Selasa, Oktober 1

#Day1 #30DaysSaveEarth - Si Sampah Kotor

Diposting oleh Orestilla di 15.47.00 0 komentar


Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Itu peribahasanya. Kata kunci untuk proyek #30DaysSaveEarth #Day1 hari ini dari saya adalah sampah. Coba kita temukan korelasi sempurna untuk peribahasa dan keyword ini. Iya. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila sampah yang awalnya hanya satu, dua, tiga, tiba-tiba menjelma menjadi ribuan, jutaan dan menggunung.
Membuang sampah memang menjadi sebuah rutinitas yang dipandang enteng oleh sebahagian besar orang. Tak terkecuali kita, bahkan saya sendiri. Adakalanya kekhilafan masih menghampiri kita sebagai manusia biasa. Bila tak khilaf, maka lupa mungkin lebih baik terdengar. Iya. Kita terkadang lupa, mungkin juga malah sering. Sering lupa untuk membuang sampah di tempat yang seharusnya. Slogan “buanglah sampah pada tempatnya” sekarang lebih sering hanya menghuni dinding-dinding sekolah. Jika diamalkan itu sudah prestasi yang luar biasa. Faktanya slogan-slogan ini hanya dibaca sambil lalu saja. Pernah dengar masuk kuping kanan keluar kuping kiri kan teman? Nah itu dia. Dibaca sebentar, menit berikutnya langsung dilupakan.

Coba perhatikan papan larangan dan fakta yang ada
Tak jarang kita lihat sebuah tempat yang terang-terangan membuat pengumuman “Dilarang membuang sampah disini” sementara di bagian bawah papan pengumuman tersebut, sampah mulai menggunung, berpesta pora memproduksi jutaan bakteri yang kemudian dihadiahkan untuk kita semua, manusia-manusia yang masih minim sekali kesadarannya akan kebersihan lingkungan.
Sebagai seorang abdi negara di salah satu pemerintah daerah negeri ini, saya paham dan tahu betul program-program apa saja yang sudah dan akan dijalankan pemerintah untuk menanggulangi masalah persampahan. Namun seluruh rencana program dan kegiatan tersebut tidak akan memiliki arti sama sekali jika kita sebagai masyarakat belum menanamkan kepedulian dalam diri kita masing-masing. Bahkan sekuat peraturan daerah saja, tak akan mampu mengusir sampah-sampah yang terlanjur bertebaran di luar sana bila kita yang berperan sebagai penghasil sampah tidak sadar atau lebih buruknya tidak mengindahkan aturan-aturan yang telah ada.
Menggurui orang lain untuk menjaga kebersihan diri pribadi, keluarga dan lingkungannya memang bukanlah hal mudah, tak sekedar membalikkan telapak tangan. Tak segampang berkata-kata seperti yang sedang saya lakukan di laman ini sekarang. Namun, ajakan dengan memulainya dari diri sendiri mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Tidak akan terlalu berat rasanya bila membuang sampah pribadi kita ke tempat yang sudah disediakan. Lebih baik lagi jika kebiasaan kecil ini kita mulai dari lingkungan keluarga, rumah kita sendiri atau wilayah yang lebih kecil, kamar kita sendiri.
Suka bawa cemilan ke kamar tidur? Atau ada yang hobi nulis surat mungkin? Yang jika salah sedikit saja, langsung dirobek kemudiaaaann..jebret!!! langsung dibuang ke sembarang tempat. Atau ada yang suka memelihara tanaman hias, yang jika daunnya mulai layu harus segera dibuang dan yaaa..untuk menampung remah-remah kotor itu kita bisa menyediakan sebuah tempat sampah. Tak perlu sebesar gentong di belakang rumah. Kita bisa menciptakan sebuah tempat sampah cantik yang hanya dengan memandangnya saja, orang-orang tak akan pernah tahu kalau itu adalah sebuah tempat sampah! Ayo kembangkan kreatifitas teman. Mungkin bisa dengan cara menyulap kaleng kue kepunyaan mama. Menghiasinya dengan kain-kain flannel. Ciptakan seindah mungkin. Dan tentunya, pastikan setelah memiliki si tempat sampah cantik, kita tidak akan pernah lagi membuang sampah-sampah di tempat yang lain.

Ini bisa jadi contoh juga lo teman-teman
Jika belum bisa mengajak orang lain peduli akan sampah, peduli akan kebersihan, peduli akan lingkungan, setidaknya kita telah mencoba untuk memulainya dari diri kita sendiri. Antusias! Mulai hari ini mari berjanji dari dalam hati kita masing-masing, “Jangan lagi buang sampah di tempat yang tak seharusnya”. Sampah itu kotor dan yang berlabel kotor jangan pernah tebarkan di sembarang tempat. Prinsipnya, bila belum bisa menyebarkan kebaikan, jangan pernah tebar kekotoran. Haha. Sekian teman. Salam lingkungan :)




Tulisan ini ditulis dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang diselenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika Info selanjutnya bisa intip link ini.

Senin, September 30

Kekristenan mereka menguatkan keislamanku

Diposting oleh Orestilla di 09.34.00 0 komentar

Diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan yang merangkum seluruh putera-puteri bangsa dari seluruh penjuru nusantara adalah sebuah hadiah terindah dari Allah yang sebelumnya tak pernah mampir dalam hidupku walau hanya dalam mimpi. Ada banyak kenangan yang berhasil kami ukir disana, sebuah cerita yang mungkin saja tak akan bisa kubagi disini bila tak pernah menjajaki tempat tersebut.
Disana pula lah aku bertemu dengan ratusan bahkan ribuan orang dengan pola pikir, budaya, agama dan kebiasan hidup yang berbeda. Aku yang lahir dan tumbuh di daerah dengan kultur budaya “barat” yang hanya dengan berkata dengan intonasi cukup keras saja sudah dianggap kasar, mau tidak mau harus berbagi satu ruangan dengan teman-teman baru dari “timur” Indonesia yang mungkin saja beranggapan bahwa bicara dengan intonasi sekeras apapun bukan sebuah permasalahn besar asal tidak diniatkan untuk menyakiti perasaan orang lain.
Perbedaan itulah yang akan kuceritakan disini. Bukan untuk menghakimi suku atau agama manapun. Namun untuk menyadarkan banyak pihak di luar sana, bahwa perbedaan yang kita punya adalah sebuah harta berharga yang apabila mampu kita kelola dengan baik akan mendatangkan kebaikan bagi negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Berbagi ruangan berukuran sekitar 5 x 10 meter dengan 12 orang yang memiliki agama dan budaya yang berbeda, pada awalnya memang sangat sulit. Bagaimana tidak? Mulai dari kesulitan mengartikan bahasa daerah masing-masing, bingung dengan ritual ibadah agama teman yang lain serta banyak hal-hal kecil yang menjelma menjadi sebuah tanda tanya besar.
Aku seorang muslimah yang berasal dari Kota Solok Propinsi Sumatera Barat. Ada empat orang teman yang saat itu memeluk agama yang berbeda denganku. Mereka adalah Eriftora Kolimon dari Nusa Tenggara Timur, Eva Julita Pandjaitan yang berasal dari Kalimantan Timur walaupun ia memiliki darah batak, Mareska Karamoy dari Sulawesi Utara dan Marianti Valenti Jaya dari Papua.
Jujur, terbersit beberapa prasangka buruk ketika pertama kali kenal dengan mereka. Kekuranganku sebagai seorang manusia biasa. Sebagai seorang gadis yang tak pernah bersosialisasi di luar zona nyamanku. Sebagai seorang anak yang sedang mencari jati diri dan dihadapkan pada sebuah realita yang belum pernah kutemui di tempat kelahiranku.
Eriftora Kolimon. Pembawaannya yang pendiam dan jarang bicara, membuatku berpikir bahwa ia menarik diri dari pergaulan. Apakah ia tidak berminat untuk berteman denganku? Marianti yang selalu keras dalam menyampaikan apa yang ia pikirkan juga melahirkan sebuah pemikiran padaku waktu itu bahwa memang seperti itulah orang Papua, kasar dan tidak bersahabat. Lain halnya dengan Mareska. Mareska yang centil dan sangat tergila-gila pada warna merah jambu, membuatku sering berceletuk di dalam hati, apakah begini cara orang-orang disana mendidik anak gadisnya? Tenggelam dalam jiwa konsumerisme yang tinggi. Sedangkan untuk seorang Eva yang berdarah Batak namun sangat lembut, juga membuatku mempertanyakan kembali jiwa “ke-batak-annya”.
Namun waktu menjawab kesalahpahaman yang kuciptakan sendiri. Seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa dibalik tipikal diam dan seriusnya Erif, dia memiliki jiwa sosialisasi yang sangat tinggi. Erif tak pernah berkeberatan untuk membantuku dalam menghadapi kesulitan belajar. Marianti dengan sikapnya yang keras dan tegas juga tak pernah berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan simpati dariku, ia sangat terbuka. Mareska yang dulu bagiku sangat kekanak-kanakkan ternyata mampu menjelma menjadi seorang dewasa yang akan memberikan nasehat berharga bila aku dirundung masalah. Sedangkan Eva adalah seorang gadis Batak lembut pertama yang pernah kutemui, ia sangat baik dan tak pernah berpikir dua kali untuk membantu orang lain.
Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga bagiku adalah ketaatan mereka dalam beribadah. Aku yang terkadang lupa berdoa sebelum memulai hari seperti ditampar ketika melihat mereka dengan khusyuknya berdoa di tempat tidur masing-masing walaupun setiap harinya kami berpacu dengan waktu. Mereka juga sering mengingatkan kami ketika waktu shalat datang. Mereka juga tak segan-segan menjadi alarm setiap kali sahur di bulan suci Ramadhan. Bahkan tak jarang mereka juga ikut makan bersama kami. Mereka melakukannya dengan ketulusan dan tanpa mengharap imbalan. Kekristenan mereka menguatkan keislamanku. Aku berusaha untuk menjadi hamba Allah yang lebih taat setelah itu. Aku bangga memiliki sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Dan tulisan ini adalah dedikasi tertinggi yang mampu aku persembahkan untuk sahabat-sahabat yang sudah 4 tahun ini tak lagi bisa kutemui. Aku sangat merindukan mereka. Dan berharap semoga persahabatan lintas iman, lintas suku dan lintas budaya yang kami punya memiliki andil dalam menyatukan bangsa kita. Aamiin.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam #ProyekNulis buku #Dialog100 dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional pada tanggal 16 November 2013 mendatang.

Jumat, September 13

Wanita Penghantar Pernikahan #Part2

Diposting oleh Orestilla di 08.51.00 0 komentar


Resti gundah gulana karena baru saja ditinggal pergi kekasihnya tanpa alasan pasti. Lelaki itu meninggalkannya begitu saja ketika cinta masih melekat hebat tepat dihatinya. Resti bak kehilangan tempat untuk bersandar. Hari-harinya berlalu dalam kelu. Resti tak menampik bahwa hatinya masih mendamba sang lelaki. Walau untuk memilikinya kembali hanya bagaikan mimpi abadi. Resti tak akan pernah bangun dari mimpinya, dan segalanya tak akan pernah menjadi nyata.

Dalam kegalauan hati itulah ia bertemu dengan Ari. Lelaki baru yang tertaut umur dua tahun diatasnya. Ari dengan sikapnya yang luwes, kata-katanya yang mengundang tawa, dan kecintaannya pada segala hal yang juga dicintai Resti, menempatkannya di sebuah pojok istimewa di hati Resti. Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan penuh suka. Dengah kesibukannya masing-masing, Resti dan Ari selalu meluangkan waktu -yang walaupun singkat- hanya untuk sekedar berbagi hal apa pun yang mereka temui hari itu. Ada kalanya Ari mengajak Resti untuk melancong ke sebuah tempat rental dvd, memilihkan tontonan-tontonan seru atau terkadang merekomendasikan beberapa buku yang pada akhirnya membuat Resti tergila-gila pada jenis bacaan berat yang dulu tak pernah ia sentuh. Ketika pulang dalam sebuah perjalanan “rahasia” yang ia lakukan, Ari menghadiahkan beberapa batang coklat, makanan favorit Resti. Kudapan manis ini bagi Resti bagaikan sebuah obat pelipur lara dari segala macam masalah yang mendera. Rumusnya: Masalah + Coklat = Bahagia. Rumus aneh yang ia sendiri tak pahami, namun berlaku benar dalam kenyataannya. Hari menjadi minggu untuk kemudian berganti bulan, mereka menjelmakan hubungan yang mereka awali dengan sebuah ketidaksengajaan menjadi satu persahabatan yang mendatangkan bahagia bagi keduanya.

Namun sedari awal Resti sudah memblokir hatinya sendiri untuk tidak jatuh cinta pada sahabat barunya itu. Karena dari awal pun Ari secara tak langsung sudah memproklamirkan keterikatannya pada seorang hawa, wanita istimewa yang sudah menempati hatinya. Resti menyadari itu dengan sangat, bahwa ia tak akan pernah menjamah tempat “terlarang” itu. 

Pertemuan ada karena perpisahan juga tak bisa disangkal keberadaannya. Memadu persahabatan dengan lelaki yang sudah mengikrarkan janji pada wanita lain, mengharuskan Resti untuk bersiap-siap kehilangan. Kehilangan tawa Ari yang meledak-ledak ketika larut malam mereka habiskan via telepon genggam, kehilangan serapah Ari yang selalu menafsirkan tingkah laku Resti yang selalu lain dari manusia normal lainnya, kehilangan nasehat berharga yang seringkali Ari lontarkan ketika Resti menghujaninya dengan curahan-curahan hati, kehilangan suara Ari yang menentramkan ketika pada malam-malam tertentu Ari mendongeng kisah-kisah seru untuknya, kehilangan momen-momen tergila yang mereka lalui berdua. Seminggu sebelum pernikahannya, Ari masih berusaha untuk berlaku sama seperti yang lalu. Namun resti tau dalam diamnya bahwa Ari hanya tak ingin membuatnya bersedih, membuatnya benar-benar kehilangan. Walau setelah ia benar-benar menikah, Ari tak pernah lagi menjamah hidupnya dengan bahagia. Ari telah pergi dan ia tak akan lagi pernah kembali. Dalam kesendiriannya, ada satu hal yang tak pernah disadari Resti, ia sebenarnya telah jatuh cinta, jatuh pada waktu dan orang yang salah. Jatuh karena kebodohannya sendiri. Dan ia sadar, sama seperti lelaki yang dulu pernah meninggalkannya, Resti hanya berperan sebagai wanita penghantar pernikahan.


Rabu, September 11

Surat cinta untuk 18

Diposting oleh Orestilla di 08.20.00 0 komentar


Dear 18 tercinta,

Apa kabar saudara? Semoga Tuhan dan semesta-Nya selalu menghadiahkan kebahagiaan untuk kita. Aamiin.

Jika dengan menonton tayangan Pengukuhan Pamong Praja Muda Angkatan 20 kemaren saja mampu membuncahkan rindu mendalam kita akan kesatriaan, bagaimana mungkin tanggal sakral ini akan hilang dari ingatan? 4 tahun sudah. 10,11,12 September 2009 adalah puncak seluruh perjuangan dan pengorbanan kita semua. Evolet, wisuda dan pengukuhan pamong praja muda menjadi rangkaian peristiwa mengharu biru yang tak akan pernah punah dilahap sang waktu. Ya. Lagi-lagi bicara rindu.

Masih ada yang telat apel pagi ini? Tentunya di pelosok nusantara ini, tak lagi kita temui Pak Sukoi yang hanya dengan memandangnya dari kejauhan saja sudah menciutkan ratusan nyali untuk bertindak gegabah melanggar aturan.

Masih ada yang telat makan pagi? Kemudian memilih mie rebus instan yang dimasak sederhana dengan bantuan heater hasil iuran satu petak itu? Haha. Mungkin sudah tidak lagi. Karena hampir separuh jumlah angkatan kita sudah punya “tukang masak” pribadi dirumahnya sendiri.

Masih ada yang suka curi-curi pandang di kala apel pagi gabungan? Jangan. Ingat istri dan suami dirumah dong. Haha. Ada yang masih suka telponan di tengah malam? Bahkan kuntilanak saja bisa tidur nyaman, sementara sebagian besar dari kita malah memilih untuk berbisik-bisik di bawah selimut masing-masing.  Hihi. Udah nggak lagi lah ya. Udah pada punya “alarm” pribadi juga yang tiap malam bisa ngomong langsung tanpa perantara, “Met bobok sayang. Mimpi indah.” *kecup* sudah..sudah..sudah..paragraf ini harusnya disensor pemirsa :D

Ah. Bicara rindu hanya menambah kelu. Ayo yang kemaren semangat bikin reunian. Jangan sampai 2018 besok terlewatkan begitu saja. Biar tangan bisa saling menggenggam lagi dan derai tawa meningkahi kekonyolan kita nanti.

18-ku tercinta, salam rindu dan peluk cium untuk kalian semua.
Orestilla.


Selasa, Oktober 1

#Day1 #30DaysSaveEarth - Si Sampah Kotor

Diposting oleh Orestilla di 15.47.00 0 komentar


Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Itu peribahasanya. Kata kunci untuk proyek #30DaysSaveEarth #Day1 hari ini dari saya adalah sampah. Coba kita temukan korelasi sempurna untuk peribahasa dan keyword ini. Iya. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila sampah yang awalnya hanya satu, dua, tiga, tiba-tiba menjelma menjadi ribuan, jutaan dan menggunung.
Membuang sampah memang menjadi sebuah rutinitas yang dipandang enteng oleh sebahagian besar orang. Tak terkecuali kita, bahkan saya sendiri. Adakalanya kekhilafan masih menghampiri kita sebagai manusia biasa. Bila tak khilaf, maka lupa mungkin lebih baik terdengar. Iya. Kita terkadang lupa, mungkin juga malah sering. Sering lupa untuk membuang sampah di tempat yang seharusnya. Slogan “buanglah sampah pada tempatnya” sekarang lebih sering hanya menghuni dinding-dinding sekolah. Jika diamalkan itu sudah prestasi yang luar biasa. Faktanya slogan-slogan ini hanya dibaca sambil lalu saja. Pernah dengar masuk kuping kanan keluar kuping kiri kan teman? Nah itu dia. Dibaca sebentar, menit berikutnya langsung dilupakan.

Coba perhatikan papan larangan dan fakta yang ada
Tak jarang kita lihat sebuah tempat yang terang-terangan membuat pengumuman “Dilarang membuang sampah disini” sementara di bagian bawah papan pengumuman tersebut, sampah mulai menggunung, berpesta pora memproduksi jutaan bakteri yang kemudian dihadiahkan untuk kita semua, manusia-manusia yang masih minim sekali kesadarannya akan kebersihan lingkungan.
Sebagai seorang abdi negara di salah satu pemerintah daerah negeri ini, saya paham dan tahu betul program-program apa saja yang sudah dan akan dijalankan pemerintah untuk menanggulangi masalah persampahan. Namun seluruh rencana program dan kegiatan tersebut tidak akan memiliki arti sama sekali jika kita sebagai masyarakat belum menanamkan kepedulian dalam diri kita masing-masing. Bahkan sekuat peraturan daerah saja, tak akan mampu mengusir sampah-sampah yang terlanjur bertebaran di luar sana bila kita yang berperan sebagai penghasil sampah tidak sadar atau lebih buruknya tidak mengindahkan aturan-aturan yang telah ada.
Menggurui orang lain untuk menjaga kebersihan diri pribadi, keluarga dan lingkungannya memang bukanlah hal mudah, tak sekedar membalikkan telapak tangan. Tak segampang berkata-kata seperti yang sedang saya lakukan di laman ini sekarang. Namun, ajakan dengan memulainya dari diri sendiri mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Tidak akan terlalu berat rasanya bila membuang sampah pribadi kita ke tempat yang sudah disediakan. Lebih baik lagi jika kebiasaan kecil ini kita mulai dari lingkungan keluarga, rumah kita sendiri atau wilayah yang lebih kecil, kamar kita sendiri.
Suka bawa cemilan ke kamar tidur? Atau ada yang hobi nulis surat mungkin? Yang jika salah sedikit saja, langsung dirobek kemudiaaaann..jebret!!! langsung dibuang ke sembarang tempat. Atau ada yang suka memelihara tanaman hias, yang jika daunnya mulai layu harus segera dibuang dan yaaa..untuk menampung remah-remah kotor itu kita bisa menyediakan sebuah tempat sampah. Tak perlu sebesar gentong di belakang rumah. Kita bisa menciptakan sebuah tempat sampah cantik yang hanya dengan memandangnya saja, orang-orang tak akan pernah tahu kalau itu adalah sebuah tempat sampah! Ayo kembangkan kreatifitas teman. Mungkin bisa dengan cara menyulap kaleng kue kepunyaan mama. Menghiasinya dengan kain-kain flannel. Ciptakan seindah mungkin. Dan tentunya, pastikan setelah memiliki si tempat sampah cantik, kita tidak akan pernah lagi membuang sampah-sampah di tempat yang lain.

Ini bisa jadi contoh juga lo teman-teman
Jika belum bisa mengajak orang lain peduli akan sampah, peduli akan kebersihan, peduli akan lingkungan, setidaknya kita telah mencoba untuk memulainya dari diri kita sendiri. Antusias! Mulai hari ini mari berjanji dari dalam hati kita masing-masing, “Jangan lagi buang sampah di tempat yang tak seharusnya”. Sampah itu kotor dan yang berlabel kotor jangan pernah tebarkan di sembarang tempat. Prinsipnya, bila belum bisa menyebarkan kebaikan, jangan pernah tebar kekotoran. Haha. Sekian teman. Salam lingkungan :)




Tulisan ini ditulis dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang diselenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika Info selanjutnya bisa intip link ini.

Senin, September 30

Kekristenan mereka menguatkan keislamanku

Diposting oleh Orestilla di 09.34.00 0 komentar

Diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan yang merangkum seluruh putera-puteri bangsa dari seluruh penjuru nusantara adalah sebuah hadiah terindah dari Allah yang sebelumnya tak pernah mampir dalam hidupku walau hanya dalam mimpi. Ada banyak kenangan yang berhasil kami ukir disana, sebuah cerita yang mungkin saja tak akan bisa kubagi disini bila tak pernah menjajaki tempat tersebut.
Disana pula lah aku bertemu dengan ratusan bahkan ribuan orang dengan pola pikir, budaya, agama dan kebiasan hidup yang berbeda. Aku yang lahir dan tumbuh di daerah dengan kultur budaya “barat” yang hanya dengan berkata dengan intonasi cukup keras saja sudah dianggap kasar, mau tidak mau harus berbagi satu ruangan dengan teman-teman baru dari “timur” Indonesia yang mungkin saja beranggapan bahwa bicara dengan intonasi sekeras apapun bukan sebuah permasalahn besar asal tidak diniatkan untuk menyakiti perasaan orang lain.
Perbedaan itulah yang akan kuceritakan disini. Bukan untuk menghakimi suku atau agama manapun. Namun untuk menyadarkan banyak pihak di luar sana, bahwa perbedaan yang kita punya adalah sebuah harta berharga yang apabila mampu kita kelola dengan baik akan mendatangkan kebaikan bagi negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Berbagi ruangan berukuran sekitar 5 x 10 meter dengan 12 orang yang memiliki agama dan budaya yang berbeda, pada awalnya memang sangat sulit. Bagaimana tidak? Mulai dari kesulitan mengartikan bahasa daerah masing-masing, bingung dengan ritual ibadah agama teman yang lain serta banyak hal-hal kecil yang menjelma menjadi sebuah tanda tanya besar.
Aku seorang muslimah yang berasal dari Kota Solok Propinsi Sumatera Barat. Ada empat orang teman yang saat itu memeluk agama yang berbeda denganku. Mereka adalah Eriftora Kolimon dari Nusa Tenggara Timur, Eva Julita Pandjaitan yang berasal dari Kalimantan Timur walaupun ia memiliki darah batak, Mareska Karamoy dari Sulawesi Utara dan Marianti Valenti Jaya dari Papua.
Jujur, terbersit beberapa prasangka buruk ketika pertama kali kenal dengan mereka. Kekuranganku sebagai seorang manusia biasa. Sebagai seorang gadis yang tak pernah bersosialisasi di luar zona nyamanku. Sebagai seorang anak yang sedang mencari jati diri dan dihadapkan pada sebuah realita yang belum pernah kutemui di tempat kelahiranku.
Eriftora Kolimon. Pembawaannya yang pendiam dan jarang bicara, membuatku berpikir bahwa ia menarik diri dari pergaulan. Apakah ia tidak berminat untuk berteman denganku? Marianti yang selalu keras dalam menyampaikan apa yang ia pikirkan juga melahirkan sebuah pemikiran padaku waktu itu bahwa memang seperti itulah orang Papua, kasar dan tidak bersahabat. Lain halnya dengan Mareska. Mareska yang centil dan sangat tergila-gila pada warna merah jambu, membuatku sering berceletuk di dalam hati, apakah begini cara orang-orang disana mendidik anak gadisnya? Tenggelam dalam jiwa konsumerisme yang tinggi. Sedangkan untuk seorang Eva yang berdarah Batak namun sangat lembut, juga membuatku mempertanyakan kembali jiwa “ke-batak-annya”.
Namun waktu menjawab kesalahpahaman yang kuciptakan sendiri. Seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa dibalik tipikal diam dan seriusnya Erif, dia memiliki jiwa sosialisasi yang sangat tinggi. Erif tak pernah berkeberatan untuk membantuku dalam menghadapi kesulitan belajar. Marianti dengan sikapnya yang keras dan tegas juga tak pernah berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan simpati dariku, ia sangat terbuka. Mareska yang dulu bagiku sangat kekanak-kanakkan ternyata mampu menjelma menjadi seorang dewasa yang akan memberikan nasehat berharga bila aku dirundung masalah. Sedangkan Eva adalah seorang gadis Batak lembut pertama yang pernah kutemui, ia sangat baik dan tak pernah berpikir dua kali untuk membantu orang lain.
Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga bagiku adalah ketaatan mereka dalam beribadah. Aku yang terkadang lupa berdoa sebelum memulai hari seperti ditampar ketika melihat mereka dengan khusyuknya berdoa di tempat tidur masing-masing walaupun setiap harinya kami berpacu dengan waktu. Mereka juga sering mengingatkan kami ketika waktu shalat datang. Mereka juga tak segan-segan menjadi alarm setiap kali sahur di bulan suci Ramadhan. Bahkan tak jarang mereka juga ikut makan bersama kami. Mereka melakukannya dengan ketulusan dan tanpa mengharap imbalan. Kekristenan mereka menguatkan keislamanku. Aku berusaha untuk menjadi hamba Allah yang lebih taat setelah itu. Aku bangga memiliki sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Dan tulisan ini adalah dedikasi tertinggi yang mampu aku persembahkan untuk sahabat-sahabat yang sudah 4 tahun ini tak lagi bisa kutemui. Aku sangat merindukan mereka. Dan berharap semoga persahabatan lintas iman, lintas suku dan lintas budaya yang kami punya memiliki andil dalam menyatukan bangsa kita. Aamiin.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam #ProyekNulis buku #Dialog100 dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional pada tanggal 16 November 2013 mendatang.

Jumat, September 13

Wanita Penghantar Pernikahan #Part2

Diposting oleh Orestilla di 08.51.00 0 komentar


Resti gundah gulana karena baru saja ditinggal pergi kekasihnya tanpa alasan pasti. Lelaki itu meninggalkannya begitu saja ketika cinta masih melekat hebat tepat dihatinya. Resti bak kehilangan tempat untuk bersandar. Hari-harinya berlalu dalam kelu. Resti tak menampik bahwa hatinya masih mendamba sang lelaki. Walau untuk memilikinya kembali hanya bagaikan mimpi abadi. Resti tak akan pernah bangun dari mimpinya, dan segalanya tak akan pernah menjadi nyata.

Dalam kegalauan hati itulah ia bertemu dengan Ari. Lelaki baru yang tertaut umur dua tahun diatasnya. Ari dengan sikapnya yang luwes, kata-katanya yang mengundang tawa, dan kecintaannya pada segala hal yang juga dicintai Resti, menempatkannya di sebuah pojok istimewa di hati Resti. Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan penuh suka. Dengah kesibukannya masing-masing, Resti dan Ari selalu meluangkan waktu -yang walaupun singkat- hanya untuk sekedar berbagi hal apa pun yang mereka temui hari itu. Ada kalanya Ari mengajak Resti untuk melancong ke sebuah tempat rental dvd, memilihkan tontonan-tontonan seru atau terkadang merekomendasikan beberapa buku yang pada akhirnya membuat Resti tergila-gila pada jenis bacaan berat yang dulu tak pernah ia sentuh. Ketika pulang dalam sebuah perjalanan “rahasia” yang ia lakukan, Ari menghadiahkan beberapa batang coklat, makanan favorit Resti. Kudapan manis ini bagi Resti bagaikan sebuah obat pelipur lara dari segala macam masalah yang mendera. Rumusnya: Masalah + Coklat = Bahagia. Rumus aneh yang ia sendiri tak pahami, namun berlaku benar dalam kenyataannya. Hari menjadi minggu untuk kemudian berganti bulan, mereka menjelmakan hubungan yang mereka awali dengan sebuah ketidaksengajaan menjadi satu persahabatan yang mendatangkan bahagia bagi keduanya.

Namun sedari awal Resti sudah memblokir hatinya sendiri untuk tidak jatuh cinta pada sahabat barunya itu. Karena dari awal pun Ari secara tak langsung sudah memproklamirkan keterikatannya pada seorang hawa, wanita istimewa yang sudah menempati hatinya. Resti menyadari itu dengan sangat, bahwa ia tak akan pernah menjamah tempat “terlarang” itu. 

Pertemuan ada karena perpisahan juga tak bisa disangkal keberadaannya. Memadu persahabatan dengan lelaki yang sudah mengikrarkan janji pada wanita lain, mengharuskan Resti untuk bersiap-siap kehilangan. Kehilangan tawa Ari yang meledak-ledak ketika larut malam mereka habiskan via telepon genggam, kehilangan serapah Ari yang selalu menafsirkan tingkah laku Resti yang selalu lain dari manusia normal lainnya, kehilangan nasehat berharga yang seringkali Ari lontarkan ketika Resti menghujaninya dengan curahan-curahan hati, kehilangan suara Ari yang menentramkan ketika pada malam-malam tertentu Ari mendongeng kisah-kisah seru untuknya, kehilangan momen-momen tergila yang mereka lalui berdua. Seminggu sebelum pernikahannya, Ari masih berusaha untuk berlaku sama seperti yang lalu. Namun resti tau dalam diamnya bahwa Ari hanya tak ingin membuatnya bersedih, membuatnya benar-benar kehilangan. Walau setelah ia benar-benar menikah, Ari tak pernah lagi menjamah hidupnya dengan bahagia. Ari telah pergi dan ia tak akan lagi pernah kembali. Dalam kesendiriannya, ada satu hal yang tak pernah disadari Resti, ia sebenarnya telah jatuh cinta, jatuh pada waktu dan orang yang salah. Jatuh karena kebodohannya sendiri. Dan ia sadar, sama seperti lelaki yang dulu pernah meninggalkannya, Resti hanya berperan sebagai wanita penghantar pernikahan.


Rabu, September 11

Surat cinta untuk 18

Diposting oleh Orestilla di 08.20.00 0 komentar


Dear 18 tercinta,

Apa kabar saudara? Semoga Tuhan dan semesta-Nya selalu menghadiahkan kebahagiaan untuk kita. Aamiin.

Jika dengan menonton tayangan Pengukuhan Pamong Praja Muda Angkatan 20 kemaren saja mampu membuncahkan rindu mendalam kita akan kesatriaan, bagaimana mungkin tanggal sakral ini akan hilang dari ingatan? 4 tahun sudah. 10,11,12 September 2009 adalah puncak seluruh perjuangan dan pengorbanan kita semua. Evolet, wisuda dan pengukuhan pamong praja muda menjadi rangkaian peristiwa mengharu biru yang tak akan pernah punah dilahap sang waktu. Ya. Lagi-lagi bicara rindu.

Masih ada yang telat apel pagi ini? Tentunya di pelosok nusantara ini, tak lagi kita temui Pak Sukoi yang hanya dengan memandangnya dari kejauhan saja sudah menciutkan ratusan nyali untuk bertindak gegabah melanggar aturan.

Masih ada yang telat makan pagi? Kemudian memilih mie rebus instan yang dimasak sederhana dengan bantuan heater hasil iuran satu petak itu? Haha. Mungkin sudah tidak lagi. Karena hampir separuh jumlah angkatan kita sudah punya “tukang masak” pribadi dirumahnya sendiri.

Masih ada yang suka curi-curi pandang di kala apel pagi gabungan? Jangan. Ingat istri dan suami dirumah dong. Haha. Ada yang masih suka telponan di tengah malam? Bahkan kuntilanak saja bisa tidur nyaman, sementara sebagian besar dari kita malah memilih untuk berbisik-bisik di bawah selimut masing-masing.  Hihi. Udah nggak lagi lah ya. Udah pada punya “alarm” pribadi juga yang tiap malam bisa ngomong langsung tanpa perantara, “Met bobok sayang. Mimpi indah.” *kecup* sudah..sudah..sudah..paragraf ini harusnya disensor pemirsa :D

Ah. Bicara rindu hanya menambah kelu. Ayo yang kemaren semangat bikin reunian. Jangan sampai 2018 besok terlewatkan begitu saja. Biar tangan bisa saling menggenggam lagi dan derai tawa meningkahi kekonyolan kita nanti.

18-ku tercinta, salam rindu dan peluk cium untuk kalian semua.
Orestilla.


 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea