Rabu, Oktober 23

The Alchemist - Paulo Coelho

Diposting oleh Orestilla di 16.07.00 0 komentar


Akhirnya saya bisa bertemu, meraba kata yang Paulo rangkai di dalam buku terbaiknya, The Alchemist. Ah. Sudah beberapa kota saya datangi hanya untuk menemukannya. Bahkan sampai menitipkan pencariannya pada beberapa sahabat. Dan berkat 25th anniversary penerbitannya, The Alchemist dicetak lagi tahun ini. Novel ini telah diedarkan di seluruh pelosok bumi, diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa. Mengagumkan! Dan saya tak pernah menyesal telah menghabiskan waktu untuk mencari keberadaannya. Berlebihan? Tentu saja tidak. Anda berkata begitu karena belum larut saja dalam sihir katanya Paulo Coelho.
The Alchemist. Kesimpulan pertama yang akan muncul ketika membaca kata ini adalah keajaiban perubahan timah atau tembaga menjadi emas. Tapi benarkah ada keajaiban seperti itu di dunia ini? Bukankah jika memang ada, kemurnian emas sebagai logam mulia hanya akan membuatnya “hambar” dan menjadi tak lagi berharga?
The Alchemist menjawab segalanya. Paulo mengisahkan perjalanan seorang pemuda bernama Santiago dalam menemukan harta karun yang telah ditakdirkan untuknya. Perjalanan panjang dari Spanyol berlatar padang rumput luas menuju piramida Mesir yang demi menginjakkan kakinya di tempat itu, Santiago harus melewati sebuah gurun pasir maha luas. Pencarian takdir yang berawal dari pertemuan tak sengajanya dengan seorang perempuan gipsi, berlanjut dengan pembicaraan singkat bersama raja tua misterius membuat Santiago percaya bahwa takdir akan menuntunnya pada harta karun terhebat yang tak pernah singgah dalam kehidupannya sebagai gembala. Perjalanan lalu memaksanya bertemu dengan seorang pencuri licik yang pada awalnya meluluhlantakkan mimpi yang telah ia rajut tinggi. Namun bisikan-bisikan yang ia dengar dari hati membuatnya gagal berputus asa, melanjutkan perjalanan, bertemu dengan seorang pecinta buku-buku alkemis dari Inggris dan Sang Alkemis itu sendiri.
Bisakah Santiago menemukan harta karun itu? Jauh dari lubuk hati terdalam, saya ingin membagikan apa yang baru saja selesai saya baca. Pelajaran berharganya. Kutipan-kutipan penting yang ia punya (yang seperti biasa telah saya tandai dengan stabilo). Namun saya ingin teman-teman mau membaca kisah ini. Membacanya dengan hati dan menemukan sebuah fakta yang akan membuat kita tercengang. Penasaran? Iya. Itu juga yang saya rasakan sedari dulu dan sore ini rasa penasaran itu telah terobati.
Dalam The Alchemist juga saya menemukan banyak kosa kata baru yang sebelumnya tak saya perhatikan, tak saya ketahui. Maktub, Ramuan Kehidupan, Batu Filsuf, bahasa dunia,  Oya, ini bagian yang selalu ditunggu teman-teman pembaca. The Precious Sentences. Ayo kita kupas satu persatu.
Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan [page 17 of 213]
“Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya [page 34 of 213]
Bahasa dunia yang murni. Bahasa yang lebih tua daripada manusia, lebih kuno dari padang pasir. Sesuatu yang meletupkan daya yang sama manakala dua pasang mata beradu pandang. Bahasa Cinta [page 120 of 213]
“Bukan yang masuk ke mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut.” [page 148 of 213]
“Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya itu karena cintanya bukan karena cinta sejati..bukan cinta yang berbicara bahasa dunia.” [page 155 of 213]
“Kau tak kan pernah lari dari hatimu. Jadi sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tidak disangka-sangka.” [page 166 of 213]
“Orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga, sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya, atau tidak akan pernah bisa mewujudkannya.” [page 167 of 213]
Rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri [page 167 of 213]
Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang [page 170 of 213]
Dan siapa pun yang campur tangan dalam takdir orang lain tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri [page 176 of 213]


Dan masih banyak lagi kutipan berharga yang akan menghabiskan laman ini jika saya sampaikan seluruhnya. The Alchemist mengajarkan saya untuk percaya pada hati, mematikan rasa takut terutama takut akan kegagalan dan kegigihan mencapai mimpi. Saya benar-benar tak ingin menutup halamannya sebelum 213 halaman ini terselesaikan.

#Day23 #30DaysSaveEarth - Aku Ingin Mati

Diposting oleh Orestilla di 11.32.00 0 komentar
Sudah tahun 2058. Sudah 70 tahun usiaku kini. Kuraba wajahku yang dulu mulus kencang, sekarang keriput disana sini. Kuperhatikan jari jemariku yang dulu sanggup menari indah di atas keyboard menuntaskan puluhan cerpen dalam seminggu, kini jangankan menulis lagi, membersihkan gelas kaca saja sudah menjadi prestasi luar biasa bila aku berhasil membuatnya kembali bersinar tanpa pecah terlebih dahulu. Pandanganku semakin kabur seiring pertambahan umur. Kini tanpa kacamata andalan ini, aku tak bisa lagi mengerjakan apa-apa, membaca apa-apa, melihat apa-apa.
Tubuhku yang sudah ringkih sedang duduk bersandar pada sebuah kursi tua yang berkejaran usianya denganku. Badanku diselimuti rajut wol tebal yang membuatku hangat dan nyaman di dalam ruangan dingin karena air conditionernya diatur maksimal. Aku bingung dengan perawat baru yang dua hari lalu diantar puteriku ke apartemen ini. Dia tidak harus menyelimutiku setiap hari. Bukankah cukup hanya dengan mengatur suhu ruangan saja? Namun aku memilih diam karena berkata-kata lebih banyak dari biasanya hanya membuatku letih.
Mataku menangkap sebuah potret keluarga. 50 tahun silam. Saat mama dan papa masih hidup. Saat aku dan ketiga saudaraku baru beranjak remaja. Kami terlihat bahagia di sana. Memilih taman bunga asri milik mama sebagai latar foto. Rumah kecil kami tampak asri. Pohon pelindung mengelilingi kediaman kami. Hijau, menyegarkan. Bahkan hanya dengan memandangnya dari potret tua ini, aroma menenangkan itu masih bisa terhirup oleh hidung tuaku. Ah. Rindu sekali dengan mereka. Saat ini adik-adikku tengah menikmati masa tua mereka di belahan bumi yang lain. Jarak memisahkan kami. Mereka memilih menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya. Sementara aku yang bulan lalu ditinggalkan kekasih hati - suamiku - tanpa seorang anak pun dari hasil pernikahan kami, memutuskan untuk tinggal di apartemen ini. Sebuah tempat yang selama bertahun-tahun kami gunakan untuk melepas penat dari segala rutinitas.
Jendela apartemenku tak seperti jendela rumah kami di masa lalu. Jendela ini ditutup sempurna, berkaca tebal, mempertontonkan pemandangan mengerikan di luar sana. Setidaknya untukku. Jendela rumah kami di masa lalu terbuat dari kayu, teman papa yang menjadi desainer interiornya. Jendela kayu dengan dua daun yang ketika dibuka pada pagi hari akan mempersembahkan udara dingin nan segar, menyampaikan aroma daun basah. Masih ada tetes embun yang tersisa ketika mentari belum sepenuhnya membara. Namun kini yang ada di depan mataku adalah hal mengerikan yang pernah ada. Kendaraan berseliweran dimana-mana. Ini bukan lagi darat, tetapi sudah menjamah udara. Aku sedang berada di lantai 20 dan sebuah mainan anak berumur 5 tahun sedang mangkal di depan jendela kamarku. Ada seorang balita di dalam sana. Senyumnya membuat bahagiaku membuncah. Ingin memeluknya tapi ia sedang asyik berada dalam mainan terbaru tahun ini yang dikendalikan dan dikontrol orangtuanya dari satu tempat yang tak terdeteksi oleh mataku. Baru saja hendak mendekat kearahnya, mainan itu melesat jauh dari tempatku.
Mataku menatap lama ke depan. Kota besar ini sudah berubah banyak dari tahun ke tahun. Sudah tak ada lagi pohon hidup. Keberadaannya digantikan oleh pohon-pohon listrik yang seakan sedang berayun-ayun ditiup angin. PALSU..! Aku ingat, puluhan tahun yang lalu aku dengan jiwa muda yang masih menggebu-gebu mengikuti sebuah proyek menulis bertema #30DaysSaveEarth. Betapa narasi mampu membuatku sadar bahwa bumi sedang membutuhkan tangan-tangan penuh kepedulian. Maka mulailah aku menaklukkan mimpi dan ambisi kami, menjadikannya nyata, memulainya dari lingkungan keluarga, tetangga, teman-teman. Aku berharap bumi kedepannya akan menjadi lebih baik. Namun langkah kecilku terkalahkan oleh mereka-mereka yang sudah tak lagi peduli. Dengan membabi buta mereka menghancurkan bumi, menancapkan tekhnologi hebat tanpa mengindahkan jeritan bumi. Aku kalah. Bumi mengalah.


Airmataku menetes hebat. Diusia senja, aku tiba-tiba saja ingin kembali menjadi anak 5 tahun seperti gadis kecil tadi. Bukan karena mainan hebatnya. Aku hanya ingin kembali ke kampung halamanku dulu. Yang keindahan surga dunianya masih menancap kuat dalam kenanganku. Aku ingin kembali merasakan betapa sempurnanya siang hari yang sejuk di bawah beringin tua rindang sembari membaca novel-novel favoritku. Aku ingin menginjakkan kaki ke lumpur sawah kemudian berlari di bawah hujan, menyeberangi sungai kecil, bercanda ria bersama teman-teman. Aku ingin menjamah tanah-tanah humus penuh gizi bagi tanaman-tanaman kesayangan kami, menanam bunga bersama mama, lalu mengikuti langkahnya ke arah dapur, belajar darinya agar bisa menciptakan masakan-masakan luar biasa. Dan jika aku tak bisa kembali lagi seperti dulu, doaku kali ini hanya satu. Doa sederhana yang kutitip pada malaikat penjaga agar disampaikannya pada Sang Pencipta. Aku ingin mati. Sekarang juga!

Selasa, Oktober 22

#Day22 #30DaysSaveEarth - Kecepatannya Luar Binasa

Diposting oleh Orestilla di 11.35.00 0 komentar


Kecepatan siapa itu? Luar binasa? Maksudnya ini lebih parah lagi dari luar biasa gitu ya?
Iya. Memang. Pemilik kecepatan luar binasa ini adalah fast food dan junk food. Hah? Maksud ente? Kamu pasti mau nanya itu sama saya kan? Kecepatannya dalam membinasakan bumi, kecepatan dalam menghasilkan sampah terbesar. Tu kan..sampah lagi. Sampah lagi. Lagi-lagi sampah. Masih cinta kan sama bumi? Maka apa saja yang mengganggu bumi akan kita gagal totalkan mulai dari sekarang. Dan pastinya kontributor pertamanya yang harus kita stop mulai dari sekarang. Siapa lagi kalau bukan SAMPAH!

Salah satu penghasil sampah terbesar adalah fast food dan junk food. Saya temukan quote ini ketika membaca blognya Ardi kemaren. Saya sendiri jadi penasaran dan tertantang untuk mengulik lebih banyak lagi tentang hal ini.
Apa bedanya sih kedua makhluk ini?
Junk food sendiri merupakan makanan yang tidak memiliki nilai gizi yang baik atau sering juga disebut makanan sampah. Nah tu. Panggilannya aja udah nyerempet-nyerempet ke sampah. Kan? Kan? Kan? Junk food sama sekali tidak berguna bagi tubuh. Menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa jenis junk food yang selalu beredar di pasaran, seperti makanan kaleng, makanan asinan, daging yang diproses dan berlemak serta jeroan, olahan keju, mie instan, makanan-makanan yang mengandung banyak sodium (bagian dari garam), gula (terutama gula buatan/ pemanis), berkolesterol dan lemak jenuh tinggi (merangsang hati untuk memproduksi kolesterol).
Sedangkan fast food seringkali diartikan sebagai makanan yang dikemas, praktis, diolah dan disajikan dalam waktu yang singkat dan mudah dalam hitungan menit.
Nah. Dua jenis makhluk tadi membutuhkan kemasan yang pada akhirnya menjelma menjadi tumpukan sampah. Suka nongkrong di warung-warung fast food nggak? Bisa dihitung dalam satu kali melancong kesana, ada berapa sampah anorganik yang dihasilkan? Itulah cikal bakal timbunan sampah yang bukannya berkurang malah semakin menggunung. Jadi keliatan sekarang kalo dua makhluk mengerikan ini nggak hanya membinasakan kesehatan kita, tapi juga meluluhlantakkan bumi ini dengan limbah yang ia hasilkan. 


Sebelum mengakhiri rangkaian narasi hari ini, saya pengen berbagi dengan teman-teman semua perihal pengaruh buruk si junk food dan fast food. Check it out.
Junk food/ fast food mempengaruhi tingkat energi kita. Junk food tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat. Sebagai hasilnya, kita mungkin merasa lelah dan kekurangan energi yang kita butuhkan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Tingginya tingkat gula dalam makanan cepat saji membuat metabolisme kita menjadi tidak terkendali, ketika kita makan gula halus, pankreas mengeluarkan insulin dalam jumlah yang tinggi untuk mencegah lonjakan berbahaya dalam kadar gula darah. Karena makanan cepat saji dan junk food tidak mengandung jumlah protein dan karbohidrat yang cukup dan baik, kadar gula darah kita akan turun secara tiba-tiba setelah makan, hal ini membuat kita merasa mudah marah-marah dan lelah. Egile. Bisa bikin badmood juga dia ternyata!
Junk food/ fast food berkontribusi terhadap kinerja buruk dan obesitas. Junk food mengandung sejumlah besar lemak dan sebagai lemak terakumulasi dalam tubuh kita, kita akan bertambah berat dan bisa menjadi obesitas. Berat lebih yang kita dapatkan akan semakin mendekatkan kita pada risiko penyakit kronis serius seperti diabetes, penyakit jantung dan arthritis. Kita bahkan bisa mengalami serangan jantung. Tingginya tingkat lemak dan natrium dalam makanan sampah dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Diet sodium berlebihan juga dapat memiliki efek negatif pada fungsi ginjal, bahkan menyebabkan penyakit ginjal. Dalam jangka pendek, kita akan merasa lelah dan sulit berkonsentrasi karena tubuh kita mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen. Selain bikin badmood, dia juga bisa bikin kita goblok secara perlahan tapi pasti.
Junk food/ fast food bisa merusak hati. Tingginya tingkat lemak dan natrium dalam junk food dan fast food dapat berkontribusi pada penyakit jantung dengan menaikkan kadar kolesterol darah dan berkontribusi terhadap meningkatnya plak arteri. Tingginya tingkat asam lemak trans yang ditemukan dalam makanan sampah dan makanan cepat saji dapat menyebabkan deposito fatty liver yang,dari waktu ke waktu, dapat menyebabkan disfungsi & penyakit hati.
Pengen berpartisipasi aktif untuk menjaga bumi dan lingkungannya? Hayuk atuh mulai dari sekarang kurangi konsumsi junk food dan fast food kita. Enakan juga makan makanan mama di rumah atau makanan hasil olahan sendiri (sekalian belajar masak tu buat yang gadis-gadis). Selain sehat, hemat, secara tidak langsung kita juga telah membantu bumi untuk bernafas sedikit lega. Iya kan?


Cintai bumi maka ia akan mencintai kita dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik lagi. Begitu rumus sederhanyanya. Salam bumi!


Tulisan ini ditulis dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang diselenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika Info selanjutnya bisa intip link ini.  


Rabu, Oktober 23

The Alchemist - Paulo Coelho

Diposting oleh Orestilla di 16.07.00 0 komentar


Akhirnya saya bisa bertemu, meraba kata yang Paulo rangkai di dalam buku terbaiknya, The Alchemist. Ah. Sudah beberapa kota saya datangi hanya untuk menemukannya. Bahkan sampai menitipkan pencariannya pada beberapa sahabat. Dan berkat 25th anniversary penerbitannya, The Alchemist dicetak lagi tahun ini. Novel ini telah diedarkan di seluruh pelosok bumi, diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa. Mengagumkan! Dan saya tak pernah menyesal telah menghabiskan waktu untuk mencari keberadaannya. Berlebihan? Tentu saja tidak. Anda berkata begitu karena belum larut saja dalam sihir katanya Paulo Coelho.
The Alchemist. Kesimpulan pertama yang akan muncul ketika membaca kata ini adalah keajaiban perubahan timah atau tembaga menjadi emas. Tapi benarkah ada keajaiban seperti itu di dunia ini? Bukankah jika memang ada, kemurnian emas sebagai logam mulia hanya akan membuatnya “hambar” dan menjadi tak lagi berharga?
The Alchemist menjawab segalanya. Paulo mengisahkan perjalanan seorang pemuda bernama Santiago dalam menemukan harta karun yang telah ditakdirkan untuknya. Perjalanan panjang dari Spanyol berlatar padang rumput luas menuju piramida Mesir yang demi menginjakkan kakinya di tempat itu, Santiago harus melewati sebuah gurun pasir maha luas. Pencarian takdir yang berawal dari pertemuan tak sengajanya dengan seorang perempuan gipsi, berlanjut dengan pembicaraan singkat bersama raja tua misterius membuat Santiago percaya bahwa takdir akan menuntunnya pada harta karun terhebat yang tak pernah singgah dalam kehidupannya sebagai gembala. Perjalanan lalu memaksanya bertemu dengan seorang pencuri licik yang pada awalnya meluluhlantakkan mimpi yang telah ia rajut tinggi. Namun bisikan-bisikan yang ia dengar dari hati membuatnya gagal berputus asa, melanjutkan perjalanan, bertemu dengan seorang pecinta buku-buku alkemis dari Inggris dan Sang Alkemis itu sendiri.
Bisakah Santiago menemukan harta karun itu? Jauh dari lubuk hati terdalam, saya ingin membagikan apa yang baru saja selesai saya baca. Pelajaran berharganya. Kutipan-kutipan penting yang ia punya (yang seperti biasa telah saya tandai dengan stabilo). Namun saya ingin teman-teman mau membaca kisah ini. Membacanya dengan hati dan menemukan sebuah fakta yang akan membuat kita tercengang. Penasaran? Iya. Itu juga yang saya rasakan sedari dulu dan sore ini rasa penasaran itu telah terobati.
Dalam The Alchemist juga saya menemukan banyak kosa kata baru yang sebelumnya tak saya perhatikan, tak saya ketahui. Maktub, Ramuan Kehidupan, Batu Filsuf, bahasa dunia,  Oya, ini bagian yang selalu ditunggu teman-teman pembaca. The Precious Sentences. Ayo kita kupas satu persatu.
Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan [page 17 of 213]
“Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya [page 34 of 213]
Bahasa dunia yang murni. Bahasa yang lebih tua daripada manusia, lebih kuno dari padang pasir. Sesuatu yang meletupkan daya yang sama manakala dua pasang mata beradu pandang. Bahasa Cinta [page 120 of 213]
“Bukan yang masuk ke mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut.” [page 148 of 213]
“Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya itu karena cintanya bukan karena cinta sejati..bukan cinta yang berbicara bahasa dunia.” [page 155 of 213]
“Kau tak kan pernah lari dari hatimu. Jadi sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tidak disangka-sangka.” [page 166 of 213]
“Orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga, sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya, atau tidak akan pernah bisa mewujudkannya.” [page 167 of 213]
Rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri [page 167 of 213]
Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang [page 170 of 213]
Dan siapa pun yang campur tangan dalam takdir orang lain tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri [page 176 of 213]


Dan masih banyak lagi kutipan berharga yang akan menghabiskan laman ini jika saya sampaikan seluruhnya. The Alchemist mengajarkan saya untuk percaya pada hati, mematikan rasa takut terutama takut akan kegagalan dan kegigihan mencapai mimpi. Saya benar-benar tak ingin menutup halamannya sebelum 213 halaman ini terselesaikan.

#Day23 #30DaysSaveEarth - Aku Ingin Mati

Diposting oleh Orestilla di 11.32.00 0 komentar
Sudah tahun 2058. Sudah 70 tahun usiaku kini. Kuraba wajahku yang dulu mulus kencang, sekarang keriput disana sini. Kuperhatikan jari jemariku yang dulu sanggup menari indah di atas keyboard menuntaskan puluhan cerpen dalam seminggu, kini jangankan menulis lagi, membersihkan gelas kaca saja sudah menjadi prestasi luar biasa bila aku berhasil membuatnya kembali bersinar tanpa pecah terlebih dahulu. Pandanganku semakin kabur seiring pertambahan umur. Kini tanpa kacamata andalan ini, aku tak bisa lagi mengerjakan apa-apa, membaca apa-apa, melihat apa-apa.
Tubuhku yang sudah ringkih sedang duduk bersandar pada sebuah kursi tua yang berkejaran usianya denganku. Badanku diselimuti rajut wol tebal yang membuatku hangat dan nyaman di dalam ruangan dingin karena air conditionernya diatur maksimal. Aku bingung dengan perawat baru yang dua hari lalu diantar puteriku ke apartemen ini. Dia tidak harus menyelimutiku setiap hari. Bukankah cukup hanya dengan mengatur suhu ruangan saja? Namun aku memilih diam karena berkata-kata lebih banyak dari biasanya hanya membuatku letih.
Mataku menangkap sebuah potret keluarga. 50 tahun silam. Saat mama dan papa masih hidup. Saat aku dan ketiga saudaraku baru beranjak remaja. Kami terlihat bahagia di sana. Memilih taman bunga asri milik mama sebagai latar foto. Rumah kecil kami tampak asri. Pohon pelindung mengelilingi kediaman kami. Hijau, menyegarkan. Bahkan hanya dengan memandangnya dari potret tua ini, aroma menenangkan itu masih bisa terhirup oleh hidung tuaku. Ah. Rindu sekali dengan mereka. Saat ini adik-adikku tengah menikmati masa tua mereka di belahan bumi yang lain. Jarak memisahkan kami. Mereka memilih menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya. Sementara aku yang bulan lalu ditinggalkan kekasih hati - suamiku - tanpa seorang anak pun dari hasil pernikahan kami, memutuskan untuk tinggal di apartemen ini. Sebuah tempat yang selama bertahun-tahun kami gunakan untuk melepas penat dari segala rutinitas.
Jendela apartemenku tak seperti jendela rumah kami di masa lalu. Jendela ini ditutup sempurna, berkaca tebal, mempertontonkan pemandangan mengerikan di luar sana. Setidaknya untukku. Jendela rumah kami di masa lalu terbuat dari kayu, teman papa yang menjadi desainer interiornya. Jendela kayu dengan dua daun yang ketika dibuka pada pagi hari akan mempersembahkan udara dingin nan segar, menyampaikan aroma daun basah. Masih ada tetes embun yang tersisa ketika mentari belum sepenuhnya membara. Namun kini yang ada di depan mataku adalah hal mengerikan yang pernah ada. Kendaraan berseliweran dimana-mana. Ini bukan lagi darat, tetapi sudah menjamah udara. Aku sedang berada di lantai 20 dan sebuah mainan anak berumur 5 tahun sedang mangkal di depan jendela kamarku. Ada seorang balita di dalam sana. Senyumnya membuat bahagiaku membuncah. Ingin memeluknya tapi ia sedang asyik berada dalam mainan terbaru tahun ini yang dikendalikan dan dikontrol orangtuanya dari satu tempat yang tak terdeteksi oleh mataku. Baru saja hendak mendekat kearahnya, mainan itu melesat jauh dari tempatku.
Mataku menatap lama ke depan. Kota besar ini sudah berubah banyak dari tahun ke tahun. Sudah tak ada lagi pohon hidup. Keberadaannya digantikan oleh pohon-pohon listrik yang seakan sedang berayun-ayun ditiup angin. PALSU..! Aku ingat, puluhan tahun yang lalu aku dengan jiwa muda yang masih menggebu-gebu mengikuti sebuah proyek menulis bertema #30DaysSaveEarth. Betapa narasi mampu membuatku sadar bahwa bumi sedang membutuhkan tangan-tangan penuh kepedulian. Maka mulailah aku menaklukkan mimpi dan ambisi kami, menjadikannya nyata, memulainya dari lingkungan keluarga, tetangga, teman-teman. Aku berharap bumi kedepannya akan menjadi lebih baik. Namun langkah kecilku terkalahkan oleh mereka-mereka yang sudah tak lagi peduli. Dengan membabi buta mereka menghancurkan bumi, menancapkan tekhnologi hebat tanpa mengindahkan jeritan bumi. Aku kalah. Bumi mengalah.


Airmataku menetes hebat. Diusia senja, aku tiba-tiba saja ingin kembali menjadi anak 5 tahun seperti gadis kecil tadi. Bukan karena mainan hebatnya. Aku hanya ingin kembali ke kampung halamanku dulu. Yang keindahan surga dunianya masih menancap kuat dalam kenanganku. Aku ingin kembali merasakan betapa sempurnanya siang hari yang sejuk di bawah beringin tua rindang sembari membaca novel-novel favoritku. Aku ingin menginjakkan kaki ke lumpur sawah kemudian berlari di bawah hujan, menyeberangi sungai kecil, bercanda ria bersama teman-teman. Aku ingin menjamah tanah-tanah humus penuh gizi bagi tanaman-tanaman kesayangan kami, menanam bunga bersama mama, lalu mengikuti langkahnya ke arah dapur, belajar darinya agar bisa menciptakan masakan-masakan luar biasa. Dan jika aku tak bisa kembali lagi seperti dulu, doaku kali ini hanya satu. Doa sederhana yang kutitip pada malaikat penjaga agar disampaikannya pada Sang Pencipta. Aku ingin mati. Sekarang juga!

Selasa, Oktober 22

#Day22 #30DaysSaveEarth - Kecepatannya Luar Binasa

Diposting oleh Orestilla di 11.35.00 0 komentar


Kecepatan siapa itu? Luar binasa? Maksudnya ini lebih parah lagi dari luar biasa gitu ya?
Iya. Memang. Pemilik kecepatan luar binasa ini adalah fast food dan junk food. Hah? Maksud ente? Kamu pasti mau nanya itu sama saya kan? Kecepatannya dalam membinasakan bumi, kecepatan dalam menghasilkan sampah terbesar. Tu kan..sampah lagi. Sampah lagi. Lagi-lagi sampah. Masih cinta kan sama bumi? Maka apa saja yang mengganggu bumi akan kita gagal totalkan mulai dari sekarang. Dan pastinya kontributor pertamanya yang harus kita stop mulai dari sekarang. Siapa lagi kalau bukan SAMPAH!

Salah satu penghasil sampah terbesar adalah fast food dan junk food. Saya temukan quote ini ketika membaca blognya Ardi kemaren. Saya sendiri jadi penasaran dan tertantang untuk mengulik lebih banyak lagi tentang hal ini.
Apa bedanya sih kedua makhluk ini?
Junk food sendiri merupakan makanan yang tidak memiliki nilai gizi yang baik atau sering juga disebut makanan sampah. Nah tu. Panggilannya aja udah nyerempet-nyerempet ke sampah. Kan? Kan? Kan? Junk food sama sekali tidak berguna bagi tubuh. Menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa jenis junk food yang selalu beredar di pasaran, seperti makanan kaleng, makanan asinan, daging yang diproses dan berlemak serta jeroan, olahan keju, mie instan, makanan-makanan yang mengandung banyak sodium (bagian dari garam), gula (terutama gula buatan/ pemanis), berkolesterol dan lemak jenuh tinggi (merangsang hati untuk memproduksi kolesterol).
Sedangkan fast food seringkali diartikan sebagai makanan yang dikemas, praktis, diolah dan disajikan dalam waktu yang singkat dan mudah dalam hitungan menit.
Nah. Dua jenis makhluk tadi membutuhkan kemasan yang pada akhirnya menjelma menjadi tumpukan sampah. Suka nongkrong di warung-warung fast food nggak? Bisa dihitung dalam satu kali melancong kesana, ada berapa sampah anorganik yang dihasilkan? Itulah cikal bakal timbunan sampah yang bukannya berkurang malah semakin menggunung. Jadi keliatan sekarang kalo dua makhluk mengerikan ini nggak hanya membinasakan kesehatan kita, tapi juga meluluhlantakkan bumi ini dengan limbah yang ia hasilkan. 


Sebelum mengakhiri rangkaian narasi hari ini, saya pengen berbagi dengan teman-teman semua perihal pengaruh buruk si junk food dan fast food. Check it out.
Junk food/ fast food mempengaruhi tingkat energi kita. Junk food tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat. Sebagai hasilnya, kita mungkin merasa lelah dan kekurangan energi yang kita butuhkan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Tingginya tingkat gula dalam makanan cepat saji membuat metabolisme kita menjadi tidak terkendali, ketika kita makan gula halus, pankreas mengeluarkan insulin dalam jumlah yang tinggi untuk mencegah lonjakan berbahaya dalam kadar gula darah. Karena makanan cepat saji dan junk food tidak mengandung jumlah protein dan karbohidrat yang cukup dan baik, kadar gula darah kita akan turun secara tiba-tiba setelah makan, hal ini membuat kita merasa mudah marah-marah dan lelah. Egile. Bisa bikin badmood juga dia ternyata!
Junk food/ fast food berkontribusi terhadap kinerja buruk dan obesitas. Junk food mengandung sejumlah besar lemak dan sebagai lemak terakumulasi dalam tubuh kita, kita akan bertambah berat dan bisa menjadi obesitas. Berat lebih yang kita dapatkan akan semakin mendekatkan kita pada risiko penyakit kronis serius seperti diabetes, penyakit jantung dan arthritis. Kita bahkan bisa mengalami serangan jantung. Tingginya tingkat lemak dan natrium dalam makanan sampah dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Diet sodium berlebihan juga dapat memiliki efek negatif pada fungsi ginjal, bahkan menyebabkan penyakit ginjal. Dalam jangka pendek, kita akan merasa lelah dan sulit berkonsentrasi karena tubuh kita mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen. Selain bikin badmood, dia juga bisa bikin kita goblok secara perlahan tapi pasti.
Junk food/ fast food bisa merusak hati. Tingginya tingkat lemak dan natrium dalam junk food dan fast food dapat berkontribusi pada penyakit jantung dengan menaikkan kadar kolesterol darah dan berkontribusi terhadap meningkatnya plak arteri. Tingginya tingkat asam lemak trans yang ditemukan dalam makanan sampah dan makanan cepat saji dapat menyebabkan deposito fatty liver yang,dari waktu ke waktu, dapat menyebabkan disfungsi & penyakit hati.
Pengen berpartisipasi aktif untuk menjaga bumi dan lingkungannya? Hayuk atuh mulai dari sekarang kurangi konsumsi junk food dan fast food kita. Enakan juga makan makanan mama di rumah atau makanan hasil olahan sendiri (sekalian belajar masak tu buat yang gadis-gadis). Selain sehat, hemat, secara tidak langsung kita juga telah membantu bumi untuk bernafas sedikit lega. Iya kan?


Cintai bumi maka ia akan mencintai kita dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik lagi. Begitu rumus sederhanyanya. Salam bumi!


Tulisan ini ditulis dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang diselenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika Info selanjutnya bisa intip link ini.  


 

ORESTILLA Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea