pernah memiliki kekuatan untuk mengungkapkan perasaannya hanya bisa menunggu untuk kemudian ikhlas dan rela mendapati Bagas mulai mendekati Aruna setelah kematian Anila. Baginya mungkin cinta sejati itu tak harus memiliki.
Haga kembali hadir ketika Aruna telah berusaha meyakinkan hatinya untuk menerima Bagas, untuk selamanya. Haga yang menyesal dengan keputusan bodohnya menginginkan Aruna kembali padanya. Aruna pun dilanda kegalauan yang lebih pelik dibandingkan sebelumnya. Ditengah kebingungan dan dilema tersebut, akankah Aruna memilih Haga yang sudah bertahun-tahun ia cintai? atau bertahan dengan Bagas? Lelaki yang awalnya ia anggap aneh, namun mampu mendatangkan kehangatan cinta untuknya.
Penasaran?
Baca (beli) dong novelnya. Penuturan Boy yang ringan terasa sangat membantu saya menemukan kembali kesegaran dalam menikmati narasi ketika otak saya terbebani novel beratnya William Dalrymple yang White Mughal itu. Konflik cinta Aruna dan Putri tentu saja banyak dialami oleh perempuan-perempuan cantik negeri ini. Termasuk saya (Kisahnya ya, bukan cantiknya. Hoho. Saya klarifikasi dulu sebelum manteman komplain). Boy lewat penokohon Bagas mengajarkan kita bahwa mencintai tak perlu meminta seseorang melupakan masa lalunya. Tarian narasi-nya Boy Candra cocok banget buat yang lagi galau, yang susah move on, yang lagi jatuh cinta, semuanya deh.
Dan The precious sentence dari novel ini adalaaaaahhh..eng ing eng. Cekidot..
Hidup ini pilihan. Jika kamu tak memperhitungkannya, kamu akan kalah [page 25 of 214]
Kadang mencintai bukan hanya sekedar bersama tapi juga tentang kesiapan untuk sebuah perpisahan. Sebuah perpindahan [page 31 of 214]
Tuhan tak pernah membiarkan kesendirian membunuh hamba-Nya [page 32 of 214]
Kenangan tak perlu kamu hilangkan, karena ia akan selalu pulang bersama ingatan [page 36 of 214]
Dia telah memeluk wanita lain, lalu kenapa kamu membuang airmata untuk pelukan mereka? [page 49 of 214]
Karena tak ada ingatan yang bisa dihapus kecuali disembunyikan di sudut hati. Di ruang gelap pikiran [page 61 og 214]
Kadang kita harus mencoba menikmati hal lain. Agar kita tahu, jika kebahagiaan tidak hanya ada pada satu titik [page 81 of 214]
Karena sesungguhnya luka, sembuh dan utuh adalah wewenang waktu. Biarlah ia bekerja untuk hatimu [page 189 of 214]
Yang mau kenal lebih dekat dengan penulis super ramah dan baik hati ini bisa stalking twitternya di @dsuperboy. Selamat membacaaaaaa.
Salam!

I.N.F.E.R.N.O [NERAKA]

Diposting oleh Orestilla di 09.05.00 0 komentar


“Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral”


Setelah The Davinci Code, Angels and Demonds, The Lost Symbol dan Deception Point, Dan Brown kembali menyuguhkan kisah luar biasa lewat Inferno [neraka].
Seperti yang tertulis di halaman 93, “satu karya besar yang terinspirasi oleh karya seni besar lain”, kita dapat melihat bahwasanya Inferno-nya Dan Brown merupakan buah karya yang lahir dari lukisan hebat “La Mappa dell’Inferno atau Mapp of Hell (Peta Neraka)” seorang tokoh besar sejati Renaisans Italia, Sandro Botticelli. Botticelli sendiri juga terkenal dengan lukisan Primavera atau Birth of Venus-nya. Sedangkan dalam menyelesaikan lukisan tersebut, Botticelli terinspirasi dari karya besar Dante Alighieri (penulis dan filosof Florence yang hidup dari tahun 1265 sampai 1321) yaitu Inferno yang diagungkan sebagai salah satu karya terkemuka dalam sastra dunia. Inferno merupakan bagian pertama dari tiga buku yang menyusun The Divine Comedy (Inferno, Purgatorio dan Paradiso). Dari latar belakang dituliskannya novel ini saja, kita sudah mampu menafsirkan sebanyak apa ilmu pengetahuan yang akan kita rengkuh begitu 642 halamannya selesai kita baca.
Cerita berawal ketika Robert Langdon terbangun dan mendapati dirinya berada Florence, Italia. Satu hal yang membuatnya bingung adalah ingatan terakhirnya yang masih berada di Harvard University. Sekali lagi, alasan ia muncul di tempat yang tak semestinya akhirnya membawa kita pada perjalanan menegangkan Langdon dalam memecahkan sebuah teka-teki seorang ilmuwan yang menilai bahwasanya overpopulasi akan menjadi penyebab utama musnahnya manusia di muka bumi. [Ide yang sangat brilian dari seorang Brown, mengingat bahwa saat ini topik populasi dan segala akibat yang ditimbulkannya menjadi pembahasan yang seakan tak pernah mencapai akhir]. Dalam novel ini juga diceritakan sepintas lalu mengenai Black Death (kematian hitam) yang menyapu daratan Eropa pada tahun 1300-an dan membunuh sepertiga populasi di beberapa daerah.
Kejadian tersebut mempertemukannya dengan Sienna Brooks, dokter muda cantik yang genius dengan IQ 208. Kutukan kecerdasan. Kecerdasan yang membuat Sienna merasa tidak normal diantara orang normal lainnya, semenjak ia masih kecil.
Sementara itu sebuah organisasi swasta besar “The Mendacium” yang bekerja melayani “orang-orang besar” dari segala genre, kewalahan ketika mendapati seorang klien yang mati bunuh diri dengan sebelumnya meninggalkan sebuah pesan terselubung. Pesan yang membuat pemimpin organisasi bernama Provos dan fasilitator seniornya Laurence Knowlton harus bertindak cepat dan tegas dengan mengirim tenaga-tenaga terlatih ke lapangan untuk merebut kembali apa yang diamanatkan kliennya. Amanat yang pada akhirnya melibatkan Robert Langdon. Amanat yang membuat Knowlton bergidik ngeri saat ia menonton sebuah video rekaman yang harus segera disebarluaskan ke seluruh dunia kurang dari 24 jam ke depan.
Setiap kali Dan Brown beraksi maka akan kita dapati puluhan simbol penuh arti. Dalam Inferno, Brown memperkenalkan simbol “biohazard”, ikon tiga-segi sederhana. Dijelaskan bahwa simbol ini dikembangkan oleh Dow Chemical pada tahun 1960-an. Simbol inilah yang dijadikan kunci oleh sang ilmuwan Bertrand Zobrist untuk menggiring banyak orang pada penemuan terbaiknya yang disinyalir mampu menekan laju pertumbuhan penduduk yang semakin besar. Zobrist yang merasa bahwa Who (World Health Organization) tidak pernah serius menangani masalah overpopulasi ini, meminta bantuan kepada The Mendacium untuk memberikan perlindungan penuh padanya selama menyelesaikan misi tersebut. Kesalahpahaman akhirnya membawa petaka bagi semua pihak. Langdon yang awalnya diminta untuk memecahkan beberapa simbol oleh direktur WHO Elizabeth Sinskey (yang merasa takut dengan ancaman Zobrist, takut akan wabah atau virus yang ia kembangkan untuk memusnahkan manusia) harus berhadapan dengan banyak orang yang seakan ingin menghabisi nyawanya. Setelah puas berpetualang di bumi Italia, kita akan digiring ke Istanbul. Brown yang sangat piawai menggambarkan sudut-sudut terdalam kota ke imaginasi kita, membuat rasa penasaran saya meningkat drastis.
Cerita akan semakin menakjubkan ketika kita mengetahui :
  1. lmuwan bernama adalah Bertrand Zobrist itu adalah klien The Mendacium yang mati bunuh diri setelah dengan sangat rapi mengemas sebuah virus penangkal masalah overpopulasi;
  2. Sienna Brooks adalah kekasih Bertrand Zobrist yang dengan kegeniusannya ikut mendukung pemikiran tentang pemusnahan manusia sebagai jawaban dalam menyelesaikan masalah kependudukan dunia. Sayang, tatkala melaksanakan misinya yang menghabiskan waktu hampir 1 tahun lamanya, Zobrist memutuskan untuk meninggalkan Sienna. Sehingga dalam kisah ini, Sienna sendiri tidak mengetahui wabah atau virus apa yang tengah diracik oleh kekasihnya tersebut.
  3. Langdon berada dalam drama yang telah ditata dengan sangat apik dan rapi oleh pihak WHO dan The Mendacium. Dalam kisah ini, Langdon banyak dibohongi oleh berbagai pihak;
  4. Dan Zobrist tidak sejahat yang kita pikir!
Lebih lengkapnya, mending manteman baca sendiri deh novelnya. Untuk karya Dan Brown, saya selalu menyiapkan bintang 5 (*****) yang berarti bahwa buku ini benar-benar pantas untuk direkomendasikan. Penuturun Brown yang jelas dan rinci membuat saya merasa sedang berada di tempat kejadian, melintasi Il Corridooio Vasariano, Boboli garden, Palazzo Pitti, Baptistry of San Giovanni hingga riak gelombang air laut ketika ratusan orang menaiki gondola di Venesia. Pun begitu halnya ketika dalam bab-bab terakhir Brown membawa kita ke kota Istanbul, Turki. Ribuan kata juga tidak akan mampu mengungkapkan kekaguman saya secara pribadi pada seorang Dan Brown. Imaginasinya, pengetahuannya, eksplorasinya, semuanya bersinergi untuk menghasilkan sebuah mahakarya, sekali lagi.
Salam baca!



Jumat, November 1

Mencinta dalam Diam

Diposting oleh Orestilla di 14.34.00 3 komentar


Bukan cinta jika segalanya harus diumbar ke tengah publik, diperdengarkan pada ribuan telinga atau dipertontonkan pada jutaan mata. Bukan cinta jika baitnya harus didendangkan dalam tiap irama. Bukankah cinta dalam diam juga adalah rasa? Bukankah damba dalam keterasingan tak menampik sesuatu yang suci tanpa nista? Cinta dalam diam tak berarti kemunafikan bergemilang duka, pun kebodohan karena ragu. Langit mungkin belum ingin melihat kita berjalan beriringan dibawahnya, beriringan dalam cinta. Bumi mungkin belum menyediakan tempat terindah untuk kita merajut asa bersamanya. Udara mungkin belum mau menghidupkan kita dalam hidup bahagia selamanya. Namun jika mencintamu dalam diam sudah lebih dari cukup, tak ada alasan untuk melalui hari dengan airmata. Bukankah begitu Tuan?


Senin, November 4

Kami si Pelayan

Diposting oleh Orestilla di 15.07.00 0 komentar


Cerita ini ada karena siang yang garang akan panasnya tiba-tiba berubah sendu karena hati saya terpapar kelu. Kelu pada pengabdian yang sudah 4 tahun ini saya jalankan. Sebagai seorang abdi negara, saya dan jutaan rekan yang lain di pelosok negeri ini berusaha memberikan yang terbaik untuk bangsa. Walau tak sedikit juga diantara kami yang mengecewakan ibu pertiwi. Entah itu masalah tilap-menilap uang negara, entah itu masalah lainnya. Saya tidak peduli lagi. Walau bagaimanapun penilaian pada hal ini tak bisa kita lakukan secara objektif, subjektif lah teman. Jika ingin menunjuk buruk, cukup pada si pelaku yang bersalah. Jangan lakukan pada kami semua. Karena masih banyak pegawai negeri di luar sana yang jujur, yang mengemban tugas sepenuh hati karena dengan gaji bulanan itu kami hidup dan menghidupi keluarga kami.


Tak jarang, airmata saya jatuh. Bersedih. Menangisi hujatan-hujatan yang seakan memang pantas dialamatkan pada kami semua. Bukankah di tempat lain juga ditemukan penjahat layaknya yang tersorot dari lembaga kami? Bahkan ada yang jauh lebih menyakitkan. Bukankah kami, anda dan kita semua ini manusia? Hamba-Nya yang pasti pernah salah dan khilaf.
Namun jauh dari kekecewaan dan kesedihan itu, saya meyakinkan hati nurani saya sendiri untuk tetap berbuat baik. Tak pelru bagi saya  segala pujian dari mulut anda. Yang saya butuhkan hanya sebentuk kepuasan dan keikhlasan dalam melayani Indonesia tercinta. Jika bagi anda, kami si pelayan ini terlalu hina, masih ada bangsa dan negara yang menganggap kami ada.

Cerita ini terlahir dari sebuah percakapan dengan salah seorang warga di tempat saya bekerja.
Warga: Saya mau ambil KTP elektronik. Bisa buk?
Saya: Bisa Pak. Boleh saya lihat KTP bapak yang lama?
Warga: Aduh. Saya nggak tau naruh dimana buk. Hilang.
Saya: Kalau begitu silahkan Bapak buatkan surat keterangan kepolisian terlebih dahulu. Nanti setelah selesai, bapak bawa kembali ke sini dan akan kami berikan KTP bapak yang baru.
Warga: Ga bisa pake SIM ya? atau surat dari RT?
Saya: Mohon maaf pak. Tidak bisa. Karena KTP yang lama akan ditarik kembali sebagai ganti  KTP baru yang diedarkan. Dan jika memang hilang, maka akan kami lampirkan nantinya surat keterangan hilang dari kepolisian.
Warga: Saya heran kenapa sistem di pemerintahan ini terlalu berbelit-belit.
Saya: Maaf pak. Kami bekerja sesuai dengan aturan dan edaran yang ada. Jika bapak berkenan, silahkan dibaca surat edaran langsung dari pusat terkait penyebaran KTP elektronik ini.
Warga: Ah sudahlah. Saya juga belum terlalu butuh dengan KTP ini. Saya kecewa karena dipersulit.

Dan selesai. Saya hanya bisa mengurut dada. Bukankah jika si bapak tidak teledor dan sembarangan menyimpan KTPnya yang lama, kejadian seperti ini tidak akan terjadi? Kami tidak pernah mempersulit jika pekerjaan kami juga tidak dipersulit. Bukankah jika si bapak dengan senang hati mau mengurus surat keterangan hilang, KTP barunya akan segera berpindahtangan? Bukankah jika dengan sedikit berlapang dada saja, saya tak perlu merasa terhina dan bersedih? Tapi itulah faktanya. Tak ada yang saya tambah dan kurangi. Saya hanya ingin kita semua bisa menilai sendiri kejadian kecil seperti ini. Saya labeli kejadian kecil, karena ada bahkan perlakuan lebih buruk ditumpangkan ke hati kami, si pelayan ini. 

#OrigamiHati

Diposting oleh Orestilla di 09.37.00 0 komentar


Penulis muda yang baru saja menyemarakkan dunia baca nasional ini menampilkan konflik cinta, persahabatan dan warna-warni kehidupan remaja yang diramu dengan sangat luar biasa di dalam novel bercover merah dengan sebuah botol kaca berisi kertas origami yang telah disulap menjadi hati.


Iya. Boy Candra. Lelaki muda kelahiran Padang ini membuktikan pada banyak orang bahwasanya Minangkabau, masih sama seperti dulu. Dalam hal apa? Dalam melahirkan penulis-penulis berbakat. Salah satunya Boy. Dan semoga saja kelak akan muncul penulis muda lainnya. Kita tunggu saja.
Origami hati sendiri bercerita tentang Aruna, yang sedari awal membuka halaman novel ini sudah mengalami yang namanya patah hati. Siapa sih yang nggak pernah hancur remuk redam karena cinta?
Kenapa?
Kamu belum?
Belom pernah pacaran sih. Haha. Atau cinta dan pacar pertama yang langsung berakhir di KUA? Selamat. Kamu berarti nggak punya kisah cinta seru, seseru kisahnya Aruna. Oke kembali ke keyboard.
Jadi ceritanya si Aruna ini dikhianati oleh pacar yang sudah 3 tahun terakhir menemani hari-harinya. Bisa dibayangkan betapa galaunya Aruna. Ya. Walaupun Aruna kalah banyak tahunnya dibandingkan 7 tahun yang pernah saya jalani. Eiittss. Jangan coba-coba curhat di laman ini. Maap maap. Kembalikan ke keyboard lagi.
Pengkhianatan Haga (pacarnya Aruna) mendatangkan kesedihan luar biasa yang membuat Aruna benar-benar kehilangan sandaran. Namun logikanya memenangkan pertarungan dengan rasa yang ia miliki. Aruna memutuskan untuk menjauhi Haga dan memberikannya kebebasan untuk dekat dengan perempuan yang ia pilih. Sakit pasti. Ditengah kegalauan itulah Aruna bertemu dengan Bagas. Berawal dari pertemuan yang tak mereka sengaja, namun telah direkayasa dengan sangat apik oleh Tuhan, Aruna dan Bagas semakin dekat dari hari ke hari. Memiliki cerita masing-masing dari masa lalu mereka, tak membuat Aruna dan Bagas menampik cinta yang mulai tumbuh. Aruna dengan pengkhianatan Haga dan Bagas dengan kepergian Anila. Anila, perempuan baik hati yang mencengkram hati Bagas bahkan setelah bertahun-tahun kepergiannya ke kehidupan abadi, menghadap Illahi Rabbi.
Sementara dalam kehidupan Bagas sendiri diperkenalkan Putri. Rekan satu organisasi yang telah jatuh cinta padanya sedari dulu. Jauh sebelum Aruna mengenal Bagas. Jauh sebelum Bagas menjalin hubungan spesial dengan Anila. Putri yang tak pernah memiliki kekuatan untuk mengungkapkan perasaannya hanya bisa menunggu untuk kemudian ikhlas dan rela mendapati Bagas mulai mendekati Aruna setelah kematian Anila. Baginya mungkin cinta sejati itu tak harus memiliki.
Haga kembali hadir ketika Aruna telah berusaha meyakinkan hatinya untuk menerima Bagas, untuk selamanya. Haga yang menyesal dengan keputusan bodohnya menginginkan Aruna kembali padanya. Aruna pun dilanda kegalauan yang lebih pelik dibandingkan sebelumnya. Ditengah kebingungan dan dilema tersebut, akankah Aruna memilih Haga yang sudah bertahun-tahun ia cintai? atau bertahan dengan Bagas? Lelaki yang awalnya ia anggap aneh, namun mampu mendatangkan kehangatan cinta untuknya.
Penasaran?
Baca (beli) dong novelnya. Penuturan Boy yang ringan terasa sangat membantu saya menemukan kembali kesegaran dalam menikmati narasi ketika otak saya terbebani novel beratnya William Dalrymple yang White Mughal itu. Konflik cinta Aruna dan Putri tentu saja banyak dialami oleh perempuan-perempuan cantik negeri ini. Termasuk saya (Kisahnya ya, bukan cantiknya. Hoho. Saya klarifikasi dulu sebelum manteman komplain). Boy lewat penokohon Bagas mengajarkan kita bahwa mencintai tak perlu meminta seseorang melupakan masa lalunya. Tarian narasi-nya Boy Candra cocok banget buat yang lagi galau, yang susah move on, yang lagi jatuh cinta, semuanya deh.
Dan The precious sentence dari novel ini adalaaaaahhh..eng ing eng. Cekidot..
Hidup ini pilihan. Jika kamu tak memperhitungkannya, kamu akan kalah [page 25 of 214]
Kadang mencintai bukan hanya sekedar bersama tapi juga tentang kesiapan untuk sebuah perpisahan. Sebuah perpindahan [page 31 of 214]
Tuhan tak pernah membiarkan kesendirian membunuh hamba-Nya [page 32 of 214]
Kenangan tak perlu kamu hilangkan, karena ia akan selalu pulang bersama ingatan [page 36 of 214]
Dia telah memeluk wanita lain, lalu kenapa kamu membuang airmata untuk pelukan mereka? [page 49 of 214]
Karena tak ada ingatan yang bisa dihapus kecuali disembunyikan di sudut hati. Di ruang gelap pikiran [page 61 og 214]
Kadang kita harus mencoba menikmati hal lain. Agar kita tahu, jika kebahagiaan tidak hanya ada pada satu titik [page 81 of 214]
Karena sesungguhnya luka, sembuh dan utuh adalah wewenang waktu. Biarlah ia bekerja untuk hatimu [page 189 of 214]
Yang mau kenal lebih dekat dengan penulis super ramah dan baik hati ini bisa stalking twitternya di @dsuperboy. Selamat membacaaaaaa.
Salam!

I.N.F.E.R.N.O [NERAKA]

Diposting oleh Orestilla di 09.05.00 0 komentar


“Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral”


Setelah The Davinci Code, Angels and Demonds, The Lost Symbol dan Deception Point, Dan Brown kembali menyuguhkan kisah luar biasa lewat Inferno [neraka].
Seperti yang tertulis di halaman 93, “satu karya besar yang terinspirasi oleh karya seni besar lain”, kita dapat melihat bahwasanya Inferno-nya Dan Brown merupakan buah karya yang lahir dari lukisan hebat “La Mappa dell’Inferno atau Mapp of Hell (Peta Neraka)” seorang tokoh besar sejati Renaisans Italia, Sandro Botticelli. Botticelli sendiri juga terkenal dengan lukisan Primavera atau Birth of Venus-nya. Sedangkan dalam menyelesaikan lukisan tersebut, Botticelli terinspirasi dari karya besar Dante Alighieri (penulis dan filosof Florence yang hidup dari tahun 1265 sampai 1321) yaitu Inferno yang diagungkan sebagai salah satu karya terkemuka dalam sastra dunia. Inferno merupakan bagian pertama dari tiga buku yang menyusun The Divine Comedy (Inferno, Purgatorio dan Paradiso). Dari latar belakang dituliskannya novel ini saja, kita sudah mampu menafsirkan sebanyak apa ilmu pengetahuan yang akan kita rengkuh begitu 642 halamannya selesai kita baca.
Cerita berawal ketika Robert Langdon terbangun dan mendapati dirinya berada Florence, Italia. Satu hal yang membuatnya bingung adalah ingatan terakhirnya yang masih berada di Harvard University. Sekali lagi, alasan ia muncul di tempat yang tak semestinya akhirnya membawa kita pada perjalanan menegangkan Langdon dalam memecahkan sebuah teka-teki seorang ilmuwan yang menilai bahwasanya overpopulasi akan menjadi penyebab utama musnahnya manusia di muka bumi. [Ide yang sangat brilian dari seorang Brown, mengingat bahwa saat ini topik populasi dan segala akibat yang ditimbulkannya menjadi pembahasan yang seakan tak pernah mencapai akhir]. Dalam novel ini juga diceritakan sepintas lalu mengenai Black Death (kematian hitam) yang menyapu daratan Eropa pada tahun 1300-an dan membunuh sepertiga populasi di beberapa daerah.
Kejadian tersebut mempertemukannya dengan Sienna Brooks, dokter muda cantik yang genius dengan IQ 208. Kutukan kecerdasan. Kecerdasan yang membuat Sienna merasa tidak normal diantara orang normal lainnya, semenjak ia masih kecil.
Sementara itu sebuah organisasi swasta besar “The Mendacium” yang bekerja melayani “orang-orang besar” dari segala genre, kewalahan ketika mendapati seorang klien yang mati bunuh diri dengan sebelumnya meninggalkan sebuah pesan terselubung. Pesan yang membuat pemimpin organisasi bernama Provos dan fasilitator seniornya Laurence Knowlton harus bertindak cepat dan tegas dengan mengirim tenaga-tenaga terlatih ke lapangan untuk merebut kembali apa yang diamanatkan kliennya. Amanat yang pada akhirnya melibatkan Robert Langdon. Amanat yang membuat Knowlton bergidik ngeri saat ia menonton sebuah video rekaman yang harus segera disebarluaskan ke seluruh dunia kurang dari 24 jam ke depan.
Setiap kali Dan Brown beraksi maka akan kita dapati puluhan simbol penuh arti. Dalam Inferno, Brown memperkenalkan simbol “biohazard”, ikon tiga-segi sederhana. Dijelaskan bahwa simbol ini dikembangkan oleh Dow Chemical pada tahun 1960-an. Simbol inilah yang dijadikan kunci oleh sang ilmuwan Bertrand Zobrist untuk menggiring banyak orang pada penemuan terbaiknya yang disinyalir mampu menekan laju pertumbuhan penduduk yang semakin besar. Zobrist yang merasa bahwa Who (World Health Organization) tidak pernah serius menangani masalah overpopulasi ini, meminta bantuan kepada The Mendacium untuk memberikan perlindungan penuh padanya selama menyelesaikan misi tersebut. Kesalahpahaman akhirnya membawa petaka bagi semua pihak. Langdon yang awalnya diminta untuk memecahkan beberapa simbol oleh direktur WHO Elizabeth Sinskey (yang merasa takut dengan ancaman Zobrist, takut akan wabah atau virus yang ia kembangkan untuk memusnahkan manusia) harus berhadapan dengan banyak orang yang seakan ingin menghabisi nyawanya. Setelah puas berpetualang di bumi Italia, kita akan digiring ke Istanbul. Brown yang sangat piawai menggambarkan sudut-sudut terdalam kota ke imaginasi kita, membuat rasa penasaran saya meningkat drastis.
Cerita akan semakin menakjubkan ketika kita mengetahui :
  1. lmuwan bernama adalah Bertrand Zobrist itu adalah klien The Mendacium yang mati bunuh diri setelah dengan sangat rapi mengemas sebuah virus penangkal masalah overpopulasi;
  2. Sienna Brooks adalah kekasih Bertrand Zobrist yang dengan kegeniusannya ikut mendukung pemikiran tentang pemusnahan manusia sebagai jawaban dalam menyelesaikan masalah kependudukan dunia. Sayang, tatkala melaksanakan misinya yang menghabiskan waktu hampir 1 tahun lamanya, Zobrist memutuskan untuk meninggalkan Sienna. Sehingga dalam kisah ini, Sienna sendiri tidak mengetahui wabah atau virus apa yang tengah diracik oleh kekasihnya tersebut.
  3. Langdon berada dalam drama yang telah ditata dengan sangat apik dan rapi oleh pihak WHO dan The Mendacium. Dalam kisah ini, Langdon banyak dibohongi oleh berbagai pihak;
  4. Dan Zobrist tidak sejahat yang kita pikir!
Lebih lengkapnya, mending manteman baca sendiri deh novelnya. Untuk karya Dan Brown, saya selalu menyiapkan bintang 5 (*****) yang berarti bahwa buku ini benar-benar pantas untuk direkomendasikan. Penuturun Brown yang jelas dan rinci membuat saya merasa sedang berada di tempat kejadian, melintasi Il Corridooio Vasariano, Boboli garden, Palazzo Pitti, Baptistry of San Giovanni hingga riak gelombang air laut ketika ratusan orang menaiki gondola di Venesia. Pun begitu halnya ketika dalam bab-bab terakhir Brown membawa kita ke kota Istanbul, Turki. Ribuan kata juga tidak akan mampu mengungkapkan kekaguman saya secara pribadi pada seorang Dan Brown. Imaginasinya, pengetahuannya, eksplorasinya, semuanya bersinergi untuk menghasilkan sebuah mahakarya, sekali lagi.
Salam baca!



Jumat, November 1

Mencinta dalam Diam

Diposting oleh Orestilla di 14.34.00 3 komentar


Bukan cinta jika segalanya harus diumbar ke tengah publik, diperdengarkan pada ribuan telinga atau dipertontonkan pada jutaan mata. Bukan cinta jika baitnya harus didendangkan dalam tiap irama. Bukankah cinta dalam diam juga adalah rasa? Bukankah damba dalam keterasingan tak menampik sesuatu yang suci tanpa nista? Cinta dalam diam tak berarti kemunafikan bergemilang duka, pun kebodohan karena ragu. Langit mungkin belum ingin melihat kita berjalan beriringan dibawahnya, beriringan dalam cinta. Bumi mungkin belum menyediakan tempat terindah untuk kita merajut asa bersamanya. Udara mungkin belum mau menghidupkan kita dalam hidup bahagia selamanya. Namun jika mencintamu dalam diam sudah lebih dari cukup, tak ada alasan untuk melalui hari dengan airmata. Bukankah begitu Tuan?


 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea